Menapaktilasi Ziarah Kemanusiaan

Judul buku : Ziarah dan Wali di Dunia Islam
Judul Asli : Le culte des saints dans le monde musulman
Penulis : Henri Chambert-Loir, Claude Guillot, dkk.
Penerjemah : Jean Couteau, dkk.
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan I : April 2007
Tebal : 588 halaman

"Kuburan (adalah) suatu lembaga tempat umat manusia memboroskan sentimen dan harta bendanya. Lembaga, dimana maut dipuja secara berlebih-lebihan." (Ziarah, Iwan Simatupang).

Satir di atas mungkin berlaku bagi perilaku umum manusia dalam mengenang kehidupan dan menyikapi kematian. Kuburan, dalam banyak kasus, menjadi simbol dari gengsi keluarga dan keangkuhan yang menjurus kepada keengganan melepas status si mendiang selama hidup. Seakan kematian itu bagian dari pelesir, dan kebanggaan hidup adalah tiketnya. Keangkuhan, yang tak lain hanyalah topeng dari keputusasaan, menunjukkan ketidakmampuan manusia dalam memahami dan menghadapi sang maut.

Namun, jika kita membaca lembar demi lembar buku Ziarah dan Wali di Dunia Islam, kita akan menemukan sebuah pengecualian. Selama berabad-abad di kalangan umat Islam ada orang-orang khusus, yaitu para wali, yang walaupun sudah lama meninggal tetap dianggap dan diperlakukan layaknya mereka yang masih hidup. Dari waktu ke waktu, makam mereka diziarahi. Para peziarah dari berbagai latar belakang, status, dan kepentingan datang berdoa dengan perantara kedekatan sang wali kepada Allah, sang Pemilik maut. Ziarah ini pada perkembangannya menjadi semacam ritual tersendiri yang otonom dari ritual-ritual wajib Islam.

Bagi para penulis buku ini, fenomena itu sangat unik dan menarik. Bukankah Islam telah mengajarkan salat, zakat, puasa, dan haji sebagai medium yang menghubungkan manusia dengan Tuhan? Kenapa umat Islam masih membuat medium lain yang tidak ada tuntunannya dalam Alquran dan Hadits? Kebutuhan apakah yang melandasinya? Adakah ritual ini merupakan hasil persinggungan Islam dengan tradisi Kristen dan Yahudi? Pertanyaan-pertanyaan ini pula yang selama berabad-abad menjadikan ziarah kubur dan konsep wali sebagai ajang polemik dan pertikaian tak berkesudahan di kalangan para ahli hukum Islam (fuqaha), khususnya mazhab Hambali yang diteruskan oleh kaum Wahabi, dengan kaum sufi.

Menurut Michel Chodkiewicz, jawaban dari semua persoalan di atas terletak pada konsep wali. Wali dalam Islam berbeda dengan saint atau santo dalam Katolik. Alquran dan Hadits tidak dengan eksplisit dan rinci menyebutkan kriteria kewalian (walayah) dan hal ini menyebabkan adanya kemungkinan penafsiran yang beraneka ragam. Berbeda dengan Katolik yang memiliki lembaga ke-paus-an yang berwenang penuh menetapkan santo, Islam memberikan kebebasan kepada para ahli agama untuk menyusun kriteria-kriteria kewalian. Inilah pangkal dari semua polemik tentang wali.

Lebih lanjut, profesor studi Islam asal Prancis ini melihat bahwa polemik berkepanjangan tentang wali bukanlah hal yang prinsipil. Setelah melalui penelitian yang mendalam, Chodkiewicz menyimpulkan bahwa tokoh-tokoh utama penentang kewalian seperti Ibnu al-Jauzi dan Ibnu Taymiyah sebenarnya tidak menolak konsep wali, karomah, kemampuan penglihatan ghaib (mukasyafah), dan jalan spiritual para wali. Di dalam buku-buku Ibnu Taymiyah bahkan terdapat banyak pujian kepada wali-wali agung seperti Abdul Qadir al-Jilani, Hasan al-Bashri, Junaid al-Baghdadi, dan banyak wali lainnya. Yang ditentang oleh Ibnu Taymiyah hanyalah ritual ziarah dan tawassul (wali sebagai perantara), karena tidak ada tuntunannya dalam Alquran dan Hadits.

Justru yang lebih dicermati oleh Chodkiewicz adalah gerakan kaum Wahabi. Sebab, kaum Wahabi sebenarnya telah melakukan pembelokan doktrinal dan historis atas pemikiran Ibnu Taymiyah. Tidak seperti Ibnu Taymiyah yang hanya menyerang segi-segi tertentu konsep wali dan praktik sufi yang dianggapnya kurang sehat, kaum Wahabi mengampanyekan penumpasan semua aliran dan tradisi sufi serta berbagai ritual yang berhubungan dengan kewalian. Sejak menjadi penguasa di Arab Saudi, kaum Wahabi dengan simultan menghancurkan makam-makam yang telah dijadikan tempat ziarah. Bahkan, mereka melarang keras orang berdoa terlalu lama di dekat makam Nabi Muhammad di Madinah. Lebih dari itu, melalui berbagai selebaran dan buku panduan yang disebar gratis ke seluruh penjuru dunia Islam, secara bertahap kaum Wahabi berusaha menghapus dari benak umat Islam semua kenangan tentang para wali.

Luar biasanya, berbagai upaya yang telah dilakukan para penentang itu tidak menjadikan ziarah wali surut. Bahkan dalam banyak peristiwa, ritual ini turut serta menggerakkan roda politik dan perubahan sosial. Sossie Andezian, peneliti senior di CNRS Paris mencatat bagaimana pengaruh ziarah wali terhadap gerakan tarekat Sanusiyah di Afrika Utara. Begitu juga halnya dengan pengaruh tarekat Muridiyah terhadap kehidupan rakyat Senegal yang berpusat di Touba, tempat ziarah yang dikunjungi puluhan ribu peziarah setiap tahun. Di Pakistan, menurut Denis Matringe, tempat ziarah seperti situs Golra Syarif telah menjadi pusat gerakan oposisi yang dikomando para pemimpin tarekat. Sejak masa Ayyub Khan sampai Benazir Bhutto, pemerintah berusaha meredam perlawanan ini dengan menguasai secara penuh semua situs wali, sedangkan berbagai praktik ziarah diatur secara ketat dengan undang-undang.

Di Asia Tengah, berpuluh-puluh tahun makam Bahauddin Naqsyaband, pendiri tarekat Naqsyabandiyah, menjadi pusat perlawanan umat Islam terhadap rezim totaliter Uni Soviet. Pasca runtuhnya Uni Soviet, makam Bahauddin dijadikan identitas nasional Uzbekistan. Di Balkan, ziarah tahunan Ajvatovica telah menjadi kekuatan pendorong yang tak ada duanya bagi perjuangan melawan penindasan Serbia. Seusai perang, Ajvatovica menjadi simbol pemersatu dan ?lan vital pembangun bangsa Bosnia-Herzigovina.

Di Tiongkok, Francoise Aubin mencatat upaya petani-petani Islam mempertahankan makam-makam para wali dan tradisi ziarah dari penghancuran pada masa Revolusi Kebudayaan. Pasca-Mao, ziarah wali beralih fungsi menjadi simbol pembaruan Islam pribumi Tionghoa melawan gerakan fundamentalisme dan pembaruan Islam yang datang dari Timur Tengah.

Selanjutnya, selain berbicara tentang segi ritual dan sosial ziarah wali, yang menarik dari buku ini adalah deskripsi arsitektural dari berbagai makam wali lengkap dengan foto dan denahnya. Jika diperhatikan lebih mendalam, arsitektur makam para wali itu mengandung pesan moral ajaran Islam. Hal ini bisa ditemukan, misalnya, pada tulisan Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot tentang ziarah makam Sunan Gunung Jati Cirebon atau tulisan Denys Lombard tentang makam Kiai Telingsing di Kudus. Meskipun beraneka ragam, arsitektur berbagai makam itu mengabarkan kepada kita tentang makna universal ajaran Islam. Betapa sesungguhnya nama para wali itu akan tetap abadi bersama tetap abadinya pesan damai dan cinta yang telah mereka ajarkan.

Mereka telah mengajarkan Islam tidak dengan senjata dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Maka, ziarah ke makam mereka bukanlah bentuk kekenesan atau mencari pelarian. Sebab, di sana ada kenangan akan agungnya nilai kemanusiaan. Kemanusiaan yang menyatu dengan pancaran suci Cahaya Ilahi. (*)

*) Ahmad Badrus Sholihin, santri asal Jember, bergiat di komunitas diskusi GeRAP Jogja

dibaca oleh: 2856 pengunjung