Ketika Gen Menjelma Tuhan

Judul: The Genetic Gods (Tuhan-Tuhan Genetis)
Penulis: John C Avice
Penerbit: Serambi Jakarta
Cetakan: 1, 2007
Tebal: 360 halaman

Studi genetika kontemporer mengabarkan bahwa manusia, sebagaimana spesies lainnya, adalah produk biologis serangkaian proses evolusioner. Karena itu, manusia merupakan pengejawantahan fisik gen atau 'Tuhan-tuhan genetis'. Dalam kehidupan manusia, kekuatan mekanistik evolusioner gen yang membentuknya telah mengambil alih berbagai peran yang secara tradisional diperuntukkan bagi ilah (deity) supranatural. Sebagian orang mesti akan menganggapnya sebagai bentuk penghinaan atau hujatan terhadap Tuhan, namun orang lain mungkin menilainya biasa-biasa saja. Aneka tanggapan yang bertolak belakang itu mencerminkan situasi filsafat masa kini yang bersifat paradoks.

Karena, ajaran agama dan rasionalisme sains terpaksa berdampingan sebagai dua sarana memperoleh makrifat pengetahuan yang sama-sama kuat, namun bertentangan.

Terlepas dari tanggapan publik, penemuan studi genetika mutakhir semakin kukuh lewat hadirnya buku ini. John C Avise, profesor dalam bidang ekologi dan genetika evolusioner di Universitas California, Amerika Serikat, mendedahkan bahwa gen telah menjelma dalang bagi semua etape kehidupan manusia, begitu kuat pengaruhnya bagi kita dalam tampilan fisik, kesehatan, perilaku, emosi, hasrat, dan psikologis kita. Gen, dengan demikian, menjadi sebongkah mahluk yang menasbihkan kita ada; ada untuk makan, minum, berjalan, berkata, mendengar, bercinta, dan berhubungan seksual. Struktur tubuh kita yang berdiri tegak seolah adalah hanyalah cermin tegaknya gen dalam setiap jejak langkah yang kita pijakkan.

Untuk mengukuhkan argumentasi yang didedahkan, Avice menyuguhkan beberapa telaah kritisnya. Pertama, gen mempunyai kekuasaan istimewa atas kehidupan dan urusan manusia sebagaimana dirasakan mereka yang menderita kelainan genetis serius. Kedua, gen memengaruhi jalannya alam. Bahkan jalannya alam 'tidak lain' adalah evolusi biologis yang penjelasan paling sederhananya adalah perubahan genetis seiring dengan waktu. Ketiga, garis keturunan gen punya potensi menjadi abadi dan memang sudah terbukti demikian selama miliaran tahun. Kehidupan yang evolusioner, sebagaimana dianut pandangan ini, sebetulnya merupakan genealogi garis-garis keturunan yang tak terputus dari perjalanan hidup selama miliaran tahun.

Temuan kritis Avice tersebut seolah mengukuhkan juga pandangan darwinisme tentang evolusi mekistik manusia. Tentu saja, pandangan ini mencengangkan dunia kontemporer, khususnya para kaum agamawan yang masih kukuh berpendapat bahwa segala yang ada dalam diri manusia sepenuhnya adalah kuasa Tuhan. Evolusi Darwinisme, bagi agamawan, justru mengabaikan dail kitab suci yang mengabarkan bahwa manusia pertama yang diciptakan Tuhan adalah Adam. Takdir Adam dan anak turunnya sepenuhnya berada dalam genggaman Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha, itu pun kalau Tuhan memberikan toleransi anugrahnya kepada manusia, sehingga ihtiar nya bisa terwujud. Itulah pandangan mayoritas umat beragama. Bahkan ada yang lebih deterministik lagi: bahwa sepenuhnya takdir manusia di tangan Tuhan. Usaha-usaha manusia sungguh tak berarti dan tak berguna di hadapan Tuhan, sama sekali tidak akan bisa merubah takdirnya.

Kalau pandangan ini yang kita perhadapkan dengan studi genetika mutakhir, pastilah akan terjadi gejolak besar, karena menyangkut prinsip-prinsip keagamaan. Sangat mungkin Avice akan mendapat kecaman umat beragama, mengulangi kasus Galileo Galilei yang begitu berani menyangsikan ajaran gereja. Juga seperti yang dialami Ahmad Ibnu Hanbal dan Ibnu Rusd yang terkena mihnah, inkuisisi, karena pandangan keberagamaannya bertentangan dengan pandangan keberagamaan negara (agama) yang otoriter. Kalau itu sampai terjadi, maka dalam sejarah hidup manusia, tradisi ilmiah akan selalu berseberangan dengan doktrin agama.

Untuk itu, dibutuhkan seperangkat gerakan gagasan baru yang bisa menjadikan kasanah keagamaan dan kasanah tradisi ilmiah dalam sebuah gugus pemahaman atas keagungan dan kekuasaan Tuhan. Di tingkat inilah, tradisi riset yang dijalankan kaum saintifik justru akan menjadi media mengukuhkan keimanan, karena ternyata alam semesta yang disediakan Tuhan kepada manusia begitu megah dan mengagumkan. Dengan begitu, maka berbagai penemuan riset akan menjadi kekuatan baru keberagamaan mutakhir, di mana misteri-misteri ajaran yang terkandung dalam doktrin agama dapat terkuak dan tersibak dalam penjelajahan ilmiah saintis modern. Pada aras ini, penemuan ilmiah Acive tidak akan mengantarkan dia seperti Galileo, Ibnu Hanbal, Ibnu Rusd, dan atau Salman Rushdie. Penemuan itu akan menjadi autokritik dalam mengukuhkan keimanan dan keberagamaan.

[Muhammadun AS, Pustakawan, Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies Jakarta]

dibaca oleh: 1281 pengunjung