Al-Quran Bertutur tentang Inklusivitas Keberagamaan

Judul Buku : Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan
Penulis : Jalaluddin Rakhmat
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, September 2006
Tebal Buku : 292 halaman
Harga : Rp. 34.900,-

Dalam konteks Islam keindonesiaan, wacana pluralisme memunculkan pro dan kontra. Majelis ‘Ulama Indonesia (MUI) terang-terangan telah menfatwakan haram terhadap pluralisme dan liberalisme. Kekhawatiran banyak pihak tentang wacana tersebut dipicu oleh kebebasan berpendapat kaum liberal yang cenderung kontroversial dan menimbulkan kegaduhan dalam upaya peneguhan keberimanan dan dianggap telah melukai perasaan umat Islam di Indonesia.

Buku Kang Jalal, sapaan akrab Jalaluddin Rakhmat, ini setidaknya menghadirkan perspektif lain yang mencoba menjembatani polarisasi antara kubu fundamentalis yang mempropagandakan perang melawan liberalisme dan kubu liberal yang bertekad kuat untuk menelanjangi ekslusivitas kaum fundamentalis.

Kang Jalal memberikan contoh, adalah Gamal al-Banna, seorang aktivis Muslim anggota Ikhwanul Muslimin yang kemudian berubah cara pandangnya dari sikap eksklusif menjadi seorang pluralis (hlm.17). Yang menarik dari pernyataan Gamal adalah cara dia melihat dunia dengan cara yang baru.

Menurut Gamal, Thomas Alfa Edison akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang kemudian digunakan oleh umat manusia sebagai penerang (hlm.17-18). Gamal mendasarkan argumennya pada QS Al-Baqarah: 62 yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ayat-ayat ini, dalam Tafsir Sayyid Husseyn Fadhlullah, tokoh Hizbullah Lebanon, ditegaskannya bahwa semua golongan agama akan selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh. Bagi sebagian mufasir yang eksklusif mengakui makna ayat itu, tetapi mereka menganggap bahwa ayat itu dihapus (mansukh) oleh QS Ali ‘Imran: 85 yang berbunyi, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.”

Tetapi bagi Husseyn, makna ayat ini (QS Al-Baqarah: 62) tidaklah bertentangan dengan ayat itu (QS Ali ‘Imrân: 85) dan tidak ada ayat yang dimansukh. Menurutnya, kata “Islam” pada Ali ‘Imran: 85 berarti Islam yang “umum, yang meliputi semua risalah langit, bukan Islam dalam arti istilah”, bukan Islam dalam arti agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Makna Islam dalam ayat itu berarti “kepasrahan total”. Ia menyindir orang-orang yang merasa akan selamat hanya karena nama atau penampilan lahiriah saja. Mereka disindir dalam QS Al-Nisa’: 123 sebagai orang-orang yang bersandar pada angan-angan (amâniyyun).

Kaum eksklusivis membantah ayat yang membenarkan pluralisme dengan tiga cara. Pertama, menurut mereka ayat ini (QS Al-Baqarah: 62) sudah dimansukh oleh QS Ali ‘Imrân: 85. Kedua, ayat ini hanya berlaku untuk orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin sebelum kedatangan Nabi saw. Ketiga, mereka menafsirkan "beriman kepada Allah" sebagai beriman kepada ajaran Islam, karena Allah adalah konsep khusus untuk Islam.

Mengapa harus ada berbagai agama? Kang Jalal (hlm.33-34) menyimpulkan tiga hal penting berdasarkan QS Al-Mâ’idah: 48 yang berbunyi, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (syir’atan wa minhâjan). Sekiranya Allah menghendaki nisacaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetpai Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (fastabiqû al-khayrât). Hanya kepada Allah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” Pertama, agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan pandangan hidupnya (akidah). Karena itu, pluralisme sama sekali tidak berarti semua agama itu sama. Perbedaan adalah realitas. Kedua, Allah tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal. Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. Ujiannya adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada umat manusia. Ketiga, semua agama itu kembali kepada Allah. Adalah tugas-Nya untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama.

Buku ini juga mengupas berbagai masalah khilafiyah kontemporer yang masih bersifat debatable. Meskipun berupa kumpulan tulisan, buku ini memiliki kelebihan yang khas dimiliki Kang Jalal: redefinisi terhadap konsep-konsep dalam Al-Qur’an—yang dianggap final—lewat teropong antropologis, tafsir sosial, psikologis dan historis. Melalui buku ini, pelbagai ketegangan sudut pandang yang meruncing selama ini diharapkan bisa dicarikan jalan keluarnya.*

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., Sekretaris Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Yogyakarta.

dibaca oleh: 1673 pengunjung