Demokrasi Menuntut Kesetaraan Kaum Beriman

Judul Buku: Beda Tapi Setara: Non-Islam dalam Pandangan Islam
Penulis: Abdul Aziz Sachedina
Tebal: 248 halaman

BELAKANGAN ini banyak didiskusikan mengenai memudarnya kerukunan hidup beragama, dibandingkan sepuluh tahun lalu. Apalagi situasi tahun-tahun belakangan ini yang penuh dengan kekerasan, mengindikasikan suatu kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara yang mulai kelihatan tidak toleran dalam hubungan antarumat beragama, lebih spesifik dalam hubungan Islam-Kristen dan sebaliknya, yang banyak diwarnai oleh sentimen, yang setidak-tidaknya dampaknya telah ikut merusak kerukunan hidup beragama. Kenyataan faktual dewasa ini, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang mulai membenarkan intoleransi dan kekerasan, memang merupakan kenyataaan pahit yang kita rasakan bersama, yang harus kita terima dengan keterbukaan, agar dapat menjadi pemicu untuk membangun masa depan yang lebih baik mengenai hubungan antaragama: yang lebih terbuka dan demokratis. Persis di sini, selain hal yang sudah niscaya, bahwa kita memerlukan budaya demokratis dan keadaan kehidupan ekonomi yang lebih berkeadilan sosial. Dalam masalah antaragama kita memerlukan pandangan-pandangan pluralisme yang menegaskan adanya kesetaraan kaum beriman. Inilah yang diperkenalkan oleh Abdul Aziz Sachedina, profesor kajian agama di University of Virginia dan peneliti senior pada Center for Strategic and International Studies di Washington DC.


Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antarumat beragama di Indonesia belakangan ini sangat kompleks. Tetapi, lewat buku Sachedina ini kita diajak untuk kembali ke pertanyaan dasar: Adakah dasar teologis yang diperlukan untuk suatu basis kerukunan hidup beragama? Pertanyaan ini penting, karena selama ini teologi dianggap sebagai ilmu dogmatis yang karena menyangkut masalah akidah (baca: Kebenaran), sehingga tidaklah perlu dibicarakan--apalagi dicarikan titik temunya. Sehingga terkesanlah teologi sebagai ilmu yang tertutup, dan menghasilkan masyarakat beragama yang tertutup. Padahal iklim masyarakat global dan pascamodern dewasa ini bersifat terbuka, pluralistis, dan demokratis. Maka Sachedina menekankan pentingnya mencari akar pluralisme demokratis dalam Islam.


Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan menyesatkan. Pandangan eksklusif ini memang bisa dilegitimasikan--atau tepatnya dicarikan legitimasinya--lewat Kitab Suci. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan, karena ada kemungkinan lain seperti ditunjukkan dalam buku ini, yaitu paham teologi inklusif yang kira-kira ingin mengatakan. "Other religions are implicit forms of our own religion" (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari agama kita).


Dalam pemikiran Islam, seperti ditunjukkan dalam buku Sachedina ini masalah inklusivisme ini jelas dalam konsep 'Ahl al-Kitab' (Ahli Kitab) yang memberi kedudukan setara pada kelompok nonmuslim di hadapan Allah dan ini dibenarkan oleh Alquran, tetapi selalu saja ada interpretation away--sebuah cara penafsiran yang pada akhirnya menafsirkan sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual kitab suci, misalnya yang jelas-jelas mendukung keterbukaan terhadap keberadaan dan keselamatan agama-agama lain. Abdul Aziz Sachedina misalnya menunjukkan bahwa penafsiran eksklusif dalam Islam bisa muncul misalnya dalam pembacaan ayat berikut, "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam" (Q 3:19). Atau, "Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q 3:85). Padahal ayat ini, kalau dibaca dengan semangat inklusif, semangat agama universal (al-din al-jami`) dengan mengembalikan makna islam di sini dalam arti generiknya sebagai 'pasrah sepenuhnya (kepada Allah)' maka maknanya akan berbeda sekali: Bahwa agama yang diterima di sisi Allah adalah agama yang membawa kepasrahan kepada-Nya. Dan, barangsiapa yang mencari agama selain dari kepasrahan kepada-Nya, maka agama itu tidak akan diterima, dan ia di akhirat termasuk orang yang merugi.


Maka misi buku ini ingin menegaskan adanya keselamatan dalam agama-agama non-Islam, seperti tertera jelas pada ayat Alquran 2:62 juga 5:69, "Mereka yang beriman (kepada Alquran), orang Yahudi, Kristen, dan Sabi`in, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan melakukan kebaikan, pahala mereka ada pada Tuhan, mereka tak perlu khawatir, tak perlu sedih." Ayat ini secara literal sangat jelas, kata Sachedina, meneguhkan mengenai adanya keselamatan dalam agama-agama. Tetapi anehnya, mayoritas komentator muslim dengan sia-sia telah berusaha untuk tidak menerima maksud yang jelas dinyatakan kedua ayat tersebut, bahwa keselamatan seseorang di akhirat sebenarnya hanya tergantung pada tiga hal: (1) apakah ia percaya kepada Allah, (2) apakah ia percaya pada hari akhirat (adanya pembalasan atas perbuatan baik dan buruk), dan (3) apakah ia melakukan perbuatan kebaikan kepada sesama umat manusia. Jadi, bukan pada apa agama formalnya!


Teologi pluralis


Begitulah, kita baik kaum muslim maupun umat kristiani telah mewarisi begitu mendalam teologi eksklusif itu: yang rumusan inti ajarannya adalah--seperti ditulis oleh filsuf agama terkemuka Alvin Plantinga--"the tenets of one religions are in fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are false" atau Joh Hick, "The exclusivists think that their description of God is the true description and the others are mistaken insofar they differ from it." Karena pandangan tersebut, maka mereka menganggap bahwa hanya ada satu jalan keselamatan: yaitu agama mereka sendiri! Pandangan ini jelas memunyai kecenderungan fanatik.


Oleh karena itulah, menurut Abdul Aziz Sachedina, diperlukan suatu perspektif baru dalam melihat "Apa yang dipikirkan oleh suatu agama, mengenai agama lain dibandingkan dengan agama sendiri?" Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah seorang beragama itu menganut suatu teologi yang eksklusif, inklusif, atau pluralis. Apakah ia seorang yang terbuka dan demokratis, ataukah ia seorang yang tertutup dan otoriter dalam beragama.


Teologi pluralis yang dibahas sepanjang buku Sachedina ini melihat agama-agama lain dibanding dengan agama-agama sendiri, sebagai dalam rumusan: Other religions are equally valid ways to the same truth (seperti dikatakan John Hick); Other religions speak of different but equally valid truths (seperti dikatakan John B Cobb Jr); Each religion expresses an important part of the truth (seperti dikatakan Raimundo Panikkar); atau setiap agama sebenarnya mengekspresikan adanya The One (Yang Satu) dalam the many (Yang Banyak, seperti dikatakan Seyyed Hossein Nasr). Di sini jelas Sachedina menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada kecenderungan opresif.


Maka buku ini menyadarkan kita akan pentingnya menerima pluralisme tidak hanya didasarkan atas kesadaran bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang terfragmentasi (terpecah-pecah)--yang karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara untuk menghindari kefanatikan, jadi fungsinya hanya sebagai a negative good. Kebutuhan kita akan pluralisme bukan hanya karena fakta sosiologis, tetapi sebagai bagian dari--seperti sering dikatakan Prof Dr Nurcholish Madjid-- "pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban" (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Persis ide ini ditekankan oleh Abdul Aziz Sachedina: Kita membela pluralisme, karena itu adalah Kebenaran, seperti puluhan halaman ia tunjukkan dalam buku ini: bahwa visi besar Alquran adalah pluralisme.


Buku ini menjelaskan bagaimana kita bisa memasuki dialog antaragama dan selanjutnya segi teologisnya, yang dari sini pemerkayaan iman akan sangat dimungkinkan. Usaha-usaha besar pencarian 'Etika Global' (seperti dikatakan Hans Kung) dari agama-agama yang populer sejak Sidang Parlemen Agama-agama (1993), menurut Abdul Aziz Sachedina akan jauh lebih mendasar jika berangkat dari dialog teologis, yang meneguhkan sikap paralelisme itu--yang mengekspresikan adanya kesadaran 'Satu Tuhan, dalam banyak jalan'.


Kiranya seluruh tesis Abdul Aziz Sachedina dalam buku ini membenarkan apa yang dikatakan para sufi. Para sufi tidak saja menegaskan kesatuan wahyu, tetapi juga menganggap diri mereka sendiri sebagai pelindung Islam dan pelindung agama-agama lain. Pemimpin sufi seperti Jalal al-Din Rumi, misalnya melukiskan pandangan pluralisnya dengan menggunakan gambaran berikut, "Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju Kabah? Oleh karena itu, apabila yang Anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang Anda perimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan."


Dalam semangat paralelisme, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-agama ini perlu dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya. Maka isi yang bernilai dari agama-agama itu harus di-share-kan, dan dikomunikasikan.
Agama-agama menurut Sachedina harus berdialog. Ibaratnya, kalau saya mengenal Anda, bahwa Anda sungguh-sungguh berbeda dari saya, dan jika saya juga mengenali bahwa apa yang berbeda itu dapat juga benar dan bernilai sekaligus, saya pasti tidak akan bisa melupakan Anda! Begitu jugalah dengan dunia agama-agama. "Other religions are not only genuinely different, they can also be genuinely valuable."


Dengan buku ini, seperti dikatakan Rabi Dr Marc Gopin, dari Tufts University, "Sachedina telah memberikan teladan keberanian teologis dan personal yang diperlukan untuk membangun satu peradaban global baru yang berkomitmen mewujudkan prinsip tertinggi demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai sakral setiap manusia di muka bumi, tanpa memandang ras atau agamanya. Hal ini memerlukan perpaduan dari kecermatan intelektual, keberanian moral, kasih sayang, dan kemampuan visioner, dan Sachedina telah melakukan semua ini dengan baik."


* Budhy Munawar-Rachman Direktur Pusat Studi Islam Paramadina, Jakarta


Sumber: Media Indonesia

dibaca oleh: 1507 pengunjung