Memperdebatkan Tuhan Yesus

Judul Buku: Kala Yesus Jadi Tuhan,
Penulis: Richard E. Rubenstein,
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta,
I Maret 2006, xvi+ 326 halaman

PADA 430 M, sepeninggal Santo Augustinus, adalah abad invasi barbar dan jatuhnya imperium Barat. Abad ini adalah abad penghancuran yang, bagaimanapun juga, sangat menentukan arah perkembangan Eropa. Di seluruh dunia Barat, kerajaan-kerajaan Jerman menggantikan birokrasi imperium yang terpusat. Pos imperium hancur, perang telah mengakhiri perdagangan dalam skala yang luas. Begitu juga dalam kehidupan politik dan ekonomi, hanya mampu berjalan pada tingkat lokal.

Sedangkan otoritas yang terpusat hanya mampu bertahan dalam lingkungan gereja, dan itu pun masih banyak menghadapi berbagai kendala terutama dihadapkan pada kontroversi yang rumit mengenai inkarnasi.

Buku Kala Yesus Jadi Tuhan karya Richard E Rubenstein merupakan buku yang menakjubkan. Dalam buku ini Rubenstein mendeskripsikan bagaimana suatu misteri seperti trinitas dan penjelmaan atau inkarnasi Putra Allah telah menjadi bahan diskusi, debat, dan huru-hara publik di dalam gereja yang saat itu sedang berupaya untuk menjadi institusi publik di zaman Romawi yang paling mampu bertahan lama.

Sebagaimana yang banyak dituliskan dalam sejarah kekristenan Romawi, sejak awal agama Kristen sudah diwarnai dengan berbagai pluralitas ajaran. Sehingga perbedaan mengenai mentalitas, pertentangan pendapat, bahkan penganiayaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah awal agama Kristen.

Sebagai ilustrasinya, Kota Alexandria. Di kota ini telah hidup dua pendeta, Cyril dan Nestorius. Keduanya terlibat dalam perdebatan, dan entah sengaja atau kebetulan, Cyril dianggap sebagai orang suci sedangkan Nestorius dianggap sebagai orang pembuat bid'ah (sesat).

Cyril adalah Uskup Agung Alexandria sejak sekitar tahun 412 M sampai ia meninggal pada 444 M, sedangkan Nestorius adalah Uskup Agung Konstantinopel. Masalah yang diperdebatkan adalah hubungan ketuhanan Kristus dengan kemanusiaan-Nya. Apakah ada dua pribadi, satu manusia dan satu Tuhan--jika tidak--, apakah hanya ada satu sifat, atau apakah dua sifat, sifat kemanusiaan dan sifat ketuhanan, dalam satu pribadi. Ini adalah pandangan yang dipegang Nestorius.

Sedangkan St Cyril berpandangan sebaliknya. Secara fanatik Cyril berpendapat, ketuhanan Kristus dan kemanusiaan-Nya merupakan sebuah satu kesatuan, tidak seperti apa yang diungkapkan Nestorius. Kemudian bermodalkan atas kedudukannya sebagai uskup agung, Cyril melakukan sebuah propaganda dengan menentang sebagian besar koloni Yahudi di Alexandria. Tindakannya yang terkenal adalah menghukum seorang perempuan terkenal bernama Hyptia, yaitu perempuan pengikut aliran filsafat Neoplatonis (h 55). Setelah kejadian ini, Kota Alexandria sudah tidak lagi 'diganggu' para filosuf. Meski begitu, Cyril terus merasa prihatin setelah mengetahui bahwa di Konstantinopel telah disesatkan oleh ajaran Uskup Nestorius yang dianggap sesat itu.

Oleh karena pertentangan kedua pendeta inilah, kemudian gereja terpecah menjadi dua; yang secara garis besarnya, uskup-uskup yang berada di timur Suez mendukung Nestorius, sedangkan mereka yang tinggal di barat Suez mendukung St Cyril. Maka dewan dipanggil untuk bertemu di Ephesus pada 431 M (konsili Nisea) yang tujuannya adalah menilai kemudian pengambilan keputusan oleh para uskup. Pemanggilan para dewan yang tidak lain terdiri dari uskup itu sendiri dilakukan langsung oleh sang Kaisar Konstantinus yang notabene adalah pemimpin politik (h. 165). Uskup-uskup yang tinggal di bagian barat Suez datang lebih awal, dan kemudian mengunci pintu menghalangi utusan-utusan yang datang terlambat dan dengan tergesa-gesa memutuskan mendukung St Cyril yang pada saat bersamaan juga berposisi sebagai pemimpin pertemuan. Sedangkan ajaran Nestorius dianggap sebagai bid'ah.

Namun, hasil keputusan yang telah disepakati para uskup dalam konsili Nisea tersebut ditolak kelompok pengikut Nestorius (Arian). Bahkan Nestorius mendirikan sekte Nesterian dan banyak memperoleh pengikut di Suriah dan seluruh wilayah timur Suez. Dan konsili Nisea yang diharapkan dapat mengatasi perpecahan ternyata tidak membawa hasil. Sementara itu, St Augustinus berpendapat bahwa konsili Nisea ini memiliki otoritas yaitu kuasa untuk mengadili bukan karena yang mengundang Kaisar Konstantinus, atau karena di kemudian hari disebut sebagai konsili Ekumenis yang pertama melainkan ajaran konsili Nisea harus diterima sebagai kebenaran ajaran sebab ajaran Nisea itu dirumuskan dan disepakati oleh sidang para uskup.

Membaca buku Kala Yesus Jadi Tuhan dari halaman pertama hingga akhir, kita diajak untuk memfokuskan perhatian pada drama bid'ah Arianisme. Yakni, salah satu bid'ah pada abad IV yang muncul dalam Gereja Katolik sebelum kembali pada kesatuan gereja. Rubenstein berhasil menghidupkan momen dalam sejarah ketika berbagai masalah keimanan sanggup membangkitkan gairah yang autentik dalam diri manusia pada umumnya.

Puji Hartanto , pecinta buku, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah.

dibaca oleh: 2004 pengunjung