Pergulatan Wacana Teologi Islam Abad Ke-20

Judul Buku: Teologi Pembaruan.

Penulis: Fauzan Saleh


ABAD ke-20 di pentas sejarah dunia merupakan abad yang galau. Kekuasaan kolonialisme dan imperialisme Barat abad 19 merambah ke seluruh jagad dan mencapai puncaknya di awal abad 20. Eksploitasi ekonomi Barat terhadap bangsa-bangsa non-Eropa memperoleh bentuk sempurna pada kekuasaan yang menjerat di lapangan politik, budaya, dan teknologi.


Sementara itu, berdasar pada kepentingan mesin kolonialnya, Barat juga meneteskan benih-benih pendidikan modern di tanah jajahan. Dengan basis pendidikan yang sebenarnya amat sedikit itu, tanpa disadari oleh kaum kolonial, muncul nasionalisme sebagai motor yang mempersatukan energi bangsa terjajah melawan kekuasaan penjajah.


Sesudah pecah Perang Dunia I dan II, di tengah kekacauan internasional, pecah perang kemerdekaan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Lalu lahir bangsa-bangsa merdeka, di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Abad ke-20 di Indonesia merupakan abad yang penuh gejolak "revolusi" di segala bidang kehidupan. Kegiatan pemikiran bertumbuh pesat, wacana intelektual pun terjadi dengan maraknya. Upaya untuk melakukan kristalisasi gagasan terhadap pengalaman yang amat kaya, baik dalam bidang sosial, politik, ideologi, keagamaan, dan lain-lain. Suatu masa formatif yang menegangkan.


Gerakan nasionalisme di negeri-negeri Asia tak bisa dipisahkan dari peran yang dijalankan oleh kekuatan agama-agama setempat sebagai kekuatan emansipatoris. Dan seterusnya di masa kemerdekaan, proses emansipasi politik, budaya, ekonomi, dan sosial juga memberi tempat pada emansipasi agama dalam wujud ramainya wacana keagamaan yang terjadi. Sering diasumsikan bahwa agama merupakan sebuah entitas yang tetap, tak berubah. Namun, dari sisi pergulatan umat, wacana keagamaan juga terus berkembang bak organisme yang hidup. Pertumbuhannya bisa diikuti dengan merangkai tahap-tahap yang berkelok-kelok, melintasi berbagai halangan dan melakukan loncatan-loncatan besar yang terkadang tak terpikirkan sebelumnya.


Islam dalam satu abad


Karya BJ Boland The Struggle of Islam in Modern Indonesia (The Hague, Martinus Nijhoff, 1982) sudah surut menjadi studi klasik. Sesudah itu banyak sekali studi mutakhir tentang pemikiran di Indonesia berkenaan dengan kesibukan wacana pemikiran Islam yang ditulis para pakar, baik yang menyangkut segi-segi sejarah maupun menyangkut perkembangan mutakhir yang terjadi di ujung abad 20.


Karya Fauzan Saleh ini mencoba memberikan semacam rangkuman terhadap pergulatan Islam dalam kurun waktu sepanjang satu abad. Kecuali mencakup khasanah yang luas dan besar, juga mencakup periode penelitian yang panjang. Penelitian semacam ini tentu saja mengandung bahaya menjadi terlalu umum untuk hal-hal yang perlu rinci. Juga pembahasan bisa menjadi eklektik, mencari tokoh atau pemikiran tertentu, sehingga melupakan wacana yang terjadi di wilayah-wilayah yang dianggap tidak penting, khususnya di luar Jawa atau jauh dari pusat-pusat episentrum wacana nasional.


Risiko ini selalu ditanggung oleh mereka yang melakukan studi dengan tema-tema besar seperti buku ini. Namun, berbarengan dengan itu, buku semacam ini juga memiliki kegunaan lain yang berharga yaitu memberikan suatu peta dasar yang bisa dirunut oleh para peneliti yang datang belakangan. Tanpa peta umum ini tentu tidak mungkin dilakukan pemetaan yang lebih detail tentang wacana teologis yang terjadi di kalangan Islam. Di sinilah, antara lain, manfaat buku ini.


Purifikasi doktrin


Salah satu benang merah dari wacana Islam yang terjadi selama abad ke-20 adalah mengenai gerak pemikiran yang berintikan keinginan untuk melakukan purifikasi ajaran, doktrin maupun dogma agama secara lebih logis, lugas, dan rasional; berhadapan dengan apa yang disebut takhayul, sisa-sisa animisme, kecenderungan bid'ah, dan lain-lain. Wacana yang banyak ditengarai oleh proses pemurnian dan pembakuan serta "ortodoksi" ini tentu bukan tanpa alasan. Wacana tersebut merupakan respons (dan bahkan hampir menjadi semacam obsesi) dari kebutuhan umat yang amat nyata. Ditengah-tengah pergaulan internasional yang baru, kemerdekaan bangsa dialami di tengah relasi kemajemukan suku, daerah, budaya, dan agama yang relatif baru pula.


Dalam konteks semacam itu, kebutuhan yang mendesak adalah menyangkut identitas dan jati diri dari setiap kelompok memasuki sebuah lingkungan yang lebih luas. Setiap kelompok agama merasa terdesak untuk menegaskan siapa dirinya di tengah persekutuan baru. Proses purifikasi harus dilihat dalam konteks seperti ini, yaitu sebagai penegasan terhadap jati diri di tengah sebuah lingkungan baru yang bercorak pluralistik. Lingkungan baru tersebut mau tak mau harus direspons secara memadai. Barang siapa memasuki dunia plural, sebagai syarat pertama yang harus dipenuhi adalah kejelasan mengenai siapa, asal dari mana, tujuan; pendeknya "abc" dari sebuah perkenalan. Merumuskan sepersis mungkin identitas seseorang atau sekelompok orang. Ortodoksi diperlukan demi pergaulan. Dari titik tolak itu perkenalan dan pertemuan bisa dilanjutkan. Tanpa proses itu tak akan pernah terjadi encounter atau interrelasi yang sesungguhnya dengan sistem-sistem ajaran agama yang lain.


Situasi tersebut di atas sebenarnya bukan khas fenomena Islam, tetapi dialami hampir oleh setiap agama, di mana pun, kapan pun. Setiap kali sesuatu agama secara serius dihadapkan pada situasi plural sebagai pilihan yang tak bisa dihindari, maka pertama kali reaksi yang alami adalah suatu upaya rasional untuk merumuskan pemahaman mengenai diri sendiri secara baku . Namun, agama bukan semuanya serba rasional, artinya tidak semuanya bisa dijelaskan secara rasional dan habis-habisan. Penjelasan rasional yang bersifat dogmatis, doktriner, falsafati semuanya ternyata hanya menjelaskan sebagian dari keutuhan fenomena yang disebut agama.


Proses purifikasi, ortodoksi, pembakuan, perumusan identitas tak bisa dilewati oleh komunitas apa pun yang beranjak dewasa. Identitas adalah sebuah kebutuhan esensial untuk pergaulan. Namun, identitas yang diajukan tanpa dibarengi kesediaan untuk terbuka dan respek kepada identitas orang lain yang berbeda, tentu hanya akan berfungsi selaku benteng untuk isolasi diri. Orang cenderung menjadi one dimensional man , tak mampu berdialog dan sambil menangisi identitas orang lain. Kecenderungan "fundamentalisme" bisa lahir dari posisi mental-spiritual seperti ini. Ortodoksi yang bertendensi mengancam kehadiran dan identitas orang lain. Oleh sebab itu, purifikasi baru merupakan sebuah awal dari sebuah perjalanan yang panjang. Perjalanan itu mungkin akan merupakan perjalanan putar balik, perjalanan yang terus bertumbuh. Perjalanan pulang-balik tersebut akhirnya akan selalu kembali kepada basis utama agama, yang menjadi tolok ukur dan pusat dari setiap agama, yaitu kitab suci dan tradisi.


Agama dan mitos


Dalam hubungan ini kita diingatkan kembali oleh Goenawan Mohamad, akan perlunya memikirkan agama sebagai "mitos", yang terbuka untuk lebih daripada hanya perintah untuk menerima sebuah "tafsiran tunggal". Kita diingatkan bahwa bahasa agama banyak memuat metafora, dan terutama perlunya melakukan pemikiran ulang (reinterpretasi) terhadap gejala pembakuan doktrin agama yang tertutup. (Bandingkan kumpulan esai Goenawan Mohamad, Eksotopi (Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas), khususnya "Tentang Teks dan Iman", Jakarta Grafiti, 2002. hlm 213-222)


Dalam uraiannya Goenawan menulis: "...Dalam ketakutan akan kehancuran dirinya dalam sebuah masyarakat yang, untuk memakai dikotomi Karen Amstrong, lebih berpegang kepada 'logos' ketimbang kepada 'mythos', agama-agama mendefinisikan doktrin, membangun rintangan, menegakkan tapal batas, dan memisahkan mereka yang beriman dalam sebuah tempat terpisah yang suci dimana hukum dengan keras diberlakukan" .


Dalam tatapan Goenawan, "... pada abad ke-20 agama-agama juga memperkukuh diri dengan 'logos' pula. ... Logoslah yang menyebabkan orang-orang beriman hanya berpegang kepada ruang yang pasti dan jelas batasnya" (hlm 219-220). Dalam situasi yang galau di abad 20, agama-agama di Indonesia getol memagari dirinya dengan "benteng-benteng" rasionalitas, yang tak jarang menjadi berlebihan, semacam benteng pertahanan bagi musuh-musuh yang mengancam. Untuk Indonesia , mungkin, wacana semacam ini masih akan menjadi kesibukan teologis utama bagi para tokoh pemikir agama kita. Tentu banyak aspek dalam wacana teologis selama seabad, Fauzan Saleh agaknya meringkasnya menjadi soal "purifikasi" saja.


Agama dan nasionalisme


Para cendekiawan Muslim bergulat selama satu abad dalam liku-liku perjalanan seluruh bangsa yang berada dalam titik simpang yang bercabang-cabang dan membingungkan. Titik simpang itu terjadi karena Indonesia dari awal abad ke-20 sudah menjadi pasar dunia yang ramai dari persaingan ideologi yang ditawarkan di tingkat internasional. Nasionalisme, sosialisme, demokrasi, dan lain-lain muncul sebagai agenda wacana utama. Persoalan pokok agaknya adalah siapa mewadahi siapa? Apakah nasionalisme berdasar pada agama atau agama merupakan satu unsur dari nasionalisme Indonesia .


Terjadi pula perdebatan hangat antara golongan sosialis dengan kalangan Islam yang melahirkan garis dari dua kubu, yaitu Sarikat Islam merah dan Sarikat Islam putih/ hijau. Demikian pula dengan revival agama-agama suku yang merupakan bagian dari jati diri suku-suku yang amat majemuk di Indonesia, yang notabene merupakan ciri primordial bangsa ini. Pada akhirnya, yang merupakan tema yang tak habis-habisnya adalah mengenai konsep negara Pancasila dan negara Islam, tak pelak merupakan bentukan dari kehidupan politik-kultural yang terus-menerus akan bergulir sepanjang masa.


Beberapa hal yang bisa dicatat dari tulisan Fauzan Saleh yang panjang, antara lain, adalah:


Pertama, studi dari Fauzan akhirnya menggarisbawahi munculnya dua pemikir Islam Indonesia yang mempunyai pengaruh besar yang akan bergema di masa depan dalam bidang wacana teologis. Dua tokoh mutakhir yang disebut adalah Harun Nasution, yang disebut sebagai tokoh "Islam rasional", (hlm 196-239) dan Nurcholish Madjid sebagai tokoh "Islam kultural", (hlm 240-307). Secara khusus bisa disebut bahwa Nurcholish Madjid merupakan salah satu pelopor untuk menawarkan persoalan pluralisme sebagai wacana teologis yang serius. Dua tokoh inilah sebenarnya merupakan perantara yang kreatif yang akan mengantar pada wacana di abad ke-21. Sudah barang tentu Fauzan telah melacak akar-akar dan asal-usul pemikiran dari kedua tokoh ini.


Kedua, agenda masa depan antara lain berisi agenda yang tersisa dari masa lampau. Agenda-agenda itu adalah bagaimana wacana teologi berproses ketika bertemu dengan sistem-sistem pemikiran teologi yang berbeda, baik dari kalangan tradisi pemikiran Islam sendiri maupun dari agama non-Islam, termasuk di dalamnya agama suku-suku yang berserakan di kepulauan Indonesia ini. Fauzan Saleh antara lain membahasnya dalam topik tentang hubungan "santri dan abangan". (hlm 96-104)


Bagaimana hal itu dipergulatkan dalam wacana teologia Islam, di mana tempat mereka dan bagaimana pula sikap dasar terhadap agama suku yang asli yang sampai sekarang masih bertahan hidup. Apakah mereka hanya dianggap sebagai bentuk kekafiran, dianggap sekadar sebagai obyek penyiaran agama, dianggap sebagai para penyembah berhala yang terkebelakang?


Ketiga, umat Islam di Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia tidaklah bisa mengingkari bahwa masa depan Indonesia adalah masa depan umat Islam juga. Oleh sebab itu, bagian pokok dari masalah pemribumian, kontekstualisasi teologi, indonesianisasi, dan banyak lagi nama lain dari pergulatan teologi hendak menggarisbawahi bahwa teologi tak lain merupakan upaya untuk turut merumuskan dan memecahkan masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan dari waktu ke waktu.


Wacana sebuah teologi adalah wacana yang hidup tentang masyarakat yang sedang tumbuh mencari model kehidupan yang lebih dewasa, adil, dan sejahtera. Dalam arti ini bisa dikatakan bahwa kedewasaan sebuah umat bisa dilihat dari wacana teologi yang diperlihatkannya. Howard M Federspiel dalam kata pengantarnya menulis: Studi ini memberikan tempat sentral di seputar dunia kesarjanaan Islam Indonesia dan menyusuri langkah-langkah penting yang diambil dalam pemikiran intelektual sepanjang abad dan perkembangan yang runtut dari doktrin, prinsip, dan formulasi praktis yang perlu untuk mengubah pemikiran Indonesia ke dalam idiom modern. Studi ini sendiri mengasyikkan dan membuka banyak hal tentang hakikat Islam, tentang hakikat perubahan, dan tentang Indonesia dalam periode yang menentukan. (hlm xv)


Dari studi Fauzan Saleh, kita memperoleh hasil kajian yang sekaligus merupakan pesan kuat bahwa pilar-pilar wacana dan gerakan keagamaan di Indonesia, secara kualitatif maupun kuantitatif, pada kenyataannya berada di tangan kelompok Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Pada kedua pilar inilah kehidupan dan masa depan Indonesia bersandar. Masa depan Indonesia , sebagaimana tampak di sepanjang abad ke-20 sangat tergantung kepada gerak kehidupan yang menentukan dari kedua institusi agama ini. Muhammadiyah dan NU bukan hanya merupakan pilar bagi umat Islam di Indonesia, akan tetapi pilar bagi kehidupan Indonesia itu sendiri. Merekalah yang paling banyak memproduksi dan memberikan arah bagi perkembangan wacana dan kesibukan berteologi pada khususnya, dan beragama pada umumnya di negeri ini.


Catatan akhir


Sebagai catatan akhir, saya ingin mengungkap rasa keheranan saya bahwa dalam buku ini tidak sekalipun disebut nama Mukti Ali, baik dalam daftar pustaka, indeks, maupun menyangkut pemikiran Mukti Ali; dengan kata lain, "tokoh pembaharu" ini dilewati begitu saja. Fauzan Saleh, menurut saya, sulit untuk "menyembunyikan" wacana tentang dialog antar-agama yang dikembangkan oleh Mukti Ali. Jasa besar Mukti Ali menggulirkan wacana teologis yang produktif tak bisa dilupakan oleh seorang pun, terutama mereka yang hendak menekuni kesibukan wacana teologis agama apa pun di negeri ini, dari sejak tahun 1970-an sampai sekarang ini.


Comparative religious studies dan kegiatan dialog antar-agama adalah sebuah wacana yang mempunyai gaung jauh di masa depan warga masyarakat dan umat beragama di Indonesia . Literatur keagamaan, khususnya keislaman di tahun-tahun 1980-1990-an penuh dengan wacana ini. Ketika perkara ini tak disinggung sama sekali oleh Fauzan, inilah mungkin, merupakan kekurangan dan kelemahan buku ini.



*TH Sumartama Th Sumartana Institut Dian-Interfidei, Yogyakarta


Sumber: KOMPAS

dibaca oleh: 2923 pengunjung