Benjamin Graham Mencetak Untung di Masa Krisis

Graham meletakkan dasar strategi investasi berdasarkan analisis sekuritas, fundamental dan teori investasi nilai.

Jika pasar modal modern mengenal Warren Buffett sebagai investor paling legendaris, orang tak boleh melupakan sang mentor. Ia adalah Benjamin Graham, bapak strategi investasi nilai ( value investing). Boleh dibilang, Graham adalah bapak investasi pasar modal modern.

Graham (1894-1976) meletakkan dasar strategi investasi yang berdasarkan analisis sekuritas, analisis fundamental dan teori investasi nilai. Lebih dari 20 tahun setelah kematiannya, ia tetap memiliki jutaan pengikut setia. Pemikirannya mempengaruhi investor-investor terbesar sepanjang sejarah: Warren Buffett, Mario Gabelli, Michael Price, John Bogle dan John Neff.

Dalam investasi di pasar saham pada periode 1929-1956, ia mampu mencapai return rata-rata 17 persen per tahun. Prestasi yang luar biasa, mengingat periode 1929-1945 adalah tahun-tahun tersulit dalam sejarah ekonomi. Dalam periode itu terjadi Depresi Besar (Great Depression), termasuk crash pasar saham tahun 1929.

Ben Graham berpendapat, perbedaan antara investasi dan spekulasi merupakan salah satu yang terpenting yang sering kali digunakan secara salah oleh para profesional keuangan. Ia merasa investor seharusnya berkonsentrasi pada saham-saham yang harganya di bawah nilai perusahaan berdasarkan posisi keuangan perusahaan, bukan pandangan ekonomi atau pun pasar saham.

Graham dan para pengikutnya, termasuk Buffett dan Lynch, secara konsisten membuktikan bahwa dengan menerapkan prinsip menyeleksi kelompok saham yang berbeda dan menggunakan pendekatan jangka panjang, investor membedakan diri dari para spekulator, dan pada akhirnya akan memperoleh keuntungan. Ia menuliskan prinsip-prinsip value-oriented ini ke dalam dua bukunya yang tak lekang oleh zaman: 'Security Analysis' dan 'Intelligent Investor'. Kedua buku best seller ini menjelaskan bagaimana investor bisa melihat nilai intrinsik suatu saham atau obligasi melalui riset fundamental yang ekstensif dan analisis pembukuan keuangan.

Berikut sekilas tentang filosofi investasi Graham:

*. Cari 'Margin of Safety'
Salah satu konsep kunci yang diajarkan Graham dan tetap menjadi referensi saat ini oleh Buffett dan investor lain, adalah 'Margin of Safety'. Arti dasar dari istilah ini adalah bahwa investor seharusnya hanya membeli saham yang aman, jika mungkin di bawah nilai intrinsiknya jika perusahaan dijual saat ini.

Poin kunci untuk diingat investor adalah bahwa mereka seharusnya berinvestasi di suatu perusahaan saat sahamnya diperdagangkan di bawah nilai perusahaan di pasar. Investor yang tidak memperhatikan valuasi dan membayar lebih dari semestinya, mereka bekerja dengan zero margin of safety. Bahkan jika perusahaan berjalan baik, investor semacam ini tetap bisa rugi. Graham mengumpulkan kekayaannya dengan membeli perusahaan-perusahaan yang terus menerus terpukul dan diabaikan investor sehingga dijual lebih rendah daripada nilai modal kerjanya (aset saat ini dikurangi kewajiban saat ini). Ia mengembangkan model Net Current Asset Value (NCAV) untuk menentukan apakah perusahaan cukup berharga dibandingkan harga pasarnya. Formula NCAV ini mengurangkan seluruh kewajiban, termasuk utang jangka pendek dan saham preferen, dari neraca aktiva lancar perusahaan.

*. Emiten Besar dan Penjualan Bagus
Menurut Graham, perusahaan yang lebih besar memiliki risiko lebih kecil. Dasar pemikirannya adalah bahwa perusahaan kecil lebih rentan menghadapi guncangan perekonomian, sehingga lebih baik berinvestasi pada perusahaan besar. Seperti diketahui, Graham adalah investor aktif pada masa Depresi Besar, di mana ia melihat ratusan perusahaan kecil yang tengah berkembang berguguran. Berdasarkan observasinya, ia menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan basis pelanggan lebih bervariasi dan memiliki revenue lebih besar memiliki peluang survive saat perekonomian jatuh.

*. Emiten yang Bayar Dividen
Graham yakin bahwa investor konservatif seharusnya hanya mempertimbangkan emiten-emiten yang setiap tahun memberi dividen untuk sedikitnya 20 tahun. Alasannya, dividen merupakan isyarat bahwa perusahaan profitable (bukankah dividen dibayarkan dari laba?) dan bahwa mereka menawarkan return kepada investor meskipun sahamnya tidak perform.

*. Emiten dengan Keuangan Kuat
Selalu waspada terhadap likuiditas, Graham mencari perusahaan-perusahaan yang nilai asetnya saat ini di atas seluruh utangnya saat ini dan utang jangka panjangnya. Perusahaan dengan akses besar ke kas (likuiditas) pada umumnya tidak seberisiko mereka dengan neraca kas yang rendah dan beban utang besar.

*. Emiten dengan Pendapatan Sustainable
Graham selalu mencari perusahaan dengan kecenderungan pendapatan yang meningkat dan stabil. Ia yakin bahwa pendapatan yang meningkat secara stabil akan membawa ke kinerja harga saham yang meningkat pula.

*. Selalu Awas terhadap Variasi Harga
Graham mencari prusahaan-perusahaan dengan price earnings ratio (PER) -- perbandingan harga saham dengan laba bersih -- yang di bawah rata-rata historikal mereka. Ia juga berhati-hati melihat price book value (PBV). Dalam kenyataannya, ia tidak akan membeli saham kecuali jika saham ini ditransaksikan kurang dari 1,2 nilai bukunya (book value -- total aset dikurangi total kewajiban) per saham. Misalnya, suatu perusahaan dengan aset senilai Rp 1 miliar dan utang Rp 700 juta memiliki nilai buku Rp 300 juta. Jika perusahaan memiliki 10 juta outstanding saham, dan nilai buku per sahamnya Rp 30, Graham tidak akan membayar lebih tinggi dari Rp 36 per saham (1,2 kali nilai buku per saham).

Pada masa kini, saat informasi begitu banyak, ketika investasi jangka pendek-day trading dan perilaku buruk para penasihat keuangan, investor yang sabar dan mengikuti saran Graham akan memperoleh keuntungan. Ini yang terjadi pada Buffett dan sejumlah investor terkenal lain.
n tim BEJ


Mudah dan Menguntungkan
Ada satu artikel yang ditulis Benjamin Graham tahun 1976. Judulnya The Simplest Way to Select Bargain Stocks. Tulisan yang menarik dan jadi panduan penting bagi investor. Saat itu, Graham menemukan bahwa metodanya telah menawarkan return rata-rata 15 persen per tahun selama 50 tahun pertama. Cara sederhana Graham dibangun berdasarkan dua hukum dasar: Saham seharusnya murah dan relatif aman.

Murah
Graham berkukuh bahwa setiap saham yang dibelinya harus memberi keuntungan sedikitnya dua kali keuntungan rata-rata obligasi korporasi berperingkat AAA. Sebagai contoh, awal September 2005 yield obligasi korporasi Amerika Serikat peringkat AAA berjangka 20 tahun (di Indonesia sulit memperoleh contoh seperti itu) adalah 4,9 persen. Berdasarkan prinsip Graham, investor seharusnya hanya memilih saham yang memberi keuntungan 9,8 persen atau lebih. Bagaimana Anda menghitung pendapatan keuntungan suatu saham? Ini adalah kebalikan dari price earnings ratio. Cara termudah untuk mengkonversikan suatu earning yield ke P/E ratio adalah membagi 100. Jadi, saham dengan earning yield 9,8 persen atau lebih sama dengan saham yang memiliki P/E ratio 10,2 atau kurang.

Aman
Graham juga berkukuh perusahaan yang dipilihnya harus memiliki utang kecil. Ini membuat perusahaan kurang berisiko dibandingkan perusahaan yang berutang besar. Ia menangkap saham-saham dengan leverage ratio (perbandingan total aset dengan ekuitas pemegang saham) dua atau kurang.
Majalah MoneySense edisi Oktober 2005 menampilkan artikel menarik tentang pendekatan Graham dalam memilih saham ini. Ditulis di sana, pada Februari 2004 saat MoneySense menawarkan daftar saham-saham yang sesuai dengan kriteria Graham, ternyata saham-saham itu mencetak return 31,3 persen dalam 20 bulan. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama indeks Standard & Poor's 500 (S&P 500) hanya naik 13,1 persen. Artinya saham-saham yang sesuai kriteria Graham memukul pasar dengan 18,2 poin persentase.
tim BEJ.

dibaca oleh: 3841 pengunjung