Menyingkap Kepribadian Muhammad

Biografi tentang Muhammad telah banyak ditulis. Namun, selalu ada yang memikat kita ketika sudut pandang penulis memberikan perspektif berbeda dengan penulis sebelumnya. Tariq Ramadan dalam bukunya, In the Footsteps of the Prophet: Lesson from the Life of Muhammad (Oxford University Press, New York, 2007) ini menghadirkan wajah Islam di Eropa yang moderat bahkan yang bebas prasangka. Begitulah pendapat sejumlah kalangan tentang pemikir muslim yang karismatis Tariq Ramadan.

Ada catatan menarik tentang Tariq Ramadan, yang bukunya itu kini bisa kita nikmati dalam bahasa Indonesia. Di mata kawula muda muslim yang tinggal di kota pinggiran Prancis, pemikir berdarah Mesir-Swiss ini, merupakan alternatif moderat bagi fundamentalisme kaum salafi. Memang tampaknya Tariq Ramadan merupakan lawan dari aliran radikal salafi, yang menjauhi kehidupan dunia barat dan tidak mengakui bentuk hukum apapun kecuali syariat Islam. Ramadan berpendapat, orang Islam seharusnya tidak mengurung diri di pemukiman gheto, namun justru harus berpartisipasi dalam masyarakat Eropa. Jumlah muslim di Eropa saat ini mencapai sekitar 15 juta orang. Karena itu tibalah sudah saatnya bagi orang Islam untuk turut memikul tanggung jawab sebagai warga sipil dan menyalurkan sumbangan positif bagi masyarakat Eropa.

Di samping bakatnya sebagai pembicara publik, Ramadan juga memiliki karisma berkat leluhurnya. Ia adalah cucu Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, gerakan politik Islam terpenting di dunia Arab. Ramadan dibesarkan di Jenewa, Swiss. Ia mulai menjadi aktivis muslim awal tahun 1990-an. Pesannya tentang Islam moderen disambut antusias oleh kawula muda muslim di Prancis dan terus melebar ke bagian Eropa lainnya. Ramadan menulis pula banyak artikel dan buku, namun yang terlaris adalah kasetnya yang sudah ribuan terjual. Sejak peristiwa 11 September 2001, Ramadan juga sering tampil di media barat dalam pelbagai debat publik mengenai Islam.

Dalam pandangan Tariq Ramadan, orang Islam bisa hidup sebagai seorang muslim dan sekaligus menjadi warga negara Eropa. Tidaklah mustahil bagi seorang muslim yang saleh untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan demokrasi liberal di Eropa. Tetapi untuk dapat berpartisipasi orang Islam harus menafsirkan ulang agamanya dalam konteks baru. Islam Eropa moderen harus dikembangkan dengan memisahkan prinsip-prinsip hakiki Islam dari semua tradisi negara asal dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam keadaan baru di Eropa. “Muhammad mampu mengungkapkan cinta dan menerbarkannya di sekelilingnya”. (hlm 404).

Dalam pandangan Tariq Ramadan, Muhammad adalah seorang begawan yang ajaran-ajarannya dipelajari, tuntutannya diikuti, teladannya ditiru, dan, di atas segalanya, beliau juga manusia pilihan yang perkataan, perbuatan dan diamnya menjadi bahan renungan (hlm 403)

Tariq Ramadan sendiri juga menjauhi seruan kakeknya untuk mendirikan negara Islam dan menerapkan hukum Islam. Dengan hidup di negara barat maka kaum muslim terikat kontrak moral dan sosial yang mewajibkan mereka menghormati hukum di negara itu. Dan hal itu tidak sulit, karena ‘UUD sekuler Eropa tidak menghalangi orang muslim menjalankan segala bentuk keagamaannya.’
Tetapi ada juga yang mencurigainya dan menuduhnya memiliki agenda terselubung yang radikal. “Ramadan memang moderen, tetapi tidak semoderen seperti yang dikehendaki beberapa kalangan,” tulis Michel Hoebink, seorang kolumnis di Belanda.

Kendati ada kesan Tariq Ramadan menyampaikan pesan yang moderen dan sekuler, namun kini ia terkenal sebagai tokoh kontroversial dalam opini publik Eropa. Di beberapa kelompok kalangan kiri ia disebut sebagai pembangun jembatan sekaligus figur penting yang mewujudkan Islam moderat atau Islam Eropa. Namun lawannya dari kubu kanan mencurigainya mempunyai agenda radikal yang terselubung. Jika Ramadan berceramah di kalangan kawula muda muslim di beberapa pinggiran kota di Prancis maka Ramadan lebih konservatif dan lebih memperlihatkan sikap anti barat, dibanding jika ia berhadapan dengan wartawan barat.

Kontroversi seputar Tariq Ramadan sebagian disebabkan oleh kesan bahwa Tariq Ramadan tidaklah semoderen seperti yang diharapkan. Dibanding dengan kaum fundamentalis atau Islam tradisional, Tariq Ramadan memang merupakan lambang modernisasi. Namun bagi alur sekuler Eropa, Tariq Ramadan sama saja tradisionalnya seperti Katolik konservatif. Dengan ungkapannya yang liberal dan moderat, Tariq Ramadan tergolong pemikir reformasi Islam. Seperti halnya kaum reformis di dunia Islam maka Ramadan ingin mewujudkan rekonsiliasi antara Islam dan dunia modern dengan metode tradisional ijtihad.

Pemikir modern yang lebih radikal seperti cendekiawan Mesir Nasr Hamid Abu Zayd (yang tahun lalu dicekal berbicara di Indonesia) mengatakan bahwa reformasi hanya akan terjadi jika metode ijtihad itu kembali didiskusikan. Para pemikir itu menekankan betapa pentingnya memandang Al-Quran sebagai teks historis. Menurut mereka itu adalah satu-satunya cara untuk membebaskan kaum muslimin dari anggapan bahwa mereka wajib menerapkan sejumlah ayat Al-Quran yang sulit disesuaikan dengan hak asasi manusia moderen saat ini. Seperti misalnya ayat-ayat tentang hukuman fisik bagi pelaku kejahatan seperti pencurian atau zina.

Namun Tariq Ramadan justru menolak pendekatan Al-Quran sebagai teks historis, karena itu menjadikan Al-Quran sebagai teks buatan manusia. Ia menempatkan pendukung pendekatan tersebut di luar umat muslim:
“Saya yakin bahwa Al-Quran merupakan firman abadi Tuhan dan dengan daya pikir saya harus dapat menemukan cara untuk menyesuaikan teks itu dengan situasi tertentu. Namun pendapat yang mengatakan Al-Quran sebagai ucapan Muhamad, kata-kata manusia, menurut saya adalah suatu bentuk kapitulasi total terhadap budaya Eropa yang secara berlebihan mengutamakan kemajuan dan individualisme. Tentu saja pendapat tersebut harus tetap dilibatkan dalam diskusi umat Islam. Namun menurut saya dalam hal ini kami seharusnya bersikap radikal: pendapat itu bukanlah pendapat muslim dan tidak Islami.”

Namun Tariq Ramadan mengakui, beberapa peraturan hukum di Al-Quran menimbulkan masalah. Untuk itu ia menemukan jalan keluar yang sesuai dengan metode tradisional. Pada Maret 2005 di sejumlah koran barat ia mengimbau muslim agar segera menangguhkan hukum Islam. Penyiksaan fisik menurutnya tidak bisa diterima oleh masyarakat barat, sementara di kalangan muslim sendiri terjadi pertentangan soal itu: apakah dan kapan hukuman itu harus diterapkan. Karena itu penerapan hukum tersebut harus ditangguhkan sampai para cendekiawan muslim mencapai konsensus dalam hal ini.

Ketika ditanya tentang sikapnya yang lumayan konservatif, Tariq Ramadan mengatakan bahwa gerak geriknya dalam kerangka dunia tradisional memperkuat kredibilitasnya di kalangan luas umat Islam. Dengan demikian, tambahnya, ia dapat lebih mudah mewujudkan reformasi dibanding tokoh modern radikal seperti Nasr Abu Zayd.

Itulah Tariq Ramadan, menghadirkan wajah Islam yang cukup memesona di Eropa. Agaknya dengan membaca Muhammad Rasul Zaman Kita, kita diajak menelusuri perjalanan hidup Rasul penutup zaman ini bahwa ajaran-ajaran Islam tidaklah hendak mencederai perkembangan pemikiran dan tetap selaras dengan zaman kita. Dan tafsir penulisan tentang sosok Muhammad di tangan Tariq Ramadan memberikan jalan berbeda guna memahami pelbagai situasi, sikap atau perkataan yang akan menyingkap kepribadian Muhammad.
Pesona Tariq Ramadan dalam buku ini, merupakan koreksi bagi mereka yang mendakwahkan ajaran atau mengadopsi ajaran Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Sebab, cucunya ini telah memberikan jalan lain untuk memberikan pemahaman tentang Islam di tengah-tengah masyarakat yang bukan Islam dengan penuh keteduhan. Ia menulis dengan penuh penghayatan, meski tidak semendail sisi-sisi kisah beberapa kejadian sebagaimana pernah digambarkan Muhammad Husain Heikal, yang penuh catatan mengagumkan itu. []

Riadi Ngasiran, wartawan Duta Masyarakat.

dibaca oleh: 2729 pengunjung