Hidup Bukan Permainan Kelamin

Oleh: Emmy Kuswandari
Judul Buku: Middlesex (Pencarian Jati Diri Seorang Manusia Berkelamin Ganda)
Penulis : Jeffrey Eugenides
Penerjemah : Berliani M Nugrahani
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : Juni , 2007
Tebal : 810 halaman

"Aku terlahir dua kali, pertama, sebagai seorang bayi perempuan, pada hari tanpa kabut di Detroit, Januari 1960, lalu sekali lagi, sebagai seorang remaja laki-laki, di sebuah ruang gawat darurat di dekat Petoskey, Michigan, pada Agustus 1974."
Jeffrey Eugenides menuliskan baris pertama novel Middlesex yang ditulisnya selama sembilan tahun. Berkisah dengan Calliope Stephanides, yang dilahirkan sebagai seorang perempuan, namun 14 tahun kemudian, ia menjadi Cal, seorang remaja laki-laki.
Sendok perak sang nenek, Desdemona, berayun di atas perut Tessie. Rekor Desdemona tidak terkalahkan. Ia memiliki rekor sempurna menebak jenis kelamin semua bayi teman-temannya di gereja. Tanpa khawatir, ia pun menebak jenis kelamin bayi yang dikandung anak perempuannya. Setelah diam sejenak, sendok perak yang jadi mediumnya bergerak ke utara dan selatan. Yang berarti bayi itu adalah seorang laki-laki.
Tapi Calliope terlahir sebagai perempuan. Jenis kelamin yang membahagiakan mamanya, karena anak pertamanya sudah seorang laki-laki, Chapter Eleven. Sepanjangan empat belas tahun, Callie benar-benar diperlakukan sebagai seorang perempuan, karena memang demikianlah adanya. Dokter Phil yang menangani kelahiran Calliope tidak menyadari ada yang salah dengan kelamin bayi mungil, empat belas tahun yang lalu.
Meskipun begitu, Tessie selalu berdoa agar Callie segera mendapat menstruasi, seperti galibnya gadis normal lainnya. Alih-alih mendapatkan tamu bulanan, dada Callie pun rata.
Di masa puber, bra mininya ia sumpal dengan tisu. Di masa ini pulalah, rasa aneh menyelinap dalam benak dan rasanya. Ia tertarik pada Objek, begitu ia menamai teman wanita yang disukainya. Gen lelakinya meledak-ledak ingin keluar dari tubuhnya.
Crocus yang menyerupai penis kecil menyembul dari vulvanya. Kadang dua sentimeter, kadang lima sendiri meter. Dan itu terjadi dalam perjalanan panjangnya "melintasi ranjang" bersama Objek. Callie tahu crocusnya kadang mengganggu, terlebih di tempat ganti pakaian, kamar mandi dan kolam renang. Untungnya, baju renangnya menjadi penyelamatnya.
Pengetahuannya tentang crocus ini ia simpan baik-baik, seorang diri. Hingga sebuah kecelakaan menimpanya. Dan ruang gawat darurat pun menemukan kejanggalan itu.
Dr Luce, seorang ahli terkemuka di dunia hermaproditisme pada manusia, menanganinya. Kesimpulannya, Callie memang seorang wanita, namun karena kekuraangan enzim 5-alphareductase, tanda-tanda sekunder wanita tidak muncul.
Di sinilah sebetulnya pertarungan psikologis dimulai. Callie harus menyembunyikan baik-baik rasa sukanya pada teman perempuannya. Termasuk ketika disodori film percintaan pun, ia tetap mengatakan, laki-laki lebih menarik. Luce pun merekomendasikan "operasi kecil" dan suntikan hormon untuk mengembalikan putri kecil Tessie dalam pelukan keluarga. Dokter memutuskan Callie tetap menjadi seorang perempuan, sebagaimana ia diperlakukan selama ini.
Tetapi tidak bagi Callie. Ia memutuskan pergi meninggalkan operasi yang tinggal sejenak menantinya. Ia memilih untuk tidak lagi menjadi perempuan. Ia pun menanggalkan rambut panjang yang selalu menutupi mukanya, berganti dengan model laki-laki, memakai setelan laki-laki dan pergi menggelandang berbulan-bulan, sebagai seorang laki-laki.
Jeffrey Eugenides melakukan pekerjaan besar dengan memotret ironi perjalanan panjang pilihan kelamin ini. Evolusi Callie menjadi Cal tidak mendadak. Perjalanan ini merupakan perjalanan rumit yang dibawa kakek nenet Callie melintasi benua, mencari kehidupan baru, dari Yunani ke Amerika.
Kisahnya memang berawal dari tahun 1922, ketika neneknya, Desdemona dan kakeknya Lefty masih berada di tebing Gunung Olympus di Asia Minor Yunani kala itu.
Membaca kisah Calliope ini seolah membaca kisah nyata dari seseorang yang berkelamin ganda. Eugenides bertutur sangat hidup. Ia begitu sabar mengurai satu gen ke gen yang lain sebelum sampai pada kisah Cal. Tiga generasi ia sampaikan dengan detail, dalam energi sastra yang membuat orang berenang di dalamnya. Penokohan dilakukan sama kuatnya, satu dengan yang lain, meski belasan tokoh hadir di dalamnya.
Klimak sebetulnya baru dimulai Eugenides pada bab empat, ketika sang tokoh memilih menjadi dirinya sendiri, seorang laki-laki, pada usia 14 tahun. Lepas dari tokoh yang kelihatan sangat dewasa dengan pilihan dan arti kebahagiaan yang dijejalkan euginides, novel ini sangat menarik dan menyentuh. Tawa, kejenakaan dan tangis terjalin dengan sangat manusiawi.
Dari Eugenides kita bisa belajar, jenis kelamin memang bukan segala-galanya, yang paling penting adalah bagaimana memaknai kebahagiaan itu lebur dalam pribadi kita.
Sembilan tahun bukan perjalanan pendek untuk novel setebal 810 halaman ini. Energi luar biasa yang dicurahkan Eugenides untuk "anak sastranya" ini. Sangat layak ia memenangkan Pultiltzer Prize pada tahun 2003. Menjadi penghargaan pula ketika Middlesex masuk dalam Book Club Oprah. Jaminan sukses panjang bagi karya sastra ini.

dibaca oleh: 1366 pengunjung