Nasehat Langit untuk Kehidupan

Di dalam gerak kehidupan, ransuman peristiwa akan senantiasa menyerta. Dinamika yang menggelayutinya pun sangat komplek. Pergerakan dari perubahan paradigma maupun pola sikap manusia juga menjadi pemicu. Lebih dari itu, perkembangan yang sedang berlangsung ini juga akan bisa mempengaruhi perikehidupan kita pada masa-masa yang akan datang. Pendek kata, kehidupan akan senantiasa menyuguhkan pelbagai pandangan atau hal yang bisa kita jadikan kacabenggala dalam keberlangsungan kehidupan itu sendiri. Pusparagam dinamika yang melingkupi dunia tersebut juga memberikan pesan tersendiri bagi kita. Dengan demikian, kehadiran buku ini sangat tepat. Pasalnya, di dalamnya berjibun kisah sekaligus nasihat penting yang bisa dijadikan pegangan, atau setidaknya sebagai referensi dalam membaca kemanusiaan dan juga kehidupan.

Perkembangan kehidupan seperti yang terjadi sekarang memang membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapinya. Pada saat yang sama, tidak sedikit kita saksikan manusia yang salah jalan justru menjauhkan dirinya dari kediriannya. Eksesnya, ia terjebak dalam tubir kehancuran. Maka dari itu, sekali lagi, kehadiran buku semakin menemukan aksentuasinya. Sebab, buku ini memuat kisah-kisah bijak yang bisa dijadikan cermin untuk menelaah kemanusian kita.

Ada nasihat bijaksana yang diwartakan dalam buku ini terkait dengan ikhlas. Disebutkan di dalam buku ini, sebagian ahli hikmah berpendapat bahwa orang yang beramal hendaknya meneladani adab beramal yang dilakukan oleh penggembala kambing. Karena, jika si penggembala kambing melakukan salat di samping gembalaannya, maka salatnya tidak pernah ingin dipuji oleh kambing-kambingnya. Demikian pula orang yang beramal, hendaknya ia tidak pernah memperhatikan pandangan manusia terhadap amalnya. Sebaliknya, ia harus mampu beramal secara konsisten, baik di kala ramai maupun sepi. Beramal tanpa mengaharapkan pujian manusia (hal. 37).

Demikianlah salah satu nasihat yang ada dalam buku ini. Sebuah nasihat yang sangat bijak. Apabila nasihat tersebut dilakukan oleh semua manusia, maka kehidupan ini akan berjalan dengan sangat baik dan harmonis. Alangkah sedihnya ketika menyaksikan fenomena yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Orang-orang justru berlomba-lomba memamerkan amalannya.

Apabila ikhlas ini menjadi spirit dalam belajar, bekerja, dan berkarya, maka kehidupan kita akan bermuara kepada kebijaksanaan. Kita akan menjadi manusia yang mampu melakukan penetrasi terhadap apa pun yang menyapa langkah jalan kita. Ikhlas menjadi senjata dalam menjaga stabilitas kemanusiaan kita yang selama ini sering dilumeri oleh egotisme-egotisme.

Tidak hanya konsep ikhlas yang ditawar-wartakan buku ini. Penulis buku ini, Syeikh Abd al-hamid al-Anquri, juga mendedahkan tentang urgensi kerja keras. Menurutnya, ikhlas, dengan berlandas pada hadis Rasulullah dan juga pendapat para ulama, merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Tidak hanya itu, dengan kerja keras, manusia akan mendapatkan banyak kemuliaan. Di antara kemuliaan itu adalah ia semakin disayangi oleh Sang Pencipta, disayangi masyarakat di sekitarnya, disayangi keluarga, dan ia juga akan mendapatkan kebahagiaan berupa hasil dari apa yang ia kerjakan selama ini.

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mengurung diri di rumah atau berdiam di masjid? Orang itu tidak bekerja sama sekali dan menunggu datangnya rezeki?" Ahmad menjawab, "Dia adalah orang bodoh. Dia tidak mendengar sabda Nabi Muhammad saw. yang menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menjadikan rezeki di bawah bayangan keterampilan tangan (hal. 80)."

Orang yang hanya duduk manis atau bersikap pasif dan mengharapkan ada rezeki menghampirinya, ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain kelelahan dari lamunan dan harapannya saja. Berdiam di masjid atau gereja saja, misalnya, dan tidak melakukan apa-apa, kemudian mengharapkan kekayaan melimpah, yang ia dapatkan bukanlah kekayaan. Sebaliknya, ia akan mendapatkan kesengsaraan. Sangat mungkin ia juga akan mengalami depresi hebat. Akibatnya, sangat mungkin pula ia akan menjadi pesakitan, dan bahkan ia bisa meninggal karenanya.

Tantangan yang kita hadapi saat ini sangat besar serta membutuhkan energi banyak pula. Tidak hanya itu, pada masa yang akan datang, tantangan-tantangan tersebut akan semakin berat dan beragam, yang tentunya juga membutuhkan tenaga yang lebih besar pula. Pada titik yang demikian itulah, buku ini menemukan momentumnya.

Secara kemasan, buku ini terbilang sesuai dengan selera pembaca pada umumnya. Buku ini tidak terlalu tebal. Cover dan ilustrasinya juga elegan dan bersahaja. Semuanya itu sangat memudahkan pembaca untuk segera melahap-habis buku ini dengan sekejap, namun tetap bisa menangkap semburat cahaya makna yang menyembul darinya.

Kisah-kisah dan nasihat-nasihat yang terdapat dalam buku ini merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan sangat akrab dengan kita, khususnya bagi umat Islam. Artinya, penyajian buku ini bisa dijadikan referensi semua orang. Tangkupan nasihat dan kisah dalam buku ini bisa dijadikan tolok ukur oleh siapa pun, dari agama dan kelompok mana pun.

Dengan hadirnya buku ini, semoga bisa ikut berperan dalam merubah negara-bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Akan tetapi dan ini yang paling penting, yaitu semoga ransuman kisah dan nasihat di buku ini bisa kita jadikan bahan perenungan diri untuk melakukan transfigurasi: menjadi pribadi yang tangguh dan profesional, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agung agama dan ketuhanan. Semoga.

Judul Buku: 40 Nasihat Langit
Penulis: Abd al-Hamid al-Anquri
Penerjemah: Usman Sya'roni
Penerbit: Serambi
Cetakan I: Agustus, 2007
Tebal: 217 halaman
Oleh: Asef Umar Fakhruddin, koordinator Ruang Bening Yogyakarta

dibaca oleh: 2980 pengunjung