Ziarah, Kewalian, dan Tempat Suci Itu

Makam wali adalah kawasan damai di tengah keributan dunia.

DEMIKIAN tulis Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot dalam pendahuluan buku Ziarah & Wali Di Dunia Islam (Ecole Francaise d"Extreme-Orient Forum Jakarta-Paris: 2007). Buku ini memaktubkan sejumlah tulisan dan telaah menarik dari para sarjana Prancis ihwal fenomena dan tradisi ziarah makam wali dalam dunia Islam, sejak dari kawasan Magribi (Aljazair, Moroko, Tunisia), Irak, Mesir, Sudan, Afrika Barat, Iran, India, Bangladesh, Pakistan, India, Turki dan Asia Tengah, Balkan, Tiongkok, hingga makam Sunan Gunung Djati di Cirebon dan makam Kiai Telingsing di Jawa Tengah.

Buku ini menarik, sekaligus unik, karena seluruh telaah di dalamnya secara informatif mengungkap bagaimana fenomena tradisi ziarah makam para wali senantiasa merepresentasikan sintesa agama dan konteks kulturnya dalam panorama keberbagaian, yang sekaligus bermuara menjadi sesuatu yang global dan universal, yakni pemaknaan orang suci (wali) dan jejak biografinya yang menjadi tempat suci.

Seperti dengan mudah kita saksikan di makam Sunan Gunung Djati Cirebon, makam wali, tulis Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot dalam pendahuluan buku itu, adalah tempat pengungkapan perasaan religius yang bebas serta juga tempat memelihara ritus-ritus kuno. Jika amal sembahyang di masjid mencerminkan keseragaman dunia Islam, maka amal ziarah ke makam wali mencerminkan keanekaragaman budaya yang tercakup dalam dunia Islam.

Makam wali, tulis keduanya lagi, adalah juga tempat pelarian, tempat orang merasa bebas dari berbagai paksaan, dan tempat merenungkan nasibnya, juga tempat berlindung sebentar untuk bermacam orang pinggiran: pengemis, orang cacat badan atau jiwa, pengelana, buronan, dan sebagainya.

Mengesampingkan terlebih dulu sejumlah kritik dan keberatan terhadap fenomena tradisinya, ziarah ke makam para wali diakui atau tidak telah membawa ingatan kita pada segenap hubungan antara orang suci dan tempat suci dalam pemaknaan waktu dan ruangnya. Tak ada satu pun tempat suci dalam tradisi ritus agama-agama besar yang tidak berhubungan dengan peristiwa bersejarah dalam hidup orang-orang suci, sebutlah nabi dan rasul. Tempat atau tanah suci inilah yang kemudian tak sekadar dipercaya sebagai kutub dari seluruh kesadaran transenden, namun juga yang lantas berkaitan dengan ihwal identitas. Penyebaran agama-agama ke berbagai belahan dunia, sebutlah Islam, telah membuat tanah suci itu (Mekah) semakin jauh dan mistis, sehingga membuat umatnya menciptakan tempat-tempat suci baru yang dianggap cerminan dari tanah suci yang sebenarnya. Karena itulah, tulis Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, sesungguhnya hanya satu tempat saja yang ditunjuk oleh sejarah sebagai tanah suci, tetapi umat terus memperbanyak jumlah itu, sambil menyucikan negerinya masing-masing dan menciptakan peta kesucian baru.

Dan proses penghadiran peta kesucian baru ini meniscayakan hubungannya dengan identitas pengeramatan manusia yang kemudian tersebut sebagai wali. Oleh karena dalam Islam tidak ada lembaga yang bertugas mengesahkan kewalian, maka masyarakatlah yang mengangkatnya menjadi wali yang erat kaitannya dengan jaringan kehidupan tarekat serta yang secara genealogis merujuk pada Nabi Muhammad saw. sebagai kutub dari seluruh identifikasi orang suci. Para wali tentu saja merupakan pewaris spiritual Rasulullah, akan tetapi mereka bukanlah jembatan langsung dengan nabi yang didambakan itu. Oleh karena itu, setiap golongan manusia mereka-reka berbagai silsilah buatan guna menghubungkan para wali mereka langsung dengan Rasulullah saw.

Dalam hal inilah Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot memandang bagaimana para wali membentuk sebuah jaringan rantai panjang yang melalui fenomena pengeramatannya, menghubungkan para peziarah dengan sang penerima wahyu Ilahi. Setiap wali akhirnya menjadi leluhur baru buat satu marga, satu desa, satu daerah, bahkan satu bangsa.

**

JIKA Giddens (1994) ada menyebut sebagai kontrol atas waktu, sifat moral tradisi erat-terkait dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang dihubungkan; maka demikian pula dengan tradisi fenomena ziarah makam para wali. Waktu, bahkan juga ruang, dalam ritus ziarah, dikontrol melalui kesadaran atas proses penghadiran sosok wali. Seorang wali dan makamnya yang dikeramatkan, di situ dibayangkan menjadi mediator antara hari ini dan masa lalu, antara orang kebanyakan dan Rasulullah saw. sebagai kutub dari kesadaran atas orang-orang suci.

Menariknya, seluruh prosesi ritus di makam para wali dan letak geografisnya sebagai tempat suci amat kuat dipengaruhi oleh penafsiran ihwal alam sebagai ruang sakral. Nyaris seluruh makam keramat di Jawa cenderung berada di atas bukit untuk menjelaskan pemaknaan simboliknya dalam khazanah budaya lokal. Dan ini tak hanya ada dalam tradisi Islam di Jawa. Sendang Sono di Yogyakarta, tempat di mana umat Katolik berziarah juga menyimbolkan bukit sebagai perjalanan menuju ke pusat kesadaran mistis.

Sendang Sono dianggap menjadi tempat suci bagi umat Katolik sehubungan dengan kepercayaan akan penampakan Maria di mulut goa. Perjalanan para peziarah ke tempat itu harus menaiki bukit dengan anak tangga yang melelahkan. Seluruhnya ini diandaikan menjadi simbol peristiwa penderitaan Kristus menuju puncak Golgota. Tradisi ziarah dalam konteks ini menjelaskan apa yang dimaksud Giddens, yakni tradisi dalam pemaknaannya sebagai media pengatur memori kolektif.

Dan satu hal yang selalu terdapat di berbagai tempat suci adalah keberadaan air keramat yang diyakini mengalir dari masa lampau bersama kesucian tempat itu. Pada tempat-tempat suci umat Islam, agaknya hal ini untuk mengutuhkan seluruh replika tentang Mekah dengan keberadaan air zamzamnya. Lepas dari soal itu air di situ menjadi relik yang tidak hanya dilihat dari hubungannya dengan masa lalu, tapi lebih menekan pada faktanya yang berada di tempat yang dianggap suci. Selain air biasanya juga terdapat sejenis binatang tertentu yang dianggap keramat, dari mulai ikan, ular, hingga kera yang pantang diganggu.

Bagi para peziarah, berdoa dan bertirakat di tempat suci adalah ikhtiar untuk berkomunikasi dengan isyarat ketuhanan yang tak terjangkau. Namun seluruh ikon, relik, dan prosesi ritual di tempat yang dikeramatkan itu, sekonyong-konyong menjadi medium yang mentransformasikan ruang kekinian yang profan ke dalam waktu dan ruang masa lalu yang penuh mistis dan suci.

"Apakah air itu menyembuhkan atau tidak, itu tidak lagi penting. Orang di situ membutuhkan isyarat-isyarat Ilahi meskipun kebenarannya hanya dari mulut ke mulut. Seperti Sendang Sono bagi umat Katolik, tempat-tempat seperti itu menjadi tujuan imajiner," ujar Guru Besar Ilmu Filsafat Unpar Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, seraya menyebutkan air dalam kepercayaan berbagai agama memang senantiasa menjadi simbol dari kehidupan dalam konteks penyucian.

Jarak waktu dan ruang memang telah menciptakan berbagai kesadaran tentang pengalaman mistis yang terdapat dalam tradisi ziarah. Dalam pandangan Bambang Sugiharto, jarak itulah kemudian dalam fenomena ziarah berpeluang membangkitkan kesadaran-kesadaran spiritual. Inilah yang juga disepakati oleh staf pengajar teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung Bambang Q-Anees. Jarak waktu dan ruang bagi para peziarah menerbitkan kesadaran spiritual imajiner bahwa ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar meski tak bisa menjangkau puncaknya.

"Seolah menaiki anak tangga. Meski sadar bahwa mereka tak bisa mencapai puncak tangga di mana di situ bermukim orang-orang suci hingga Rasulullah, tapi menapakkan kaki di anak tangga pertama pun diyakini ia sudah berada di tangga. Artinya, mereka merasa sudah berkomunikasi dengan orang suci," paparnya.

Menjadi bagian dan luluh ke dalam semesta misteri kegaiban tempat-tempat suci adalah juga bagian dari bagaimana identitas itu dimaknai. Tak sedikit tempat suci yang dipercaya sebagai pusat atau poros dunia. Pusat atau poros dimaksud lebih menekan pada poros kesadaran. Terlebih lagi sesuatu yang sakral senantiasa bersifat komunal.

Dalam konteks ini, Bambang Sugiharto menilai sakralitas di situ tidak lagi melulu karena hubungannya dengan masa lalu, tapi karena ribuan orang berkonsentrasi di tempat itu sehingga memancarkan energi spiritual. Seraya sependapat dengan Bambang Sugiharto, Bambang Q-Anees menilai tak jarang ada banyak makam wali meski wali itu sendiri hanya satu. Tapi para peziarah tak pernah memilih mana makam wali yang benar, sebab ziarah lebih merupakan unsur rasa ketimbang nalar kebenaran sejarah.

Makam wali dan para peziarah, akhirnya, adalah pertemuan yang kerap menakjubkan tentang bagaimana tradisi dan identitas itu dimaknai. Tentu saja hal ini tanpa kemudian mengabaikan fenomena berikutnya, yakni ketika para peziarah hanya datang membawa kepentingan- kepentingan yang serba- pragmatis. (Ahda Imran)***

dibaca oleh: 2094 pengunjung