Perempuan Batu

Judul buku: Perempuan Batu
Pengarang: Tariq Ali
Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Maret 2006
Tebal: 494 halaman.

"Rahasia adalah hal yang berbahaya. Bahkan ketika rahasia-rahasia itu perlu disimpan pun mereka akan menggerogoti jiwa kita."

Pada musim panas tahun 1899, Nilofer datang ke rumah peristirahatan ayahnya, Iskander Pasha, seorang bangsawan Kesultanan Utsmaniyah, yang terletak di tepi pantai tidak jauh dari kota Istanbul. Setelah sembilan tahun merasa diasingkan karena kawin lari dengan Dmitri, ia pun menerima bujukan Hatije, ibunya, untuk berdamai kembali dengan ayahnya. Karena pertimbangan itu, ia datang hanya bersama putranya, Orhan. Sementara, suaminya tinggal di rumah bersama putrinya, Emineh, di Konya. Di rumah peristirahatan tersebut juga ada si tua Petrosia, yang ayah dan kakeknya telah menjadi pelayan pada keluarga tersebut.

Beberapa hari kemudian Iskander terserang stroke yang menyebabkannya kehilangan kemampuan berbicara. Karena kejadian itu, datanglah mengunjunginya putra-putrinya yang lain: Salman dari isteri pertamanya, Zeynep dan Halil dari isteri keduanya. Kemudian juga datang kakaknya Memed bersama temannya Baron Jakob van Hassberg, seorang Prusia mantan tutor mereka ketika masih kanak-kanak. Lalu disusul dengan kedatangan Hasan Baba, tukang cukur keluarga tersebut, bersama cucunya Selim, untuk menyunat Orhan.

Para anggota keluarga Iskander ternyata memiliki masalah masing-masing yang selama ini mereka pendam sendiri. Nilofer sudah kehilangan gairah cintanya kepada Dmitri karena kehidupannya yang monoton. Hatije masih memelihara cintanya kepada Suleman, kekasih yang telah meninggalkannya ke New York. Iskander masih belum bisa melupakan Zakiye, isteri tercintanya yang meninggal saat melahirkan Salman. Salman sendiri baru saja dikhianati oleh isterinya yang berselingkuh dengan tukang kayu yang mengerjakan perabot rumah mereka. Sedangkan isteri Halil, menyarankannya untuk mencari isteri lain karena telah kehilangan gairah akibat trauma saat melahirkan.

Tanpa direncanakan, masalah-masalah yang mereka hadapi terselesaikan di rumah tersebut sehingga tidak membebani jiwa mereka lagi. Salah satu penyebabnya adalah adanya sosok Perempuan Batu, sebuah patung dekat bukit karang, di belakang rumah tersebut. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Temukan jawabannya dalam novel ringan, segar, "nakal", dan "dewasa" khas Tariq Ali ini.

Novel ini termasuk salah satu dari tetralogi karya Tari Ali, seorang penulis kelahiran Pakistan yang tinggal di Inggris, mengenai persinggungan panjang antara Peradaban Kristiani Barat dan Dunia Islam. Tiga buku lainnya adalah Shadows of Pomegranate Tree (Bayang-bayang Pohon Delima), The Book of Saladin (Kitab Salahudin), dan A Sultan in Palermo (Seorang Sultan di Palermo), yang kesemuanya telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Serambi.

Novel Perempuan Batu mengambil setting Kesultanan Utsmaniyah pada saat kemunduran dan menjelang keruntuhannya, yang dengan nakal digambarkan oleh Baron:

"seperti seorang pelacur mabuk terlentang dengan kaki mengangkang lebar-lebar, tanpa tahu atau peduli siapa yang akan memilikinya kemudian."

Meskipun sebagai novel sejarah dan banyak menggambarkan situasi dan pemikiran politik yang berkembang ketika itu, novel ini tetap terasa ringan dibaca dan cukup menghibur dengan ungkapan-ungkapan lucu tokoh-tokohnya. Misalnya, mengomentari sakitnya Iskander, Halil yang baru datang bersama Salman berkata:

"Aku senang kau masih hidup Ata. Hanya kematian yang bisa menolongku jika Allah memutuskan membuat kami menjadi yatim. Saudaraku yang brutal ini akan menyuruh si Petrosia mencekikku dengan tali sutra."

Sementara itu Memed berkata:

"Benarkah adikku terkena panah malaikat maut, tetapi ia menolak tumbang?"

Dan Kemal adik Iskander yang datang setelah Iskander sembuh berkata:

"Aku berharap tidak harus mendengar kata-katamu, Iskander. Itu akan menjadi sebuah perubahan dalam hidupku. … Di sepanjang jalan di atas kapal aku mengkhayal bagaimana aku bisa menghiburmu dengan cerita-ceritaku dan karenanya kau tidak bisa memotongku dengan gurauan-gurauan tolol, tetapi tidak. Ini tidak akan terjadi. Tidak bisakah kau menunggu sampai beberapa minggu lagi?"

Belum lagi ungkapan-ungkapan Nilofer dan Salim yang sedang dimabuk gairah cinta.

Di samping itu, novel ini juga mengajak kita merenung tentang masalah kebahagiaan dan penderitaan dalam kehidupan. Tentang ini penulis banyak mengungkapkannya lewat tokoh Salman. Misalnya:

"Hasan Baba selalu mengajarkan pada kami bahwa tanpa mengalami kegelapan, orang tidak akan pernah benar-benar menghargai terang, namun ada sisi lain dari pemahaman ini. Bagaimana jika kegelapan itu tidak pernah berlalu dan terang menjadi sebuah ingatan yang jauh?"

Pada kesempatan lain ia berkata kepada Nilofer:

"Kehidupan ini penuh dengan kepedihan dan penderitaan, tetapi akan selalu ada jalan keluar. Selalu. Begitu kau berhenti memikirkan kemungkinan itu, kau akan mati."

Sedangkan kepada Hatije ia berkata:

"Siapakah di antara kita yang benar-benar bahagia, Ibu Hatije? Aku tidak memercayai ada suatu kebahagiaan yang murni. Itu hanyalah temuan para penyair. Semua kehidupan kita melewati tahapan yang berbeda-beda dan salah satunya biasanya berbentuk kebahagiaan, tetapi apakah hal itu bisa bertahan selamanya? Aku tidak yakin. Ada sebentuk kerusakan emosional yang permanen dalam kehidupan kita yang tidak memungkinkan sebentuk kebahagiaan yang menetap."

Lalu, apakah kebahagiaan itu? Buku menawarkan:

"Tidak ada kebahagiaan lain di muka bumi ini selain cinta dan penyatuan orang-orang yang kita kasihi."

("Firdaus" firdaus@mitranetra.or.id)

dibaca oleh: 1394 pengunjung