Kala Gen Menjadi ´Tuhan´

John C. Avise, profesor dalam bidang ekologi dan genetika evolusioner di Universitas California, Amerika Serikat, akan bernasib sama dengan penulis novel Salman Rushdie yang dihujat habis-habisan jika hasil penelitiannya pada buku ini dipergunakan untuk menyerang kepercayaan determinisme takdir kaum konservatif secara terbuka. Untungnya, pakar biologi kaliber dunia ini menuliskannya dalam erudisi ilmiah yang tingkat kemungkinan dan kebenarannya bisa dipertanyakan kembali melalui sifat falsifikasi saintis.

Akan tetapi, bukan berarti kita menolaknya begitu saja. Risalah ilmiah yang ditemukan Avise tetap sebuah penelitian maha penting yang sedikit-banyak akan menjawab rahasia 'Ilahi' seputar genetika dalam tubuh manusia. Bahkan ia bisa membuka tabir selubung teologis yang terlalu determinan dalam menentukan kepercayaan umat manusia (baca: umat beragama) atas takdir yang selama ini dipahami, yakni Tuhan menentukan nasib manusia secara definitif yang termaktub dalam Lauh al-Mahfuzh, sebagaimana kepercayaan banyak umat beragama.

Apa yang ingin didedahkan Avise tentang genetika? Kenapa hal itu begitu penting untuk dipikirkan? Dalam pengantarnya, Avise mangatakan buku ini ditujukan bagi pembaca yang mempunyai horizon berpikir yang terbuka yang setidaknya dapat menghargai pembahasan sederhana mengenai penemuan genetika revolusioner mutakhir. Manusia, sebagaimana spesies lainnya, adalah produk biologis serangkaian proses evolusioner. Karena itu, manusia merupakan pengejawantahan fisik gen atau 'Tuhan-tuhan genetis'.

Dalam kehidupan manusia, kekuatan mekanistik evolusioner gen yang membentuknya telah mengambil alih berbagai peran yang secara tradisional diperuntukkan bagi ilah (deity) supranatural. Sebagian orang mesti akan menganggapnya sebagai bentuk penghinaan atau hujatan terhadap Tuhan, namun orang lain mungkin menilainya biasa-biasa saja. Aneka tanggapan yang bertolak belakang itu mencerminkan situasi filsafat masa kini yang bersifat paradoks. Karena, ajaran agama dan rasionalisme sains terpaksa berdampingan sebagai dua sarana memperoleh makrifat pengetahuan yang sama-sama kuat, namun bertentangan (hal 7).

Penemuan Avise jika dipahami secara agnostik jelas akan menjadi dekonstruksi paling ampuh untuk melumpuhkan peran Tuhan Sang Pencipta. Betapa tidak! Avise secara jujur mengatakan gen menjadi dalang bagi semua kehidupan kita, memengaruhi tampilan fisik, kesehatan, perilaku, bahkan ketakutan dan hasrat. Gen menjadi alasan jasmani kita ada—untuk makan dan tidur, memerangi, mencintai, membenci, dan mengayomi, serta menjalin hubungan untuk berketurunan.

Untuk argumentasi itu, Avise mempunyai beberapa alasan. Pertama, gen mempunyai kekuasaan istimewa atas kehidupan dan urusan manusia sebagaimana dirasakan mereka yang menderita kelainan genetis serius.

Kedua, gen memengaruhi jalannya alam. Bahkan jalannya alam 'tidak lain' adalah evolusi biologis yang penjelasan paling sederhananya adalah perubahan genetis seiring dengan waktu.

Ketiga, garis keturunan gen punya potensi menjadi abadi dan memang sudah terbukti demikian selama miliaran tahun. Kehidupan yang evolusioner, sebagaimana dianut pandangan ini, sebetulnya merupakan genealogi garis-garis keturunan yang tak terputus dari perjalanan hidup selama miliaran tahun.

Tentang genesis atau asal-usul kejadian (hal 43-87), temuan Avise tentu saja menguatkan ajaran darwin yang lebih condong pada keniscayaan evolusi biologis kehidupan yang mengikuti doktrin seleksi alam dan doktrin mekanisme yang mengemukakan semua fungsi dan proses yang berlangsung dalam organisme hidup pada hakikatnya dapat dipahami sebagai fenomena fisika-kimia yang berlangsung dalam ajang evolusi.

Tentang penuaan dan kematian (hal 205-215) juga dinyatakan sebagai ciri yang berevolusi sebagai konsekuensi logis penurunan kekuatan seleksi alam pada kelompok umur lebih tua dalam populasi. Misalnya, kekuatan seleksi terhadap gen pada individu berumur 80 tahun niscaya lebih kecil daripada kekuatan seleksi terhadap gen yang sama pada usia remaja. Penuaan dan kematian terjadi bukan karena melanggar aturan evolusi tertentu, melainkan karena semata-mata seleksi alam kurang perhatian terhadap masalah tersebut.

Kita pasti akan tercengang jika melihat kedigdayaan metode ilmiah dalam menyibakkan aspek-aspek fisiologis manusia dan fitur metabolik. Bayangkan, pengaruh genetis bekerja sepanjang waktu melalui interaksi dengan lingkungan guna menghasilkan kondisi fisik yang memberikan atau menghilangkan kesehatan kita. Kedaulatan gen telah meluas hingga ke pengalaman manusia yang paling mendasar, yakni reproduksi seksual, penuaan, dan kematian.

Melalui penelaahan saintis itu, kita disandingkan pada pergulatan seru antara pengertian takdir dan keberimanan kita. Kala gen bisa begitu berpengaruh, masih adakah tempat berpijak bagi para agamawan? Bagaimana dengan kepercayaan keagamaan yang menempatkan Tuhan sebagai penguasa takdir manusia? Apakah keyakinan kita atas kemahakuasaan Tuhan akan bergeser setelah kini kita mengetahui kekuasaan gen atas takdir manusia?

Buku ini memang tidak dimaksudkan menekuni secara paripurna dampak evolusi terhadap ketuhanan, tetapi menghadirkan tantangan tersendiri bagi agama, filsafat, dan etik-moral hidup manusia. Dalam takaran yang berimbang, buku ini sebetulnya lebih menelisik temuan mutakhir di bidang genetika molekuler manusia dan kemajuan konsep dalam teori genetika evolusioner.

Jika terlalu dipaksakan dalam pandangan keagamaan melalui kaca mata kuda, tentu saja akan lain jawabannya. Tawaran yang lebih moderat ialah menerima penemuan saintis semacam itu sebagai sebuah perkembangan keilmuan terkini tanpa meninggalkan kritisisme yang baik. Bagaimanapun, selalu ada ketegangan antara sains dan agama, entah karena bertentangan secara doktrinal, prinsipal, ataupun perbedaan episteme. Sains berpijak pada pertanyaan-pertanyaan radikal, sedangkan agama lebih cenderung pada inklinasi iman yang tidak harus dipertanyakan terlebih dahulu.

Namun antara keduanya sebetulnya bisa saling menguatkan. Antara teologi dan penemuan dalam buku ini, misalnya, bertujuan memahami hakikat manusia terlebih dahulu dengan menghiraukan muatan ideologis atau isme dari pada evolusionis. Terlalu berlebihan jika memosisikan buku ini sebagai penguat kanonik terhadap ajaran-ajaran keagamaan yang tersurat dalam kitab suci apalagi jika ternyata hasilnya saling mengabrogasi layaknya temuan Galileo Galilei atas kepercayaan keagamaan di masa hidupnya. Karena buku ini amat berbeda dengan penelitian, misalnya, Maurice Buccaile yang berupaya menjawab rahasia dalam kitab Alquran dengan temuan saintifik, yakni proeksistensi antara wahyu dan ilmu sains.

Hemat saya, temua dalam erudisi ilmiah ini tetap menjadi khazanah perkembangan ilmu pengetahuan terkini yang faktanya masih memerlukan kinerja-kinerja sekuler di luar otoritas keagamaan. Catatan penting hanya satu, yakni berpikirlah terbuka. Karena, keterbukaan merupakan pintu awal dari hikmah pengetahuan apalagi di tengah kondisi umat beragama, khususnya umat muslim di Indonesia yang belum menapaki tangga ilmu pengetahuan secara menjanjikan.

Oleh Zacky Khairul Umam
Peneliti Program Studi Arab UI, Jakarta

dibaca oleh: 1591 pengunjung