Menggenapi 99 Nama Allah

Alkisah, suatu saat ada seseorang yang datang ke Abu Yazid al-Busthami dengan membawa sebuah pertanyaan yang secara spiritual begitu signifikan: "Guru, ajarkanlah kepadaku ismullah al-a’zham yang sangat ampuh itu, sehingga kalau aku berdoa dengannya, maka segala permohonanku akan terkabul."

Waktu itu, sufi agung kelahiran Bustham tersebut sedang menggendong seorang bayi. Dihadapkan kepada pertanyaan itu, dia hanya diam saja. Akan tetapi, dengan izin dan amr dari Allah, si bayi itu berujar memberikan jawaban sembari memegang jenggot Abu Yazid: "Ini lho, pemilik jenggot inilah ismullah al-a’zham. Berdoalah dengan perantara orang ini, maka doamu seketika akan di-ijabah-i oleh Allah."

Apakah ismullah al-a’zham itu? Ia adalah nama Allah yang keseratus sebagai penyempurna dari 99 nama-Nya. Dalam istilah Pak Muh --panggilan Muhammad Zuhri, penulis buku ini-- itulah Sebutir Mata Tasbih yang lepas dari untaiannya (hlm. 20).

Ungkapan sufistik Pak Muh di atas itu bisa dimaknai dengan (minimal) dua perspektif. Pertama, idiom lepas dalam kalimatnya itu bisa diinterpretasikan dengan adanya ketidaksamaan jenis antara nama Allah yang keseratus dengan 99 nama sebelumnya. Artinya, kalau ke-99 nama Allah itu seluruhnya merupakan sebutan yang melekat pada hadirat-Nya, maka nama-Nya yang keseratus sama sekali bukanlah lafal dalam pemahamannya yang harfiyyah. Ia menunjuk kepada realitas spiritual. Itulah sebabnya mengapa dalam kisah di atas si bayi dalam gendongan itu langsung menyebut Abu Yazid sebagai ismullah al-a’zham.

Kedua, idiom lepas itu juga mengandaikan bahwa pada dasarnya manusia sebagai makhluk ruhani memiliki tempat yang mulia di antara jejeran nama-nama Allah yang 99. Akan tetapi, karena manusia mesti diuji oleh jarak dan kesetiaan, oleh bencana dan keberuntungan, oleh hidup dan kematian, maka manusia "sejenak" mesti ditakdirkan lepas atau "jauh" dari 99 untaian mata tasbih itu.

Lepasnya manusia untuk "sementara waktu" dari 99 untaian mata tasbih Ilahi itu sepenuhnya merupakan realisasi dari "rekayasa-Nya" semata. Dengan demikian dapat dibuktikan siapa di antara manusia yang sanggup menempati posisi azaliyah-nya yang mulia dan siapa pula yang memilih terjerembab ke dalam dengus nafsunya sendiri.

Agar sukses menempatkan diri pada posisi yang terhormat secara ruhani itu, siapa pun mesti menggunakan aset transendental yang berupa 99 nama Allah untuk senantiasa diproyeksikan ke dalam dirinya. Yakni, bagaimana karakter-karakter asmaul husna itu digumpalkan dengan keyakinan dan diejawantahkan dengan perilaku, baik dalam kehidupan vertikal maupun utamanya dalam kehidupan horizontal. Proses dan proyeksi suci inilah yang melandasi munculnya sabda Nabi Muhammad Saw kepada ummatnya: "Berakhlaklah kalian sebagaimana akhlak Allah."

Berakhlak sebagaimana akhlak Allah adalah menyelami sejumlah nama, sifat, dan perbuatan Allah dengan segenap kesungguhan dan ketulusan. Nama-nama Allah yang merupakan atribut paling mulia itu sama sekali bukanlah stempel arbitrer sebagaimana yang disandang oleh kebanyakan anasir yang mengapung di alam raya. Nama-nama-Nya adalah sebutan yang memantul dari berbagai "realitas-Nya" sendiri. Oleh karena itu, Dia berkenan untuk diseru oleh siapa pun dengan segenap nama-Nya. Dengan kalimat lain, nama-nama Allah adalah jalan bagi ummat manusia yang menyambung secara langsung dengan hadirat-Nya. Itulah hablullah al-matin yang senantiasa menjadi pegangan orang-orang beriman.

Sedangkan sifat-sifat Allah menunjuk kepada dimensi-dimensi ontologis yang bersemayam di dalam nama-nama-Nya. Sifat-sifat Allah itu menyeruak dan menyuguhkan semerbak bagi kehidupan spiritual di kalangan kaum salik. Siapa pun yang telah diperkenankan mencecap wangi Ilahi itu tidak akan pernah diperdaya oleh kegandrungan terhadap apa pun yang jorok dan sia-sia.

Sementara perbuatan-perbuatan Allah merupakan implementasi dari kuasa, kehendak, dan cinta-Nya. Segala sesuatu yang mengejawantah oleh perbuatan-Nya, maka wajah-Nya-lah yang akan selalu bertahta di dalamnya: likulli syayin ayatun tadullu ’ala annahu ’aynuhu. Tentu saja hanya bagi siapa pun yang telah merdeka dari keterbatasan mata kepala dan sanggup menatap segala sesuatu dengan ketajaman mata hatinya.

Orang yang telah menyelam ke kedalaman nama-sifat-perbuatan Allah itu akan senantiasa menjadikan hidupnya sebagai perpanjangan tangan-Nya. Ia akan selalu menyediakan dirinya bagi kemungkinan apa pun yang sengaja diplot dan di-setting oleh Allah bagi kehidupan vertikal dan horizontal, baik secara langsung maupun melalui perantara makhluk-makhluk-Nya. Artinya, hamparan hidup orang itu adalah syahadat semata. Bukan syahadat kata-kata sebagaimana yang dengan fasih didengungkan oleh banyak orang, akan tetapi kesaksian spiritual secara terang-benderang terhadap apa pun yang terjun dari diri-Nya.

Orang semacam itulah yang disebut ismullah al-a’zham. Dengan predikat agung itu, hidupnya tidak saja kreatif dan inovatif, akan tetapi juga penuh runduk, perhatian dan kasih sayang terhadap sesama. Pergaulannya dengan dunia sosial adalah berkah dan kedamaian semata. Hidupnya adalah bukti nyata dari keagungan dan keindahan Allah itu sendiri.

Buku ini sama sekali bukanlah "karangan". Sebab, sejak jauh-jauh hari sebelum menulis buku ini, bahkan sejak puluhan tahun yang silam, Pak Muh telah mengalami keagungan dan keindahan-Nya itu dengan sangat mengagumkan. Di hadapan Pak Muh, sungguh saya telah berkali-kali mengeja kehadiran-Nya. Azhlamun nasi ila nafsihi wa afqaruhum ila rabbih. (*)

Judul Buku : Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis : Muhammad Zuhri
Penerbit : Serambi Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 215 halaman

Kuswaidi Syafi’ie, penyair dan dosen Tasawuf di PP Universitas Islam Indonesia

dibaca oleh: 5012 pengunjung