Biarkan Anak Memilih yang Mereka Mau

Judul Buku: Summerhill School; Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Pengarang: Alexander Sutherland Neill
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 356 Halaman

Pendidikan di mana pun adalah bentuk-bentuk usaha yang mengarahkan para peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan kebodohan. Parameter-parameter yang dibuat di dalam sistem pendidikan nasional, misalnya, seharusnya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekadar memperoleh tanda lulus dari negara.

Setiap model pendidikan nyatanya memiliki kelebihan dan kekurangan, yang akhirnya menimbulkan pilihan subjektif yang berbeda dari setiap orang. Tersosialisasikannya model pendidikan alternatif seperti homeschooling memang menimbulkan kontroversi. Namun, kembali pada tujuan pribadi yang berbeda, maka pilihan akan model pendidikan alternatif seharusnya disikapi sama, seperti juga ketika mayoritas orang memilih sekolah formal atau nonformal.

Life long education (pendidikan sepanjang hayat) seharusnya tak hanya menjadi slogan kosong. Semboyan itu adalah panduan bagi siapa pun yang ingin menjadikan dirinya tumbuh lebih baik dalam tataran pemikiran, sikap, dan perilaku. Ketika sebagian individu memilih untuk membangkitkan energi belajar anak-anaknya lewat pendidikan alternatif, hal itu sah-sah saja. Sebaliknya, jangan sampai batas-batas jenjang pendidikan di sekolah formal menjadi penghalang setiap orang untuk selalu mau belajar dalam kehidupannya sehari-hari.

Berawal dari sebuah ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus mencocokkan dengan sekolah. Summerhill School, sekolah yang didirikan Alexander Sutherland Neill, ini pun membebaskan anak-anak untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, dan hukuman. Kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh pada anak tersebut menjadi sekolah percontohan di beberapa negara.

Buku yang ditulis sendiri oleh pendiri Summerhill School ini menjelaskan, yang dibutuhkan dalam sekolah hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makluk yang unik. Di sekolah ini, anak-anak bebas memilih pelajaran yang akan mereka ikuti. Bahkan, bagi anak yang baru masuk bisa bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Neill menjelaskan, butuh waktu bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri setelah begitu tertekan dari sekolah "normal"?. Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ditanamkan oleh sekolah "normal" ke dalam diri mereka. Seorang anak TK yang pindah ke Summerhill School akan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan baru di sekolah tersebut. Tapi, makin bertambahnya umur anak, makin lama waktu penyembuhan yang mereka lakukan. Bisa jadi mereka tidak akan pernah mau lagi mengikuti pelajaran yang selama ini mereka dapatkan dari sekolah lamanya.

Di sekolah alternatif ini, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidaklah sepenting kepribadian dan karakter. Tes yang dilakukan di kelas pun sangat iseng. Misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan, di manakah Pulau Kamis, obeng, demokrasi dan kemarin? Tetapi anak yang baru masuk tidak memberikan jawaban seperti jamaknya anak-anak yang sudah lama di Summerhill School. Bukan mereka bodoh, tetapi karena sudah terbiasa dalam rimba keseriusan, padahal bagi anak-anak yang sudah lama di Summerhill School, justru keisengan ini yang dinantikan.

Bagi Neill, memaksakan pelajaran pada anak, sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Tak bisa disangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill School. Mereka yang berkali-kali dikeluarkan dari sekolah, pribadi yang penuh kebencian atau pemberontakan. Neill tidak menyangkal kalau seorang anak sebetulnya tumbuh dengan egonya. Tetapi dia yakin, ego yang dipelihara dengan baik akan memiliki apa yang disebut dengan kebaikan. Ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan. Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya mereka sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial. Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang. Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak. Ketika seorang muridnya mencuri, menurut Neill, yang dicuri anak itu adalah kebahagiaan. Sebetulnya ia ingin mendapatkan perhatian dan kebahagiaan (halaman 27).

Dan resep ini sangat manjur. Anak-anak yang bermasalah, menurut Neill, adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, konsekuensinya dia berperang dengan seluruh dunia. Kebebasan pula yang menghilangkan rasa takut pada anak-anak. Anak-anak kecil di Summerhill School tidak ada yang takut dengan petir atau gelap. Jadi kebebasan juga mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian.

Jika ada anak yang ketahuan mencuri, dia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan oleh siswa-siswa sendiri. Sekolah ini memang dikelola bersama, guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman-hukuman ini, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. Seminggu sekali mereka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Summerhill School adalah sebuah sekolah bebas dan berasrama untuk usia TK-SMA yang didirikan oleh A.S. Neill pada 1921 di Jerman dan kemudian pindah ke Inggris. Sekolah yang revolusioner ini membebaskan siswa-siswinya hidup sesuka mereka selama tidak mengganggu orang lain. Mereka boleh ikut atau mangkir dari pelajaran-pelajaran yang ditawarkan sekolah. Fasilitasnya pun komplet: kolam renang, bengkel kerja, laboratorium, ruang kesenian, ruang teater, alat musik, perpustakaan, ladang.

Hasilnya, sekolah ini sudah menelurkan banyak alumni yang sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis. Mereka menjadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, dan segala macam profesi, yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Summerhill School telah dan terus melahirkan insan-insan yang berjuang membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi dan damai.

Dalam konteks Indonesia, sekolah yang membebaskan ini tentu sangat diperlukan. Anak-anak yang sangat putus asa dan tertekan dengan sekolah butuh “penyembuhan�. Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa bahkan mengakhiri hidup mereka karena permasalahan sekolah. Terlebih ketika anak-anak sangat tertekan dengan Ujian Nasional dan ketentuan-ketentuan yang "menggantung"? hidup dan masa depan mereka.

Membaca buku ini, menyadarkan kita bahwa mempelajari dan mengetahui secara pasti standar-standar pendidikan memang mutlak diperlukan, namun menerapkan standar-standar itu dengan cara yang berbeda, yang lebih menyentuh sisi paling personal dari setiap peserta didik, itulah kelebihan yang dimiliki oleh pendidikan alternatif.

TASYRIQ HIFZHILLAH, Pemerhati masalah pendidikan, tinggal di Jogjakarta

dibaca oleh: 2171 pengunjung