Kisah Kesuksesan Pelajar Tanpa Pengajar

NOVEL teranyar Simon Winchester yang berjudul The Professor and the Madman ini,menghadirkan kisah anak desa dari rakyat Inggris (James Murray) yang meraih kesuksesan dalam mengarungi hidup melalui pendidikan yang dicipta sendiri alias autodidak.
Anggaran pendidikan yang diberikan orangtua kepada James Murray ternyata tidak dapat menyanggupi kelangsungan pendidikan James di lembaga pendidikan formal, yang bernama Grammar School.Dengan terpaksa,James diharuskan berhenti menimba ilmu di Grammar School.

Keadaan seperti itu ternyata tidak menyurutkan semangat James menimba ilmu. Dengan hati pasrah dan menerima kenyataan ekonomi keluarganya, James berusaha tidak menyalahkan orang lain, apalagi mengutuk pemerintah yang tidak memperhatikan pendidikan dirinya. Walaupun tanpa belajar di Grammar School, James memanjakan hasratnya untuk meneguk pengetahuan dengan belajar sendiri atau autodidak.


Melalui buku-buku––yang didapatkannya secara tidak sengaja atau dari perpustakaan––dia belajar ilmu pengetahuan. Untuk menjaga dan meningkatkan semangatnya dalam menimba ilmu secara autodidak, di setiapbukulatihan,Jamesmemasang kata-kata penyemangat di halaman bagian depan, yakni Knowledge is Power(pengetahuan adalah kekuatan) dan Nihil est Melius Quam Vita Diligentissima (tak ada yang lebih baik dari hidup yang sangat rajin) (hlm.54).

Berkat kerajinan dan ketekunan, pada usia lima belas tahun, James dapat menguasai bahasa Inggris,Prancis, Italia,Jerman, Yunani, dan Latin. Berbekal penguasaan bahasa yang cukup mewakili bahasa dunia waktu itu, James dapat lebih leluasa dalam menggali ilmu dari berbagai buku. Karena hasrat mencari ilmu yang lebih tinggi semakin menjadi-jadi, James rela menanggalkan kariernya. Kemudian bersama keluarga, James urban ke London.

Di sana James belajar bahasa Hindustan dan Persia Achaemenid. James kemudian berkenalan dengan Alexander Allis (ahli matematika) dan Henry Sweet (ahli fonetik). James bergabung dengan anggota Philological Society (Himpunan Filologi) ternama di London (hlm.67). Pada April 1879, James Murray ditunjuk sebagai editor kamus Oxford English Dictionary (OED) yang akan digarap. Karena masih kekurangan data (kata), dia mencetak 2.000 lembar selebaran.

Usaha penyebaran undangan yang dilakukan James pun tidak sia-sia. Undangannya direspons positif oleh para pengguna bahasa Inggris dan tidak terkecuali Dr William C Minor. Dr Minor adalah seorang narapidana Broadmoor dari golongan narapidana yang kesehatan jiwanya tidak stabil,kadang sembuh dan kadang kambuh.Minor menjalani hukuman karena menembak George Marret sewaktu penyakitnya kambuh.Di sela-sela kesembuhannya, Minor memanfaatkan buku-buku perpustakaan yang tersedia untuk mengisi waktu luang.

Singkat cerita,proyek penyusunan kata dari bahasa Inggris tersusun sukses hingga menjadi 12 jilid buku, kemudian diberi nama Oxford English Dictionary (OED). Sampai sekarang kamus ini diakui dunia sebagai karya agung.Kamus paling otoritatif yang menjadi acuan para hakim, pembuat undang-undang, cendekiawan, filsuf,pengarang,dan pengguna bahasa Inggris pada umumnya.

Kesuksesan-kesuksesan yang diraih para penikmat OED ini, ternyata tidaklah lepas dari semangat, kerajinan dan ketekunan para penimba ilmu yang tidak berhadapan langsung dengan gurunya.(*)

Sungatno, Pemerhati Pendidikan dan Pustakawan Dua Mata Air

dibaca oleh: 1492 pengunjung