Aku Marah,Maka Aku Ada

MANUSIA dan kemarahan seperti dua sisi dari sekeping mata uang.Kemarahan itu given,wajar saja kalau seseorang pusing tujuh keliling disebabkan sirnanya selera marah.

Meminjam doktrin skeptis-metodisnya Descartes, adagiumnya bisa berbunyi anekdotal: aku marah, maka aku ada. Jadi, tunggu apa lagi? Marahlah selagi bisa! Kemarahan sering kali menjadi masalah jika tak terkendali dan berekses buruk.Pada faktanya, kemarahan kita yang datang secara tiba-tiba sering kali membuat kita menyingkirkan begitu saja kemungkinan bahwa sesungguhnya kita bisa mengendalikannya.

Kemungkinan itu didasarkan pada penelitian genital Robert Nay dalam buku ini yang menuturkan bahwa tidak peduli bagaimana kemarahan itu diekspresikan, ia selalu tersusun atas lima unsur,yaitu adanya pemicu,pikiran yang berkecamuk, perasaan gaduh,ekspresi dan pasif-agresif (hlm.65).

Penting kiranya untuk mengenali kelima unsur tersebut yang terejawantahkan dalam fisiologi kemarahan,yakni tanda dan gejala kemarahan yang memungkinkan kita untuk mempelajari dan menemukan faktor kemarahan dalam diri kita.Kita bisa mendeteksi detak jantung dan perubahan tekanan darah, laju pernapasan yang meningkat, respons gastro-intestinal (lambung dan darah), respons muskuloskeletal (otot tubuh), perubahan vaskular atau temperatur kulit, indra yang menajam serta perubahan kimiawi darah (adrenalin dan kortisol).

Dalam hidup ini, kadang-kadang tidak mudah untuk membedakan antara berkelakar dan mengolok-olok.Memang ada sebagian orang yang sangat mahir mengombinasikan kecerdasan dan sindiran tajam sebagai suatu cara melepaskan kemarahan lewat sebuah manuver intelektual. Karena itu, jika kita menjadi salah satu korban sarkasme, kita mungkin terluka,tetapi kita tidak tahu cara menafsirkan ucapan yang telah ditujukan kepada kita atau bagaimana menanggapinya.

Dan,memang kita bisa saja merasa bahwa kitalah yang memiliki masalah karena kita tidak cukup memiliki selera humor atau karena kita ternyata mudah sekali tersinggung. Membalas setiap sarkasme yang berlebihan dengan kekerasan atau kemarahan b(r)uta(l) bukanlah solusi. Yang lebih penting adalah bagaimana cara kita mengekspresikan kemarahan secara lebih produktif?

Lewat risetnya yang cerdas dan jeli ini, penulis memaparkan perlunya enam langkah manajemen kemarahan (hlm.86-7). Kita perlu memahami dan mengenali kemarahan kita dengan cara belajar mengidentifikasi apakah kemarahan kita itu merupakan masalah bagi kita dan orang lain.Kemudian, bersiap- siaplah menghadapi pemicu kemarahan yang merangsang kemarahan kita. Menyadari kemarahan sejak dini dan berusaha meredakan gejolak.

Mengubah berbagai pikiran yang memperparah kemarahan. Tetap bersikap tenang dalam situasi panas. Dan akhirnya, mempertahankan perilaku baru untuk menghadapi rintangan yang menghadang. Dengan membangun kebiasaan marah yang baru,kemarahan tidak lagi dianggap sebagai sebuah penyakit, dengan catatan, kita bisa memberikan muatan makna padanya serta menjadikannya lebih produktif. Memang, kemarahan bak pedang bermata dua.

Di satu sisi, bisa menghancurkan persahabatan atau harmoni keluarga kita. Di sisi lain, dapat memberikan manfaat jika dimuntahkan secara benar, misalnya saja ketika kemarahan kita butuhkan untuk menghalau kemungkaran demi kebenaran dan perjuangan hak. Maka, bagi siapa pun yang mengaku punya hobi pemarah, semoga buku ini dapat membangun kemarahannya menjadi lebih produktif dan bermakna.(*)

Robby H Abror
Pengajar FU UIN Yogyakarta

dibaca oleh: 1955 pengunjung