Mendekati Muhamad SAW dengan Nikmat

Muhammad SAW memang tokoh fenomenal. Bukan saja bagi kaum muslimin, tetapi juga untuk nonmuslim. Ia sosok multidimensi. Nabi, rasul, negarawan, politisi, panglima perang, bapak rumah tangga, dan sebagainya. Tak salah bila kehidupannya selalu relevan untuk dikagumi, dikaji, atau bahkan dikritik. Sudah ribuan judul buku dalam berbagai bahasa terbit dan beredar. Baik yang membela maupun yang mencacinya.

Adalah Ibnu Ishaq yang pertama kali membuat biografi Muhammad SAW dalam bukunya Sirah Muhammad. Karya ini pula yang sampai saat ini menjadi rujukan penulis-penulis biografi Muhammad SAW sesudahnya. Buku lain yang momental adalah Hayat al Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) buah karya Husein Haikal.

Kini hadir buku yang tak kalah menawan. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings (Abu Bakar Siraj al Din) yang merupakan edisi Bahasa Indonesia dari Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources. Salah satu kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang memikat. Sebagai seorang penyair, Lings berhasil memaparkan kehidupan Muhammad SAW dengan indah. Meski bukan tulisan sastra, Lings berhasil memikat pembaca untuk menyelesaikan buku setebal 671 halaman ini.

Tentu saja pembaca bakal menemukan banyak informasi baru dan mengagetkan yang tidak ada pada buku lain. Misalnya, kakek Rasulullah SAW, yang bernama Abdul Muthalib, dalam penemuan Lings bukan langsung keturunan dari Nabi Ibrahim yang berada di Mekah. Namun, ia berasal dari Madinah yang aslinya bernama Syaibah. Ia merupakan anak Hisyam (kakek buyut Muhammad SAW) dari istri keempatnya bernama Salma yang tinggal di Madinah. Tepatnya, Salma merupakan wanita berpengaruh di suku Khazraj, salah satu suku besar bersama suku Aus di Madinah (halaman 16-23). Sedangkan Muthalib (Abdul Muthalib) merupakan saudara kandung dari Hasyim. Temuan Lings ini sangat berbeda dengan buku-buku sejarah Muhammad SAW yang saat ini beredar, bahwa Abdul Muthalib adalah kakek langsung atau ayah dari Abdullah, bapak Muhammad SAW.
Masih banyak temuan penulis yang meninggal 12 Mei 2005 lalu ini menyimpang dari “kebenaran umum”.

Melalui buku ini, Lings meletakkan tokoh Muhammad SAW benar-benar unik. Didasarkan kepada sumber-sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan 9 masehi, Lings mendekati dan mereportase kata-kata dari orang-orang yang mendengar dari Muhammad SAW dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Penulis mampu menghadirkan Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan keagungannya. Karena itu, pembaca, baik yang sudah akrab atau belum dengan sosok Muhammad, akan merasakan kenikmatan ketika membaca karya ini.

Buku ini terpilih sebagai biografi terbaik dalam Bahasa Inggris pada Sirah Nasional di Islamabad, Pakistan, 1983. Sejak itu, karya ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, Belanda, Urdu, Tamil, dan sekarang Indonesia. Bahkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak begitu terpesona dengan buku ini. Ia pun menganugerahkan Lings sebuah bintang kehormatan.
Lahir di Lancashire, Amerika Serikat, 24 Januari 1909. Ketertarikan terhadap Islam bermula ketika berkunjung ke Mesir di 1940 untuk menemui temannya yang menjadi dosen di Universitas Kairo. Sayangnya, ia tidak bertemu temannya itu sebab temannya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari mengganti posisi temannya. Ia pun menerimanya. Setelah mempelajari Islam melalui tasawuf Syadhliliyyah, dia menetapkan hati untuk memeluk Islam. Ia pun mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj al Din.

“Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair,” kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi. (Dudi Sabil Iskandar/Koran Jakarta).

KUTIPAN:
"Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair," kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi.
Ditulis oleh: Dudi Iskandar (Koran Jakarta)

dibaca oleh: 1868 pengunjung