Ketika Murid Bebas Memilih

Judul Buku: Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Penulis: AS Neill
Penerjemah: Agung Prihantoro
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: Juni 2007
Tebal: 356 halaman

"Nenek ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya ia tidak mengizinkan saya sekolah." (Margaret Mead)

Mungkin kalimat di atas jualah sebenarnya unspoken words dari para orang tua yang memilih opsi homeschooling kini mulai ngetren di Indonesia sebagai jawaban atas masalah pendidikan anak mereka. Sehalus apa pun kata-kata yang dipergunakan orang tua dalam menjelaskan alasan memilih homeschooling untuk anak mereka, keputusan itu tetap menyiratkan adanya ketidakpuasan pada sekolah formal. Sekolah formal dianggap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Maka dialihkanlah pendidikan dari sekolah ke rumah.

Alexander Sutherland Neill (1883-1973) memiliki posisi sama terhadap sekolah formal. Alih-alih membuat anak-anak cocok dengan sekolah, ia membuat sekolah yang menurutnya cocok untuk anak-anak. Maka, pada 1921, ia dirikan Summerhill School. Pada mulanya Summerhill berlokasi di Jerman, kemudian pindah ke Austria, dan terakhir menetap (sampai sekarang) di Leiston, Suffolk, Inggris, sekitar 160 km dari London.

Kepindahan-kepindahan ini dikarenakan tidak semua negara mengizinkan sekolah nyentrik semacam Summerhill terselenggara. Bagaimana tidak, ide dasar Summerhill nyaris berkebalikan dengan kebijakan tentang penyelengaraan pendidikan formal di negara mana pun. Jika membaca buku Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan ini, Anda akan tahu mengapa.

Neill menganggap sekolah pada umumnya sangat membosankan dan tidak berguna buat anak-anak. Anak-anak dicekoki dengan hal-hal yang sebenarnya belum tentu terpakai dalam kehidupan mereka kelak. Saat lulus anak tidak tahu how to survive karena ia tidak pernah belajar bagaimana sebenarnya harus hidup. Sekolah mengajarkan apa-apa yang hanya terpakai di ruang-ruang kelas, bukan apa-apa yang akan anak-anak hadapi dalam dunia nyata di luar sana.

Belum lagi hubungan guru dan murid yang bersifat paternalistik. Guru adalah dewa yang serbatahu, serbabenar, dan serba-berkuasa. Sementara murid seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Harus selalu patuh dan dipilihkan segala sesuatunya. Hubungan seperti itu membuat anak menjadi inferior sepanjang hidupnya. Ketakutan terhadap guru kelak dijabarkan menjadi ketakutan terhadap hidup. Maka, jadilah mereka orang-orang yang selalu manut pada perintah para penguasa. Membutakan mata terhadap ketidakadilan meskipun jelas-jelas tengah terjadi di depan batang hidung mereka. Dalam istilah Neill, "guru menjadi penggembala yang membuat kambing-kambing bersuara sama, embik… embik..." Anak-anak yang berani menentang dan mengkritik gurunya malah dianggap anak bandel yang sudah sepantasnya disetrap dan diganjari hukuman.

Lain halnya dengan Summerhill. Boarding school untuk anak usia TK hingga SMA ini tidak mewajibkan anak-anak mengikuti pelajaran yang ditawarkan sekolah. Tidak ada ujian yang wajib ditempuh. Tidak ada secuil pun kewajiban yang harus ditunaikan di sana kecuali tidak boleh mengganggu orang lain. Anak boleh melakukan apa pun sekehendak hatinya sepanjang waktu, selama tidak mengganggu orang lain.

Bagi mereka yang tidak tertarik pada hal-hal akademis boleh melakukan kegiatan-kegiatan di bengkel-bengkel kerja, laboratorium, ruang-ruang kesenian, teater, olahraga, perpustakaan, atau di ladang. Mereka bahkan boleh bermain saja berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kalau perlu. Anak dibebaskan sepenuhnya untuk mengelola diri mereka sendiri. Mereka boleh mempelajari apa yang mereka suka. Anak belajar memilih dan mengambil sendiri keputusan yang ia rasa terbaik bagi dirinya dan belajar menikmati manis-pahit konsekuensi dari pilihannya.

Tidak ada jurang pemisah antara guru dan murid. Guru dipanggil dengan nama depan mereka. Summerhill membebaskan anak dari indoktrinasi agama, moral, politik, dan pembentukan karakter. Peraturan sekolah dibuat sendiri oleh seluruh anggota komunitas Summerhill melalui rapat umum yang diselenggarakan setiap pekan. Guru dan murid sama-sama punya satu suara.

Dalam rapat itu, siapa yang merasa pernah diganggu oleh orang lain, boleh mengadukannya dan rapat akan memutuskan konsekuensi apa yang pantas diberikan kepada si terdakwa yang terbukti bersalah. Guru yang dirasa mengganggu anak atau merugikan sekolah pun boleh "diadili" dalam forum ini. Terdakwa maupun suara minoritas yang merasa keputusan rapat tidak adil, boleh naik banding. Tidak ada yang disebut Margaret Mead sebagai "tirani komunitas" yang menindas individu.

Setiap pekan pemimpin rapat dipilih secara bergiliran sehingga setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk belajar memimpin dan berbicara di depan publik. Siswa senior dipilih menjadi ombudsman yang bertugas menerima keluhan dari mereka yang pernah diganggu orang lain sekaligus melaporkannya pada forum di saat rapat umum. Para siswa senior memang lebih peduli ketertiban dan keteraturan dibanding siswa-siswi junior yang masih egosentris. Dapat dikatakan merekalah jantung demokrasi yang dilaksanakan di Summerhill.

Selain ombudsman, anak-anak juga membentuk komite-komite olahraga, teater, perpustakaan, pertiduran, dan lain-lain yang dipilih di antara mereka sendiri. Summerhill menjadi semacam miniatur masyarakat, bahkan negara.

Bagi mereka yang memang ingin kuliah, biasanya baru benar-benar menggenjot diri untuk belajar hal-hal akademis menjelang ujian masuk perguruan tinggi saja. Tidak seperti siswa sekolah pada umumnya yang mempelajari hal tersebut belasan tahun sebelumnya. Dan, ternyata banyak juga yang berhasil lolos. Lulusan Summerhill beragam: ada yang jadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, editor, guru, juru kamera, petani, pengrajin, dan segala macam profesi lain.

Satu hal yang sama: mereka sama-sama berpikiran maju, percaya diri, terbuka, jujur, tekun, optimistis, dan di atas segalanya, berbahagia. Neill memang menganggap lebih baik seseorang menjadi tukang sapu yang bahagia (meskipun Summerhill belum pernah mencetak tukang sapu) ketimbang sarjana neurotik.

Ide Summerhill bagi saya memang terlampau ekstrem untuk diterapkan pada anak-anak kita. Hemat saya, anak belum memiliki cukup pengalaman hidup seperti halnya orang-orang dewasa sehingga referensi untuk dapat memilih segala sesuatunya sendiri masih sangat minim. Sampai usia remaja, saya rasa anak juga sebaiknya masih tinggal bersama orang tuanya agar dapat menerima cukup kasih sayang yang mereka butuhkan.

Tapi, meskipun tidak sepenuhnya sepakat dengan cara mendidik yang ditempuh Neill, banyak juga ide-ide Neill yang saya rasa harus kita akui konstruktif. Neill memandang kehidupan di luar kelas lebih penting ketimbang di dalam kelas. Neill ingin anak-anak belajar tentang hidup secara utuh, bukan hanya belajar hal-hal yang bersifat akademis. (*)

*) Eka Kurnia Hikmat. Aktif di Yayasan Martabat, Jakarta Barat

dibaca oleh: 2041 pengunjung