Kisah Si Gila Menggeluti Rimba Aksara

Judul buku: The Professor and The Madman
Penulis: Simon Winchester
Penerbit: Serambi Jakarta
Cetakan: 1, Maret 2007
Tebal: 245 halaman

Dunia aksara adalah lorong panjang yang penuh rimba kemungkinan. Butuh keuletan dan kedisiplinan tinggi untuk menggelutinya. Satu kata, bahkan satu huruf, lahir lewat sejarah yang kompleks dan penuh makna. Dalam huruf-huruf itulah manusia memahat sejarah hidupnya; sejarah kehancuran dan kegemilangan . Manusia akan kehilangan artefak sejarahnya ketika manusia lalai dengan kata-katanya sendiri. Siapa yang sukses memahat sejarah huruf dan kata, dialah yang berjasa membangun fondasi sejarah dunianya dan dunia sekitarnya.

Novel ini menceritakan ihwal "si gila" yang sukses mencatat sejarah hidupnya menggeluti dunia aksara. Dialah orang yang menjadi kontributor utama Oxford English Dictionary ; kamus teragung sepanjang sejarah yang terdiri atas 12 jilid aksara, 414.825 kata yang didefinisikan, dan 1.827.306 kutipan ilustratif. Kamus inilah yang sampai detik ini masih menjadi yang paling otoritatif dalam kemajuan dunia bahasa di Eropa bahkan dunia. Belum ada kamus yang mencatat sejarah sebanding, apalagi melebihi, sejarah sukses kamus Oxford . Di bangku penelitian setiap peneliti ilmu pengetahuan terpajang kamus mahakarya ini.

Simon Winchester berhasil menelusuri ihwal asal-usul kamus Oxford yang menghabiskan waktu sampai 70 tahun itu. Pada abad ke-16, Eropa masih miskin konsep tata bahasa. Karya-karya sastra belum mempunyai aturan yang baku ; serampangan, yang penting estetis. Pada abad ke-17, ketika spirit pencerahan mulai menyeruak di sekeliling Eropa, lahirlah ilmuwan, sastrawan, dan teknologi yang pesat. Dalam dunia sastra, di Inggris lahir sosok legendaris bernama Samuel Johnson yang menyusun A Dictionary of the English Language . Karya Johnson merupakan karya pertama cendekiawan Inggris yang mampu mensistemisasi rangkaian sebuah aksara.

Melihat antusiasme publik terhadap kamus Johnson, pada 1850-an, Oxford University menyiapkan sebuah kamus agung yang dapat dijadikan induk bahasa sekaligus menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa peradaban dunia. Dibentuklah Komite Kata-kata yang bertugas menjadi editor pembuatan kamus. Komite Kata-kata ini membuat surat edaran kepada publik agar ikut serta dalam membuat kamus tersebut. Herbert Coleridge menjadi ko -editor pertama proyek prestisius tersebut. Belum sempat tercapai impiannya, Coleridge meninggal dunia. Kemudian ia digantikan oleh Furnivall , yang meneruskan agenda-agenda Coleridge. Tanpa alasan yang jelas, pada 1879 Furnivall angkat tangan atas proyek tersebut.

Untunglah, waktu itu hadir sosok yang berkomitmen tinggi bernama Prof James Murroy . Awalnya, sang profesor sangsi akan kemampuannya sendiri untuk memikul beban berat itu. Tapi, menurut pihak kampus Oxford , Prof Murroy-lah yang paling pantas menyukseskan proyek itu. Prof Murroy membangun pondok markas besar penyuntingan dari seng di tanah milik Mill Hill School . Pondok itu dinamakan Scriptorium. Prof Murroy kemudian mengedarkan selebaran yang mengundang warga di seluruh penjuru Inggris Raya berpartisipasi menciptakan kamus prestisius yang tak kunjung kelar .

Selebaran itu sampai juga di sebuah rumah sakit jiwa (RSJ) dan dibaca oleh "si gila" bernama W.C. Minor yang gemar membaca. Ternyata, "si gila" itu tertantang ikut serta menjadi kontributor. Minor adalah sosok yang unik. Dia hidup di RSJ, tapi setiap hari melahap sekian buku yang bertumpuk di kamarnya. Minor bukan sosok biasa. Dia pernah membunuh seseorang. Tapi karena dinyatakan gila, dia "dipenjara" di RSJ. Gila ala Minor sangat unik. Di saat gilanya kumat, dia akan bergumam sendiri. Tapi ketika waras, dia akan merenung dan mengembara dengan beragam imajinasi. Tak lupa ia melahap buku yang memang dipesan dari saudaranya dan pemilik RSJ.

Siapa sangka, dialah "si gila" yang menjadi kontributor utama kamus Oxford . Sejak menerima selebaran pengumuman, Minor setiap hari bergelut dengan buku. Dia menemukan banyak kata yang rumit. Dengan tekun, ia mengirimkan hasil riset kepada Prof Murroy sebagai ko -editor. Karena ketekunan inilah, Prof Murroy penasaran terhadap Minor. Prof Murroy ingin bertemu dengannya. Sang profesor mengirim surat kepada Minor.

Ketika berkunjung di musim dingin 1889, sang profesor kaget bukan kepalang karena mendapati sosok cerdas itu adalah penghuni RSJ. Pertemuan dua sosok manusia inilah yang oleh dunia sastra Barat dimaknai sebagai pertemuan paling agung dalam sejarah sastra dunia. Pertemuan yang sarat emosi dan penuh makna.

Perjuangan kedua "si gila" baca dan tulis tersebut adalah bukti bahwa peradaban dunia (Barat) dibangun atas jerih payah mereka yang meneteskan keringat demi menghasilkan huruf dan kata. Mereka inilah yang telah menyusun pilar yang menyangga peradaban dunia hingga kini. Jerih payah mereka menjadi bukti dan saksi sejarah bahwa menggeluti dunia aksara adalah pekerjaan yang penuh keuletan, kedisiplinan, dan kesabaran.

Tak pelak lagi, novel yang sarat dengan tetesan darah dalam menggali kata dan sejarah centang -perenang dunia aksara ini akan menjadi spirit pembaca menggeluti dan mengembara di dunia aksara yang rumit dan eksotik.

muhammadun as, pengelola taman baca kutub yogyakarta.

dibaca oleh: 1784 pengunjung