Jejak Langkah Seorang Bramacorah

Jejak Langkah Seorang Bramacorah
Judul: True History of the Kelly Gang
Penulis: Peter Carey
Ukuran: 13 x 20 cm, 686 hal.


True History of the Kelly Gang (2000)—judul asli buku ini—adalah salah satu tonggak pencapaian Peter Carey, novelis paling terkemuka Australia saat ini. Melalui novel ini, pada 2001 ia memenangkan Booker Prize1 untuk yang kedua kali setelah sebelumnya ia meraihnya melalui novel Oscar and Lucinda pada 1988. Selain itu, pada tahun yang sama, True History of the Kelly Gang juga meraih Commonwealth Writers Prize sebagai buku terbaik.

Dalam novel yang menyentuh ini, tokoh Edward “Ned” Kelly (1855–1880), buron legendaris Australia berdarah Irlandia yang dipuja orang banyak, berbicara untuk dirinya sendiri melalui realitas imajiner yang disusun Peter Carey. Ned “menuliskan” kisah hidup dan cintanya, kesedihan dan kemarahannya, serta segala keluh kesahnya, untuk anak perempuannya yang tak pernah dijumpainya di atas kertas-kertas sisa penuh noda yang setengah kacau balau ketika melarikan diri dari kejaran polisi bersama kawanannya—mereka yang disebut-sebut sebagai anggota Geng Kelly: Dan Kelly, Joe Byrne, dan Steve Hart—di belantara pedalaman Australia pada akhir abad kesembilan belas.
Inilah sebuah kisah klasik yang dihidupkan kembali oleh kepiawaian seorang novelis besar, diwarnai petualangan berkuda di alam liar Australia yang kaya dengan berbagai flora dan fauna eksotis, kisah cinta, persahabatan, dan pengkhianatan. Setelah sebelumnya ia bermain-main dengan sejarah Australia dalam Illywhacker (1985) dan Oscar and Lucinda (1988), kini Carey menuliskan sebuah novel yang berpijak pada tokoh dan fakta historis, walaupun tentu saja novel ini bukanlah sebuah buku sejarah.

Kisah Ned Kelly amat populer di Australia dan kemudian mendunia. Sedemikian populernya hingga berkali-kali difilmkan, ditulis sebagai buku, dan menjadi perbincangan dari masa ke masa. Beberapa film yang sempat dibuat berdasarkan kisah petualangan Ned Kelly adalah The Story of the Kelly Gang (1906), When the Kellys were Out (1922), The Glenrowan Affair (1951), Ned Kelly (1970—dengan tokoh Ned Kelly diperankan oleh bintang rock and roll ternama asal Inggris, Mick Jagger), dan yang terakhir, Ned Kelly (2003), besutan sutradara Gregor Jordan dengan aktor masa kini Heath Ledger sebagai Ned Kelly. Film yang terakhir ini dibuat berdasarkan novel karya Robert Drewe, Our Sunshine (1990).

Ned Kelly adalah sosok kontroversial. Bagi kakitangan penguasa dan para tuan tanah, ia adalah seorang “bromocorah”—biang onar pelanggar hukum, sedangkan bagi sebagian rakyat Australia ia adalah tokoh pujaan yang “terpaksa” menjadi pemberontak karena diperlakukan tidak adil. Bagi para pemburunya, Ned adalah seorang penjahat licin, pencuri, dan pembunuh. Bagi kaumnya, rakyat jelata Australia kelas rendahan, ia adalah seorang pahlawan pembela rakyat tertindas yang berani menentang penguasa kolonial Inggris. Ia ditakuti dan dibenci, sekaligus dikagumi dan menarik simpati.

Ned yang amat mencintai ibunya masuk sel penjara untuk pertama kali pada umur 15 tahun. Hal yang paling menyedihkannya saat harus meringkuk di balik terali besi adalah ia tak bisa lagi membantu ibunya yang miskin bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sekeluarga. Kemudian, nasib buruk membawanya pada pilihan sulit: menyerah pada ketidakadilan atau melawan. Pada usia 26 tahun ia telah menjadi orang paling dicari di seantero koloni liar Victoria, hingga akhirnya tertangkap dalam sebuah penyerbuan yang dramatis dan dihukum gantung. Ia mati muda sebagai seorang pembangkang yang dibungkam paksa oleh penguasa, dan terus dikenang lebih seabad setelah kematiannya. Hingga kini beberapa barang peninggalan Ned Kelly, termasuk baju besi yang dikenakannya saat ditangkap di Glenrowan dan selempang hijau kebanggaannya, tersimpan rapi di Museum Benalla, Australia.
Seperti sempat disinggung sebelumnya, dalam novel yang tengah Anda baca ini, dikisahkan bahwa Ned Kelly menulis memoar yang hendak diwariskan pada putrinya selama dua tahun terakhir hidupnya. Dikisahkan pula bahwa anak itu adalah hasil hubungan asmaranya dengan Mary Hearn, seorang bekas pelacur yang kemudian meninggalkan Ned yang sedang menjadi buron, demi masa depan yang lebih pasti.

Kisah-kisah Ned kepada anaknya yang terkumpul dalam tiga belas bundel itulah yang menyusun novel ini. Di dalamnya, ia mencoba menjelaskan dan memberi alasan atas tindakan-tindakannya, sekaligus mencoba “meluruskan” pandangan-pandangan miring tentang dirinya dan kawan-kawannya. Ia mencoba menuliskan sejarahnya sendiri secara apa adanya: “Putriku, saat ini kau pasti masih terlalu muda untuk mengerti satu kata pun yang kutulis, tetapi sejarah ini kupersembahkan untukmu dan tiada sebuah dusta pun di dalamnya. Jika aku berdusta, biarlah aku kelak terbakar di neraka.”

Sejatinya “tulisan-tulisan Ned Kelly” yang memang kurang terpelajar itu—kemiskinan membuatnya meninggalkan bangku sekolah pada usia empat belas tahun—dibuat secara acak-acakan, tak jelas tanda baca dan gramatikanya, terkadang bahkan tanpa titik koma. Namun, demi kenyamanan membaca dan agar tidak membingungkan para pembaca, dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia ini, sebagai penyunting saya memutuskan untuk menyunting seperlunya kalimat-kalimat Ned Kelly tersebut, antara lain dengan membubuhkan sejumlah tanda baca. Adapun bagian yang dibiarkan apa adanya adalah bagian awal dan akhir yang seolah-olah diambil dari dokumen resmi dalam koleksi perpustakaan Melbourne—dalam sebuah wawancara, Peter Carey menyatakan bahwa dokumen-dokumen itu hanyalah rekaannya belaka2. Dalam bagian itu, kalimat-kalimat langsung dibiarkan sebagaimana adanya, tanpa dibubuhi tanda kutip. Selain itu, untuk membantu para pembaca, novel ini kami lengkapi sejumlah catatan kaki untuk menjelaskan ungkapan, istilah, dan kata-kata tertentu.

Sesungguhnya, Australia—salah satu tetangga terdekat kita—memiliki khazanah sastra yang amat menarik untuk dieksplorasi. Mereka, misalnya, memiliki seorang pengarang sekelas Patrick White (1912-1990), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1973 yang melahirkan novel-novel semacam The Tree of Man (1956) dan Riders in the Chariot (1961), juga penulis unik masa kini seperti D. B. C. Pierre yang novel perdananya, Vernon God Little, memenangkan Booker Prize 2003. Namun, sejauh ini tidak banyak karya sastra mereka yang diterjemahkan di sini. Dari yang sedikit itu, di masa lalu antara lain pernah terbit sebuah novel karya pemenang Booker Prize, Thomas Keneally, Nyanyian Seorang Aborijin3 dan sebuah kumpulan cerpen karya para pengarang Australia kontemporer.
Peter Carey sendiri bukanlah nama yang terlalu asing bagi publik sastra kita. Sejak beberapa tahun silam beberapa cerpen dan cuplikan novelnya, juga ulasan tentang karya-karyanya, muncul dalam sejumlah berkala, jurnal, koran, dan antologi yang terbit di Indonesia. Carey dilahirkan di Bacchus Marsh, Victoria, pada 1943. Ia sempat mengambil kuliah sains di Monash University, tetapi tidak diselesaikannya, dan kini menetap di New York bersama keluarganya. Karya-karyanya antara lain The Fat Man in History (1974, kumpulan cerpen), War Crimes (1979, kumpulan cerpen), Bliss (1981, novel pertamanya, difilmkan pada 1985 dengan skenario yang ditulis sendiri olehnya), Illywhacker (1985), Oscar and Lucinda (1988), The Tax Inspector (1991), The Unusual Life of Tristam Smith (1994), Jack Maggs (1998), dan My Life as a Fake (2003—juga akan diterbitkan oleh penerbit Serambi).

Di tengah terbatasnya buku terjemahan dari khazanah sastra Australia, novel ini tentu merupakan sebuah kabar baik yang layak disimak oleh khalayak luas pembaca sastra kita sebagai sebuah karya yang bermutu dan memperkaya.
Demikianlah, salam dan selamat membaca.

Anton Kurnia


1Booker Prize merupakan salah satu hadiah sastra tahunan paling bergengsi di dunia. Hadiah ini diberikan di Inggris kepada novel berbahasa Inggris terbaik yang ditulis oleh warga negara Inggris, persemakmuran Inggris, Afrika Selatan, Irlandia atau Pakistan sejak 1969 pada setiap bulan Oktober, dan dinamai Booker Prize berdasarkan nama perusahaan Booker McConnell Ltd. yang menjadi sponsornya. Kepanitiaan hadiah ini dilakukan oleh National Book League, dengan para kritisi sastra dan penulis terkemuka sebagai anggota dewan juri. Saat ini pemenang Booker Prize berhak atas hadiah uang sebesar 50.000 poundsterling atau sekitar 825 juta rupiah. Sejak 2002, nama hadiah ini diubah menjadi The Man Booker Prize setelah berganti sponsor ke kelompok perusahaan The Man Group. Sepanjang sejarahnya hanya ada dua orang yang mampu meraih hadiah ini hingga dua kali, yakni pengarang asal Afrika Selatan J. M. Coetzee (1983 dan 1999) dan Peter Carey (1988 dan 2001).

2Maggy Ball, “Interview with Peter Carey”, The Jakarta Review of Books, Number 4, Volume 1, 2002.

3Thomas Keneally terutama dikenal lewat novel Schindler’s Ark yang memenangkan Booker Prize 1982 dan kemudian difilmkan oleh Steven Spielberg sebagai Schindler's List (1993). Novel Nyanyian Seorang Aborijin yang diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra pada sekitar dasawarsa 1980-an diterjemahkan dari The Chant of Jimmie Blacksmith (1972) yang meraih The Royal Literary Award.

dibaca oleh: 6656 pengunjung