Membongkar Ideologi Muslim Puritan

Judul Buku: Selamatkan Islam dari Muslim Puritan
Penulis: Khaled Abou El Fadl
Cetakan: I, Desember 2006
Tebal: 388 halaman
Penerbit: Serambi, Jakarta

Di era modern ini banyak terdapat klaim kontradiktif yang dibuat atas nama Islam. Jika seseorang bertanya tentang Islam, maka berbagai tanggapan langsung bisa diperoleh begitu saja tergantung kepada siapa kita bertanya. Multiperspektif yng muncul belakangan terhadap Islam sangat terasa pasca serangan teroris 11 September 2001. Orang-orang Barat kerap mengeluhkan sulitnya mempelajari apakah Islam mendukung atau menolak praktik tertentu, seperti soal: penyanderaan, bom bunuh diri, jihad, dan kewajiban perempuan untuk berjilbab.

Pada faktanya, ada skisma antara muslim moderat dan kelompok puritan dalam Islam. Baik yang moderat maupun puritan mengklaim diri sebagai representasi Islam yang paling benar dan otentik. Keduanya yakin bahwa mereka merepresentasikan pesan Ilahi yang berakar di dalam Al-Quran dan Hadits. Tetapi kaum puritan menuduh kaum moderat telah menggubah Islam sehingga bisa merusaknya. Sebaliknya, kaum moderat menuding kaum puritan itu naif dan problematis karena telah salah menerapkan Islam sehingga mencemarkan agama itu sendiri.

Dalam bahasa lain, kaum puritan ini dapat dideskripsikan dengan istilah fundamentalis, militan, ekstremis, radikal, fanatik, jahidis, dan islamis. Sedangkan kaum moderat digambarkan sebagai kelompok modernis, progresif dan reformis, meskipun Abou El Fadl sendiri sebenarnya menolak menyamakan istilah-istilah tersebut untuk menggantikan kata moderat (hlm.27).

Dalam sejarah Islam, awal kebangkitan kaum puritan dimulai dari kaum Wahhabi. Kaum Wahhabi telah memengaruhi setiap gerakan puritan di dunia Islam di era kontemporer. Taliban dan al-Qaeda merupakan contoh kelompok Islam yang sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahhabi.
Dasar-dasar teologi Wahhabi dibangun oleh seorang fanatik abad ke-18 yaitu Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Dengan semangat puritan, 'Abd al-Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam, seperti tasawuf, tawassul, rasionalisme, ajaran Syiah dan berbagai praktek inovasi bid'ah.

Wahhabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme. ‘Abd al-Wahhab sendiri gemar membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatus kafir. Kaum Wahhabi juga melarang penggunaan gelar penghormatan, seperti "tuan", "doktor", "mister", atau "sir". Imbuhan seperti itu adalah sebentuk penyekutuan terhadap Tuhan. Menggunakannya bisa menjadikan seorang muslim berstatus kafir.

Kaum Wahhabi menyikapi teks-teks agama—al-Quran dan Sunnah—sebagai satu instruksi manual untuk menggapai model ideal dari negara kota Madinah yang telah dibangun Nabi. Menurut mereka, umat Islam akan terbebas dari keterbelakangan dan keterhinaan kolektif jika mau kembali berpegang pada ajaran Tuhan karena akan mendapatkan bantuan dan dukungan-Nya.

Kesederhanaan, ketegasan, dan absolutisme pemikiran keagamaan ‘Abd al-Wahhab menjadikannya menarik bagi sebagian umat Islam. Tetapi dalam penyebarannya, Wahhabisme tidak menggunakan benderanya sendiri. Mengingat asal-usul keyakinan Wahhabi yang marjinal, persebaran yang bersifat massif sulit dilaksanakan. Di era modern, Wahhabisme menyebar ke dunia muslim di bawah bendera Salafisme yang berdiri pada abad ke-19. Salafisme dimotori oleh para reformis muslim seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Al-Syaukani dan Jalalus Shan'ani dan kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Istilah salaf berarti “pendahulu”, dan dalam konteks Islam, pendahulu itu merujuk pada periode Nabi, para sahabat (salafus saleh), dan tabiin . Selain itu, istilah tersebut punya makna fleksibel dan lentur serta memiliki daya tarik natural, karena melambangkan otentisitas dan keabsahan. Istilah salafi dimanfaatkan oleh setiap gerakan yang ingin mengklaim berakar pada otentisitas Islam. Meskipun awalnya istilah itu dipakai kaum reformis liberal pada awal abad ke-20, kaum Wahhabi menyebut dirinya kaum Salafi. Tetapi hingga tahun 1970-an istilah itu tidak terkait dengan keyakinan Wahhabi.

Berbeda dengan Wahhabi, Salafi tidak membenci tasawuf. Para ilmuwan Salafi cenderung terlibat dalam praktek talfiq, yaitu memadukan beragam opini dari masa lalu demi memunculkan pendekatan baru terhadap berbagai problematika yang muncul.

Lantaran cinta dan kepedulian terhadap agama mereka baik kaum Salafi maupun Wahhabi sangat teguh membela keyakinan mereka dengan menampik tuduhan-tuduhan yang mempersalahkan Islam. Seruan untuk melakukan instrospeksi kritis, dalam pandangan kelompok ini, sama dengan menuduh Islam sebagai sesuatu yang tak sempurna atau cacat, dan dapat dimengerti bila mereka sangat tersinggung dengan tudingan tak langsung semacam itu.

Kaum puritan dan moderat merupakan produk modernitas yang sekaligus ingin menjawab tantangan modernitas. Perspektif mereka selalu berlawanan. Masa depan Islam ditentukan oleh seberapa besar peran dan sumbangsih keduanya untuk mengharumkan agama Islam serta memberikan bukti-bukti impresif dalam bidang kemajuan keilmuan bagi maslahah kemanusiaan. Buku ini bisa menjadi jembatan bagi ketegangan perspektif yang sering meruncing serta membukakan pintu dialog yang lebih terbuka demi memperjuangan jiwa Islam.

*) Robby H. Abror, Sekretaris Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Yogyakarta. Staf Pengajar Pondok Pesantren Puteri Nyai Ahmad Dahlan dan Perguruan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Yogyakarta.

dibaca oleh: 2774 pengunjung