Menguak Misteri Krakatau

Judul Buku: Krakatau : Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883
Penulis: Simon Winchester
Oleh: Muhammadun AS

APA yang terjadi di alam raya ini memang penuh misteri. Kemampuan manusia memprediksi kejadian-kejadian di masa sekarang dan yang akan datang hanyalah kemampuan indrawi yang akurasi kebenarannya sangat relatif.

Terbukti, ketika pemerintah dengan analisis para ilmuwan memprediksi Gunung Merapi dalam keadaan darurat, Mbah Maridjan justru berdiam 'menemani' aktivitas Gunung Merapi. Dalam logika Mbah Maridjan, merapi tidak akan mencederai dirinya karena dia telah membuktikan kecintaannya kepada alam.

Fenomena Mbah Maridjan dan Gunung Merapi merupakan dua entitas yang misterius. Karena misteri yang lahir dari keduanya selalu menghadirkan fenomena dan gagasan baru tentang bagaimana manusia hidup di alam semesta.

Jauh sebelum Mbah Maridjan menjadi sosok fenomenal, 123 tahun yang lalu, tepatnya pukul 10.00 WIB, Senin 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dan menyemburkan ejekta, yaitu debu dan batu apung ke angkasa yang menggetarkan manusia sedunia.

Buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 merupakan buku fenomenal yang melihat meletusnya Gunung Krakatau sebagai fenomena paling spektakuler dalam sejarah perjalanan bangsa. Buku lain yang seide menjelaskan fenomena Krakatau adalah Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and its Effects karya Simkin dan Fiske yang diterbitkan 1983 dan buku Krakatoa: the Day the World Exploded karya Simon Winchester yang terbit tahun 2002.

Letusan Krakatau itu, dalam penjelasan penulis, merupakan nomor tiga di dunia dalam jumlah ejekta yang disemburkan ke atmosfer. Pertama adalah letusan Gunung Tambora, juga gunung api Indonesia yang pada 1815 melontarkan 80 km kubik ejekta.

Letusan Gunung Tambora menyebabkan pendinginan bumi sehingga pada 1816 disebut a year without summer di Amerika Serikat (AS). Kedua, letusan Gunung Mazama di Jepang pada 4600 sebelum Masehi yang memuntahkan 42 km kubik ejekta.

Akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Gelombang kejut yang terbentuk mampu merusak tembok dan menghancurkan jendela pada jarak 160 km. Gelombang tsunami mencapai ketinggian 36-40 meter, menghancurkan 165 desa nelayan dan merusak 132 lainnya di pesisir pantai barat Pulau Jawa dan pantai selatan pulau Sumatra serta menelan korban paling tidak 36.417 jiwa.

Tsunami bertemperatur tinggi itu menghempaskan kapal London yang sedang bersandar di Teluk Betung, Lampung sejauh 2,5 km ke daratan di ketinggian 10 meter, menghempaskan kapal the Berouw sejauh 3,3 km ke dalam hutan, juga mampu memindahkan terumbu karang seberat 600 ton ke daratan. Gelombang tsunami itu dirasakan di Auckland, Selandia Baru yang berjarak 7.767 km setinggi 2 meter, Aden--sebuah kota di pesisir selatan Jazirah Arab--yang terletak 7.000 km jauhnya dari Krakatau, Tanjung Harapan yang berjarak 14.076 km, Panama yang berjarak 20.646 km, Hawaii, pantai barat Amerika, Amerika Selatan dan bahkan sampai selat Inggris yang berjarak 19.873 km dari Krakatau. Di Tanjung Harapan dan Panama , kecepatan tsunami mencapai rata-rata 720 km per jam.

Debu yang dilontarkan sebanyak 21 km3--terbawa angin sampai ke Madagaskar--memengaruhi sinar matahari dan iklim global yang mampu menurunkan suhu di bumi sampai 1,2°C selama beberapa tahun akibat terbawa oleh angin di lapisan Stratosfer. Matahari terlihat biru dan hijau dari beberapa lokasi sebagai akibat dari terlontarnya debu dan aerosol ke stratosfer dan mengelilingi khatulistiwa sebanyak 13 kali. Efek lainnya menyebabkan sunset dan sunrise berwarna sangat merah selama hampir tiga tahun yang pada saat pertama kali kemunculannya mampu membuat pemadam kebakaran di kota New York dan New Haven bersiaga penuh.

Krakatau memang menjadi legenda, sehingga oleh penulis Krakatau telah mengilhami lahirnya berbagai peristiwa besar yang terjadi di kemudian hari. Simon Winchester menunjukkan bahwa letusan Krakatau 1883 bukanlah bencana alam biasa, melainkan fenomena yang memicu perubahan sosial, politis, ekonomis, teknologis maha besar.

Seperti adanya teori Evolusi Charles Darwin, yang pembuktiannya dilakukan dengan menunggangi hasil penelitian orang lain yang dilakukan di Indonesia , tetapi sang peneliti dibiarkan tidak kecipratan ketenaran dan kebesaran sang maha pakar.

Demikian juga dengan cikal bakal Revolusi Komunikasi dan Media, konsep Global Village, yang sekarang asyik dipergunjingkan oleh para posmodernis. Semua misteri terkuak dalam buku yang menarik ini, sehingga ketika kita memandang gunung merapi di Yogyakarta kita akan lebih meresapinya secara bermakna.

Muhammadun AS , pemerhati sosial, tinggal di Yogyakarta

dibaca oleh: 4241 pengunjung