Prajurit Juga Manusia

Judul: The Things They Carried
Penerjemah: Sofia Mansoor
Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 29/10/2006

HOLLYWOOD telah banyak menipu kita dengan film-film laga yang sering kita tonton di televisi maupun bioskop. Kita selalu melihat dalam film-film tersebut bahwasanya Amerika adalah pemenang di segala medan perang. Rambo adalah salah satu contoh dari citra kedigdayaan Amerika di medan perang Vietnam.

Amerika seolah tidak mau mengakui kekalahannya di Vietnam. Kita selalu terkontaminasi dengan film Rambo dan melupakan film lain seperti Platoon. Oliver Stone sang sutradara berusaha menggambarkan kondisi prajurit Amerika di rimba Vietnam. Mungkin hal itu tidak sulit bagi Stone karena dia juga veteran perang Vietnam.

Tulisan Tim O’Brien ini juga berusaha melukiskan kehidupan prajurit Amerika di Vietnam. Seperti halnya Oliver Stone, Tim O’Brien juga veteran Vietnam. The Things They Carried  ditulis oleh Tim beberapa tahun setelah kembali dari Vietnam. Tim menuliskan kebimbangannya sebelum dikirim ke Vietnam sebagai prajurit infanteri sejak tahun 1969–1970.

Saat itu Tim baru saja lulus kuliah di Macalister College di St Paul. Sempat terpikir oleh Tim untuk lari ke Kanada untuk menghindari wajib militer seperti yang dilakukan oleh petinju legendaris Muhamad Ali. Belakangan gelar juara Ali dicabut lantaran menolak wajib militer tersebut. Membaca The Things They Carried serasa menonton film Platoon.

Kita akan melihat prajurit Amerika yang masih muda belia harus menyandang senapan M- 16 dan memasuki hutan Vietnam yang sangat asing bagi mereka. Tim mengisahkan pengalamannya yang penuh darah di Vietnam. Tim menggambarkan sosok-sosok kawan seperjuangannya di Vietnam satu persatu yang tergabung dalam sebuah peleton yang dipimpin Letnan Jimmy Cross.

Peleton tempat Tim bernaung adalah bagian dari kompi Alfa. Mereka melakukan patroli menyusuri alam Vietnam dan melakukan pembersihan terhadap prajurit Vietcong. Tidak jarang mereka memasuki kampungkampung dan melakukan pemeriksaan terhadap penduduk untuk mencari informasi tentang prajurit maupun mencari prajurit Vietcong dan simpatisannya di kampung yang dimasuki.

Tentu saja penduduk desa ketakutan dengan aksi prajurit Amerika yang menodongkan senjata ke arah mereka. Peleton pimpinan Jimmy Cross terkadang mirip dengan Depot Speciale Troopen pimpinan Westerling di Sulawesi Selatan pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia dulu.

Selain memasuki kampung mereka juga harus mencari gua-gua yang merupakan rumah bawah tanah bagi prajurit Vietcong. Prajurit Amerika yang kebanyakan masih muda sebenarnya sama saja dengan anak muda Amerika sekarang. Mereka suka minum bir atau merasakan pengalaman seksual dengan lawan jenisnya. Terkadang mereka berceloteh tentang Jenderal Westmoreland, panglima tentara Amerika Serikat di Vietnam atau pejabat kepresidenan di Gedung Putih. Prajurit juga manusia.

Itulah yang ingin diungkap Tim O’Brien dalam buku ini. Di balik sosok seram dengan senjata yang disandangnya mereka memiliki ketakutan dan kerinduan seperti halnya manusia lainnya. Di antara mereka juga merindukan kehangatan keluarga dan seorang kekasih.

Sebagai manusia, prajurit Amerika di Vietnam sedikit banyak membaca perkembangan perang. Mereka melihat bayangan kekalahan di depan mata mereka. Apa yang tulis oleh Tim dalam buku ini atau apa yang disajikan oleh Stone dalam Platoon adalah bagian dari generasi Amerika yang menjadi tumbal dari politik Gedung Putih.(*)

Petrik Matanasi,
Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 

dibaca oleh: 2465 pengunjung