Cerita dengan Seribu Nama

Sebuah novel dengan banyak tikungan. Ramuan kekacauan yang asyik.

Dunia yang Kukenal
Judu Asli : The Known World
Penulis : Edward P Jones
Penerjemah : Meda Satrio
Penerbit : Serambi
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : 653 halaman

Setiap orang tidak lebih penting dari orang lain. Sama seperti setiap cerita selalu bermakna saat diceritakan kembali. Edward P Jones berangkat dari testamen ini ketika menulis The Known World, yang dalam edisi Indonesia diterjemahkan tak konsisten antara sampul dan batang tubuh. Novel pertamanya ini memenangkan Hadiah Pulitzer pada 2004, setahun setelah diterbitkan.

Sebagai penulis Afro-Amerika kelahiran 1951, Jones sangat paham apa artinya menjadi terasing. Karena itu ia memberi tempat pada hal-hal yang dilupakan orang. Jika ia berbicara soal perbudakan abad 18 melalui novel ini, lanskap itu hanya terdengar sayup-sayup, jauh di latar belakang. Yang mengemuka kemudian adalah cerita tentang manusia. Frase The Known World sendiri ia comot dari kalimat yang tertera pada sebuah peta Virginia yang dibuat entah siapa. Peta itu dibawa oleh seorang Rusia yang mampir ke kota kecil itu.

Pembukaan novel ini langsung menusuk pada jantung cerita: kematian Henry Townsend seorang Negro yang terlahir sebagai budak, lalu dibebaskan oleh ayahnya, kemudian memiliki budak-budak untuk mengerjakan tanah pertaniannya. Dari sana cerita berkembang dengan puluhan subplot.

Jones seperti menabrak pakem penulisan novel yang selama ini dipegang teguh para penulis Amerika. Ia menulis apa yang ingin ia tulis. Selintas ia seperti sedang melantur. Jika ia sedang bercerita tentang percakapan Henry dan istrinya, Caldonia, tiba- tiba seorang budak lewat membawa ember, Jones akan mengikuti budak itu dengan memberi nama, asal-usul, tabiat, gaya bicara, lalu kembali pada pokok percakapan suami istri Townsend itu.

Begitulah cara Jones memberi tempat pada manusia dalam novelnya. Karena itu novel ini menyuguhkan begitu banyak nama, yang melintas begitu saja, atau muncul kembali ratusan halaman kemudian. Hiruk-pikuk ini semakin kacau dengan alur yang tidak linear. Jones mengocok jalan ceritanya bolak-balik antara 200 tahun yang lalu, seratus tahun kemudian, masa kini lalu kembali lagi ke 200 tahun yang lalu. Inilah novel yang menyajikan banyak tikungan. Setiap kali akan berbelok, Jones seringkali tak memberikan lampu sen.

Ketika cerita masih berkisar soal perjuangan Henry lepas dari belenggu perbudakan, alinea berikutnya bercerita soal percakapan seorang wartawan Kanada yang sedang melacak jejak Henry, tiba-tiba meloncat ke tahun 1987 bahwa dokumen yang diperoleh wartawan itu tersimpan di perpusatakaan Virginia. Jones tidak meramu data dari sekumpulan jilid tebal. Ia membangun novelnya dari catatan kaki sejarah perbudakan Amerika. Perbudakan bukan sebuah layar yang menakutkan. Adegan paling miris hanya ketika seorang budak akan dijual dari Virginia ke New York. Budak itu disatukan dengan tongkat-tongkat yang akan dijual dalam kotak. Kotak itu menempuh perjalanan 40 jam.

Sesungguhnya, 653 halaman novel ini hanya bercerita di seputar hari-hari kematian Henry. Jones seperti tak ingin kehilangan momen. Cerita berkembang dengan detail-detail yang mengagumkan karena setiap bab dimulai dengan seorang tokoh baru yang seolah tak berhubungan dengan bab sebelumnya. Tapi tokoh itu memang perlu ada karena pada halaman berikutnya ia punya kaitan dengan tokoh dan arus utama cerita. Pendeknya, tokoh, alur, peristiwa dalam novel ini pada akhirnya saling terkait langsung atau tidak langsung. Inilah kekuatan gaya cerita Jones. Ia melantur dengan sepenuh kesadaran.

Jones tak memilah tokohnya menjadi antagonis dan protagonis. Semua orang punya perannya masing-masing. Tetapi setiap novel selalu punya tokoh utama. Henry Townsend itulah pokoknya, meski bukan yang terpenting. Ia wakil semua tokoh dalam sejarah perbudakan Amerika sebelum pecah perang saudara antara 1861-1865 antara negara-negara di Utara yang menentang perbudakan dan negara- negara Selatan yang membolehkan jual-beli Negro untuk menopang ekonomi.

Setelah Henry mati, Caldonia melanjutkan peran utama itu. Cerita semakin asyik karena ia kemudian terlibat asmara dengan Moses, kepala budak dalam keluarganya. Jones, dengan begitu, telah menghindarkan ceritanya dari kekeringan. Ada beberapa adegan seks antara Caldonia dan Moses secara tak wajar. Setiap kali bersenggama, keduanya berpakaian rapi dan melakukannya di ruang tamu.

Caldonia tak merasa bersalah dengan perkelaminan itu, meski setiap kali melakukannya ia teringat cerita seorang bule yang juga bersenggama dengan budak Negronya lalu digantung di alun-alun. Sementara Moses memanfaatkan hubungan itu untuk memperoleh kemerdekaan. Ia memaksa majikannya itu meneken surat merdeka setelah mengusir anak-istri dan saudaranya dari rumah itu. Moses menjadi satu-satunya antagonis, jika istilah ini dipakai merujuk pada orang yang berbuat jahat.

Ada sheriff John Skiffington atau seorang Indian yang selalu mengejek pada Negro-negro merdeka. Tapi tak terasa itu sebuah kejahatan. Abad 18 adalah sebuah masa rasis.

Dalam hubungan orang kulit putih dengan negro, Jones juga tidak memilahnya secara tegas. Ada suami-istri Fern-Murphy Elston. Fern yang bule terobsesi menjadi istri yang setia. Ia selalu menurut dan menaati perintah Murphy. Suaminya ini punya kebiasaan aneh. Setiap kali akan pergi berjudi berminggu-minggu, ia meminta istrinya tidak mandi sebelum ia kembali. Tumpukan keringat itulah yang Murphy nikmati dalam bercinta ketika pulang.

Fern menjadi tokoh utama ketika cerita menjadi flashback. Ia menceritakan kisah Henry yang ia tahu kepada Anderson Frazier, si wartawan Kanada itu. Fern yang menjadi guru dan mengajar keluarga Henry di Virginia itu berperan sebagai pencerita sekaligus juga tokoh ceritanya.

Kekacauan ini justru yang menjadi keunggulan Jones hingga memboyong National Book Critics Circle Award setahun sebelum Pulitzer. Setiap cerita selalu lebih menarik ketika diceritakan kembali. Gema kalimat dalam novel ini masih terasa hingga kisah berakhir, pada kenangan- kenangan Caldonia yang kembali sendiri.
BAGJA HIDAYAT

dibaca oleh: 1763 pengunjung