Kilau Sebuah Merah Delima

Judul buku: My Name is Red
Sub Judul: Namaku Merah Kirmizi
Judul Asli: Benim Adim Kirmizi
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Atta Verin
Penerbit: Serambi
Jumlah halaman: 725 ; 23 cm

Sekiranya saja, makhluk-mahkluk berupa: sesosok mayat, seekor anjing, sebatang pohon, sesosok kematian, seulas warna merah, setan dan seekor kuda dapat berbicara, dan kemudian berkomunikasi seperti manusia lumrah pada umumnya. Apa yang bakalan terjadi? Inilah salah satu, dari begitu banyak keunikan yang dapat kita temui dari gaya bertutur Orhan Pamuk , peraih hadiah Nobel Kesusasteraan Tahun 2006. Dengan novel ini, tak pelak lagi Orhan telah mengukuhkan dirinya sendiri sebagai salah satu penulis Turki yang paling terkemuka, dan sekaligus novelis terbaik dunia saat ini.

Terlepas dari kenyatan bahwa Pamuk adalah peraih hadiah nobel, dan juga sejumlah hadiah sastra terkemuka dunia lainnya seperti Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (dari Pemerintah Perancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (dari Italia) dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (dari Irlandia) Pamuk telah menunjukkan reputasi kepenulisannya yang benar-benar memukau dan menarik perhatian besar di dalam karyanya yang fenomenal ini.

Coba kita simak, bagaimana Pamuk mengawali bab pertama novel ini dengan judul bab yang sangat tidak konvensional: "Aku Adalah Sesosok Mayat" Semenjak mula, pembaca sudah berhasil disihirnya dengan keahlian tehnik bercerita ala dongeng 1001 malam, yang memaksa pembaca untuk terus-menerus mengikuti alur cerita yang sarat dengan ketengangan dan juga merangsang imajinasi ini.

Selanjutnya kisah mengalir dengan deras, lewat gaya bertutur Pamuk yang cerdas, berani dan sekaligus memukau. Semenjak awal pembuka bab pertama, pembaca akan dibawa masuk ke dalam labirin penuh liku-liku sebuah petualangan ala detektif dari seorang laki-laki bernama Hitam di dalam upayanya untuk mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik kematian seorang miniaturis (seniman yang bertugas memberi hiasan pada buku-buku pesanan istana) yang dibunuh secara misterius. Dengan sangat jenial, Pamuk memaksa masing-masing tokoh-tokohnya yang meliputi berbagai karakter, dari yang paling masuk akal hingga yang paling ganjil untuk berbicara di sepanjang alur cerita, yang mengalir begitu cepat dan penuh dengan pergulatan batin, intrik sosial politik, dan juga bumbu-bumbu percintaan.

Kisah yang dipersiapkan dan ditulis dalam waktu enam tahun ini, dilatari oleh sejarah kesultanan Ustmaniyah dan juga menampilkan sisi gemilang dari simbol tonggak kejayaan peradaban Islam terakhir - kota Istambul Turki - yang sangat artistik dan sekaligus mempesona. Karya Pamuk ini, secara cemerlang telah berhasil meramu sebuah kisah berlatar sejarah pertentangan antara budaya Timur dan Barat, dengan kisah percintaan yang panas dan menggebu, serta petualangan detektif menegangkan yang penuh dengan misteri dan mengandung begitu banyak renungan filsafat sekaligus.

Ibarat sebuah ruby, batu merah delima yang mampu memancarkan kilau yang begitu mempesona. Novel "My Name is Red" dapat disetarakan dengan sebuah 'precious stone.' Dengan begitu gamblang, novel ini telah menjawab kontroversi yang beredar di sekitar fenomena estetika Pamuk yang sempat iperdebatkan oleh banyak kalangan, sebelum kemudian akhirnya ia dikukuhkan sebagai penerima hadiah nobel sastra tahun 2006. Dan oleh karena itulah, maka novel "Namaku Merah Kirmizi" yang diterjemahkan oleh Atta Verin dengan sangat bagus ini, patut dijadikan bacaan wajib dan menjadi bagian dari harta berharga koleksi perpustakaan pribadi. Terutama bagi mereka, yang memiliki minat besar pada bacaan-bacaan berkualitas dan sekaligus menghibur.

Titon Rahmawan - 2007

dibaca oleh: 1394 pengunjung