Labirin Argumentasi Cinta dan Maut

Judul : My Name is Red
Judul Asli : Benim Adim Kirmizi (1998)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Erdag M. Goknar

PREDIKAT novel sejarah membuat para pembaca novel ini langsung bertanya, "Siapa si Merah ini?" sejak halaman pertama. Tapi, kemudian kita akan menyimpulkan bahwa novel ini bercerita tentang misteri pembunuhan, karena Pamuk menamai bab pembukanya "Akulah Sesosok Mayat." Mayat dan Merah, apalagi kalau bukan pembunuhan? Sayangnya, dengan cerdik Orhan Pamuk seakan tidak rela pembacanya tegang terus --layaknya membaca novel misteri-- sejak bab awal. Ia mengemas alur cinta yang membingungkan di dalam novel berbentuk puzzle ini, seolah berharap pembacanya tersedak saat menikmati "ketersesatan" mereka dalam labirin argumentasi tokohnya.

Pamuk mengajak kita mendengar argumentasi dari setiap karakter utamanya seobjektif mungkin. Tidak cukup itu, ia juga ingin agar setiap benda yang terlibat ikut berargumentasi, dan kita sebagai pembacanya, mau tak mau menyimak argumentasi mereka. Seperti potongan-potongan puzzle, kita tidak hanya akan mendengar argumentasi seekor anjing, sekeping uang palsu, gambar sebatang pohon tua, atau warna merah itu sendiri, tapi juga mendengar detail dan alur cerita versi mereka masing-masing.

Dibuka dengan dongeng dari si mayat tentang kehidupan sesaat sebelum dan sesudah mati --siapa yang tidak akan penasaran dengan subjek ini?-- novel ini akan membawa kita pada kecamuk misteri pembunuhan seorang ahli sepuh andalan Sultan. Yang istimewa, awalan kisah ini diceritakan oleh si korban sendiri, orang yang sudah mati, si ahli sepuh. Lalu, Pamuk akan membuka dimensi lain kisah ini dengan menghadirkan argumentasi tokoh laki-laki utama yang mengantar alur cinta yang membingungkan itu. Ini seperti melihat dua sandiwara dalam satu panggung yang sama. Pada awalnya keduanya seperti dua jalinan kisah yang terpisah, Pamuk dengan sengaja membuat emosi pembacanya naik turun dengan keluar masuk dua labirin argumentasi itu. Merupakan kepiawaian Pamuk jika kemudian kedua labirin itu berpadu pada satu titik, menyatukan tokoh-tokohnya, dan membuatnya berujung romantis di akhir cerita.

Misteri pembunuhan ini mengajak para pembaca untuk melihat fanatisme dan kebingungan sekelompok masyarakat Muslim di Istanbul pada ujung abad ke-16 dari argumentasi-argumentasi yang berbeda di setiap babnya. Diceritakan, pada masa kekuasaan Sultan Murat III, pada sembilan hari musim salju tahun 1591, Sultan memerintahkan seorang ahli pembuat lukisan untuk mengumpulkan beberapa ahli lukis dan sepuh untuk membuat satu buku penuh berisi lukisan yang dibuat dengan gaya Eropa (Barat). Gaya yang kemudian dianggap penistaan terhadap ajaran Islam ini mengundang kontroversi dan kesalahpahaman masyarakat Muslim. Ketika si ahli sepuh terbunuh, petunjuk yang tertinggal hanyalah lukisan kuda yang belum selesai.

Hitam, anak asuh si ahli pembuat lukisan, kembali ke rumah induk semangnya untuk mencari cinta yang hilang dari putri enishte-nya itu, Shekure yang cantik jelita. Entah bagaimana Pamuk mendalami ambiguitas seorang perempuan, tapi harus saya akui, Shekure digambarkannya sedemikian utuh, lengkap dengan ketidaksempurnaannya: perasaan yang mendua antara dua lelaki, Hitam dan Hasan, adik iparnya --sementara itu, Shekure adalah ibu dua anak yang suaminya pergi ke medan perang dan lenyap tanpa kabar. Pamuk tidak hanya membahasakan seksualitas dan sikap jual mahal ala perempuan Ottoman abad ke-16, tapi juga menunjukkan kebingungan-kebingungan yang ditimbulkannya dengan bahasa yang romantis dan feminin.

Labirin cinta Shekure, dan labirin pembunuhan si ahli sepuh, bertemu dalam pembunuhan kedua dalam novel ini, yakni terbunuhnya ayahanda Shekure, yang membuat mereka harus merahasiakan kematian itu untuk bisa tetap menikah. Hal itu serta-merta mengantarkan Hitam --protagonis novel ini-- ke hadapan si pembunuh, dan membongkar misteri itu.

Labirin argumentasi ini ditutup Pamuk dengan pendekatan intim penulis dengan pembacanya. Orhan Pamuk menempatkan tokoh seorang bocah lelaki bernama Orhan dan ia membuat argumentasi terakhir dengan menuturkan betapa si Orhan inilah yang sesungguhnya menjadi si pencerita --dirinya sendiri-- dan kita pembacanya harus menerima semua subjektivitas si pencerita tanpa protes apa pun.

Saya selalu menemukan keasyikan bermain puzzle, tentunya yang tak terlalu rumit, apalagi puzzle berisi pembunuhan, intrik sosial, dan latar belakang sejarah dan peradaban Islam, yang diramu secara romantis dengan cinta, seks dan drama. My Name is Red menjadi novel tebal yang asyik dibaca lebih dari sekali, hanya untuk menguji, seobjektif apa kita meningkahi argumentasi.*** 

dibaca oleh: 2925 pengunjung