Akar Radikalisme Kontemporer

Judul Buku: Selamatkan Islam dari Muslim Puritan
Penulis: Khaled Abou El Fadl

DI BAWAH gencarnya perkembangan modernitas saat ini, dalam melintasi momen transformasi global,Islam mengalami klaim kontradiktif. Interpretasi buruk yang muncul baru-baru ini terhadap Islam sangat “mencoreng” dan “menusuk” eksistensi Islam itu sendiri.

Setelah mencuatnya isu terorisme yang lahir dari kelompok Islam militan dan terjadinya berbagai peledakan pasca-serangan pada 11 September 2001 terhadap Gedung Pentagon dan WTC di AS,stereotip yang muncul kemudian adalah Islam merupakan agama yang identik dengan kekerasan, dikembangkan dengan pedang serta adanya kewajiban jihad dengan bom bunuh diri.

Dalam konteks ini, kondisi yang muncul selanjutnya adalah adanya skisma antara kelompok moderat dan puritan dalam Islam. Muslim moderat maupun puritan mengklaim diri sebagai representasi Islam yang paling benar dan otentik.Keduanya yakin bahwa mereka merepresentasikan pesan ilahiyah (ketuhanan) yang bersumber dari kitabullah (Alquran) dan sunaturrasul (Hadis).

Berlatar pada kondisi ini, Khaled Abou el-Fadl,guru besar hukum Islam di UCLA School of Law AS, melalui buku ini memberikan peta cukup komprehensif mengenai kedua ”kubu” pemikiran Islam yang akan banyak berperan dalam menentukan “pergumulan” masa depan itu. Dimulai dengan latar besar yang menjadi medan pergulatan keduanya dalam menafsirkan berbagai segi ajaran Islam, selanjutnya buku ini secara khusus menyoroti sejarah kelahiran muslim puritan (radikal) modern yang berbiak dalam ideologi Wahabisme dan menyebar dengan bendera Salafisme.

Abou el-Fadl kemudian membandingkan dan memperhadapkan pandangan kaum moderat dan puritan seputar isu-isu kunci yang tak hanya mencerminkan ketegangan kritis dalam Islam, tapi juga sering menjadi inti persoalan yang harus segera diatasi oleh umat Islam dan seluruh umat manusia. Dalam pandangan Khaled, mengapa arus ekstremisme (radikalisme) marak di dunia muslim sekarang?

Salah satu sebabnya adalah kare-na ‘’lembagalembaga tradisional” Islam yang secara historis bertindak meminggirkan aliran ekstremis tidak ada lagi.Inilah yang membuat periode sejarah Islam sekarang jauh lebih sulit dibandingkan periode yang lain dan inilah sebabnya mengapa orientasi puritanisme modern lebih mengancam integritas-moralitas dan nilai-nilai Islam,melebihi gerakan-gerakan ekstremis sebelumnya. Menurut Khaled, awal kebangkitan kaum puritan dimulai dari kaum Wahabi.

Dasardasar teologi Wahabi sendiri dibangun oleh seorang fanatik abad ke-18, yakni Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab (1792 M). Dengan semangat puritannya, ‘Abd al-Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam seperti tasawuf, tawasul, rasionalisme, ajaran Syiah dan berbagai praktik inovasi bidah. Wahabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme.‘Abd al-Wahhab sendiri gemar membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatus kafir.

Kaum Wahabi juga melarang penggunaan gelar penghormatan seperti ”tuan”, ”doktor”, ”mister” atau ”sir”. Imbuhan seperti itu adalah sebentuk penyekutuan terhadap Tuhan. Menggunakannya bisa menjadikan seorang muslim berstatus kafir (hlm.62). Menurut Khaled, puritanisme kontemporer memang umumnya muncul dari rahim Wahabisme. Taliban dan Al- Qaeda merupakan salah satu bentuknya.Jadi,tidak mengherankan jika seorang Usamah bin Ladin diterima baik dalam kultur Taliban karena persamaan doktrin yang dianut,dengan catatan jasa Amerika Serikat cukup besar dalam mendukung puritanisme ini sewaktu menghadapi pasukan Uni Soviet di Afghanistan.

Terlepas dari seputar perselisihan pemahaman tentang Islam antara kaum puritan dan moderat,pada dasarnya keduanya merupakan produk modernitas sekaligus ingin menjawab tantangan modernitas. Dengan mengupas tema-tema seperti demokrasi dan hak asasi,peran kaum perempuan,interaksi dengan nonmuslim hingga soal jihad dan terorisme, Khaled –melalui buku yang berjudul asli The Great Theft; Wrestling Islam from the Extremists ini– berupaya membangun visi Islam moderat yang amat diperlukan saat ini untuk merebut kembali tradisi moral Islam yang ramah tanpa kekerasan.

Buku ini adalah semacam jihad tandingan untuk menyelamatkan Islam dari ekstremisme (radikalisme) dan bidah kaum puritan. Maka, buku ini bisa menjadi jembatan untuk membukakan pintu dialog yang lebih terbuka menuju kemaslahatan universal.(*)

Lukman Santoso Az,
Peneliti pada CSRC Yogyakarta

dibaca oleh: 1553 pengunjung