Kearifan Dari Seorang Wali

Judul: Mistik Dan Makrifat Sunan Kalijaga
Penulis: Achmad Chodjim
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan II: Juni 2004
Halaman: 310 halaman

Rumekso Ing Wengi boleh jadi tak ditemukan dalam doa-doa yang pernah diajarkan seperti dalam hadits-hadits Nabi. Tetapi, bukankah doa bisa disampaikan dalam bahasa apa saja. Apakah dengan begitu, ajaran Sunan Kalijaga ini dianggap bid’ah? Bagaimana dengan Gerebeg Maulud dan Sekaten? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kearifan untuk menjawabnya.

Sunan Kalijaga bukan tokoh yang asing lagi di telinga umat
Islam di Nusantara. Nama kecilnya Raden Syahid,
merupakan salah satu Walisanga yang populer di Tanah Jawa.

Sunan Kalijaga sekaligus merupakan satu di antara tokoh Walisanga yang menjadi penghubung antara pandangan Islam dengan budaya Jawa.

Namun demikian, tak banyak orang yang tahu tentang ajaran yang dibawa. Umumnya orang mengenal lewat kidung atau tembang. Di antaranya tembang Ilir-ilir yang cukup populer di kalangan anak-anak.

Sunan Kalijaga terlahir dari kalangan ningrat (darah biru) yang serba berkecukupan dari materi maupun pendidikan. Ia adalah putra Tumenggung Wilatikta (Aria Teja IV), seorang Adipati di Tuban.

Aria Teja IV sendiri adalah keturunan Adipati Ronggolawe, salah satu tokoh pendiri Kerajaan Majapahit yang kemudian mendapat kedudukan sebagai adipati di Tuban.

Tetapi, alih-alih mewarisi jabatan yang empuk dari ayahandanya, Raden Syahid justru memilih menjadi pegiat spiritual Islam di Tanah Jawa.

Harta dan tahta yang sudah ada di depan mata justru membuat Raden Syahid hidup dengan penuh kegalauan. Raden Syahid merasa risau melihat ketidakadilan dan penindasan terjadi di mana-mana.

Itu terjadi setelah Kerajaan Majapahit yang secara sosial politik dan budaya banyak mengalami kemunduran. Keadaan seperti ini menjadikan para pejabat negara banyak bergelimang harta dan berfoya-foya, dari hasil upeti rakyat.

Hati nurani Raden Syahid tidak tahan melihat penderitaan rakyat Tuban seperti itu, diperas dan ditindas untuk kepentingan para pejabat negara. Apalagi pada saat itu sedang terjadi kemarau panjang.

Secara diam-diam, Raden Syahid membobol gudang perbekalan. Hasil curiannya kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Tindakan ini dilakukan berkali-kali.

Perbuatan ini pada awalnya tidak diketahui penjaga di kadipaten. Tetapi, setelah diselidiki, perbuatan tadi ternyata dilakukan Raden Syahid yang juga pewaris tahta Kadipaten Tuban.

Tindakan ini membuat ayahanda Raden Syahid malu. Ayahnya marah besar, sehingga mengusir Raden Syahid keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.

Raden Syahid akhirnya keluar dan memilih menjadi penyamun. Ia memimpin segerombolan perampok, menghadang orang-orang kaya dan pejabat negara yang korup.

Anehnya, hasil rampokan itu tidak digunakan untuk dirinya, tetapi dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kisah ini mirip dengan tokoh Robin Hood dalam sebuah cerita film.

Suatu ketika, Raden Syahid bertemu dengan Sunan Bonang, penyebar Islam di kawasan pantai utara Jawa. Semula, Raden Syahid ingin merampok. Namun karena kesaktian Sunan Bonang, Raden Syahid akhirnya tunduk. Ia menaruh hati dengan ilmu yang dimiliki Sunan Bonang. Lewat Sunan Bonang pula, Raden Syahid sadar bahwa niat baik yang dilakukan selama ini caranya tidak benar.

Raden Syahid akhirnya menjadi murid Sunan Bonang. Ia kemudian disuruh bertapa, bersemedi di pinggir sebuah kali (sungai) untuk beberapa waktu. Raden Syahid seperti berjaga di kali. Dari kisah ini kemudian muncul sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga mampu mewarisi ilmu dari Sunan Bonang. Ia juga berguru ke Pasai, berdakwah ke Semenanjung Malaya hingga wilayah Patani di Thailand Selatan.

Dalam Hikayat Patani, Raden Syahid dikenal sebagai seorang tabib, pernah mengobati Raja Patani yang menderita sakit kulit hingga sembuh. Di wilayah itu ia dikenal sebagai Syekh Sa’id. Ia dikenal juga sebagai Syekh Malaya.

Setelah beberapa tahun berguru di Pasai dan berdakwah di Malaya, Sunan Kalijaga kembali ke Tanah Jawa. Ia kemudian diangkat menjadi anggota Walisanga. Itulah sekelumit kisah perjalan hidup Raden Syahid.

Buku ini sebenarnya bukan untuk bercerita tentang kisah hidup Sunan Kalijaga. Akan tetapi, banyak menyorot aspek lain yang tidak banyak diketahui orang. Yaitu, tentang ajarannya dan kearifannya. Sebuah kearifan yang terkadang kontroversi. Sebuah kearifan yang terkadang dianggap bukan bagian dari Islam untuk mengatakan bid’ah dalam istilah ekstremnya.

Anda akan mengetahui banyak peraktik-praktik agama Islam di Nusantara, khusunya di Tanah Jawa, yang ternyata berasal dari Sunan Kalijaga.

Di antaranya Rumekso Ing Wengi, sebuah doa susunan Sunan Kalijaga dalam bahasa Jawa yang masih diamalkan oleh sebagian orang Islam di Tanah Jawa.

Rumekso Ing Wengi disebut juga sebagai mantra yang memiliki khasiat untuk menolak bala, menyingkirkan penyakit, mengusir hama dan penyakit tanaman. Jika dibaca, juga membebaskan diri dari jeratan hutang, melindungi dari santet, teluh, tenung dan perbuatan jahat lainnya. Bahkan, melindungi diri dalam pertempuran.

Rumekso Ing Wengi boleh jadi tak ditemukan dalam doa-doa yang pernah diajarkan seperti dalam hadits-hadits Nabi. Tetapi, bukankah doa bisa disampaikan dalam bahasa apa saja. Apakah dengan begitu, juga dianggap sebagai bid’ah. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kearifan untuk menjawabnya.

Gerebeg Maulud dan Sekaten seperti yang biasa digelar di alun-alun Keraton Surakarta dan Jogjakarta, adalah institusi spiritual yang pernah dilakukan Sunan Kalijaga untuk melakukan dakwah dengan pendekatan budaya.

Gerebeg Mulud adalah sebutan peringatan Maulud Nabi. Upacara Sekaten (syahadatain) adalah pengucapan dua kalimat syahadat yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang Jawa masuk Islam. Itulah sebuah kearifan dari Sunan Kalijaga. Islam pun tumbuh di mana-mana di Bumi Nusantara, hingga dapat kita saksikan seperti sekarang.

Dalam kisah kewalian, Sunan Kalijaga dikenal sebagai orang yang menciptakan ‘pakaian takwa’ dan menciptakan tembang-tembang Jawa. Tembang-tembang yang diciptakan Sunan Kalijaga sebenarnya merupakan ajaran penuh makrifat atau ajaran mengenal sang Pencipta dalam agama Islam.

Salah satu karya Sunan Kalijaga adalah menciptakan bentuk ukiran wayang kulit, dari bentuk manusia menjadi bentuk kreasi baru yang mirip karikatur.

Membaca buku ini, Anda diajak berkelana ke dalam mistik dan makrifat Sunan Kalijaga. Ajaran makrifat dan sangkan paraning dumadi (asal dan kembalinya manusia) yang berupa tembang-tembang.

Di samping masalah-masalah ini, dikupas pula mengenai tradisi selamatan, soal wasilah, reinkarnasi dan ihwal-ihwal lain yang tak kalah kontroversi.

Yang mengasyikan, si penulis, Ahmad Chodjim, mendiskusikan isu-isu berat ini dengan bahasa yang ringan, komunikatif. Sesekali, pembaca seperti diajak ngobrol ke sana dan kemari.

Salah satu tema menarik yang diangkat Ahmad Chodjim adalah pandangan tentang menitis (reinkarnasi). Pandangan ini boleh jadi sangat kontroversi, bertolak belakang dengan pandangan umat Islam kebanyakan.

Pada umumnya, penganut Islam, Kristen maupun Yahudi tidak mempercayai bahwa manusia mengalami siklus hidup dan mati berulang-ulang.

Kelahiran kembali mungkin sulit sekali diterima di Jazirah Arab. Karena, sebelum kedatangan Islam, mereka hidup dalam alam keberhalaan dan tokoh-tokohnya hanya mempercayai hidup sekali dan mati sekali.

Achmad Chodjim dalam buku ini membeber siklus hidup dan mati yang secara implisit terdapat dalam Alquran (2:28). Terjemahan ayat ini: "Mengapa kalian kafir kepada Allah? Padahal, tadinya kalian itu mati, lalu Dia menghidupkan kalian. Kemudian, Dia mematikan kamu, dan dihidupkan-Nya kembali. Baru setelah itu kalian dikembalikan kepada-Nya."

Chodjim melihat kebanyakan penafsir Alquran menyamakan keadaan mati dengan tidak ada. Tapi, dua kali kata hidup diartikan yang sama. Mereka tidak mengaitkan kehidupan kembali dengan "kembali kepada-Nya."

Banyak tafsir juga menyebutkan bahwa dihidupkan kembali itu sama dengan bangkit dari kubur. Sedang dikembalikan kepada Tuhan itu diadili untuk masuk surga atau neraka.

Dalam pemahaman Chodjim, jiwa manusia bisa menitis. Ia mengacu kalimat dalam Alquran, "ilayhi raji’un", yaitu kembali kepada-Nya dan "ilayhi turja’un" dikembalikan kepada-Nya.

Bagaimana dengan manusia kafir yang mati. Menurut pemahaman ini, jiwa manusia kafir yang mati, prosesnya akan dikembalikan lagi. Ada pemaksaan agar bisa kembali, sehingga ‘dikembalikan’ lagi.

Sedang bagi manusia yang beriman, jiwanya "kembali kepada-Nya" dengan riang gembira. Proses kembali dengan kehendak sendiri ini diungkapkan pada QS 2:46, QS 2:156 dan QS 23:60.

Paham siklus hidup dan mati merupakan tema menarik dalam buku ini. Bahkan, tema-tema seperti itu jarang kita dapatkan dalam banyak buku maupun ceramah-ceramah agama.

Achmad Chodjim menempatkan bagian ini pada Bab 12. Juga dibeberkan tentang alam barzakh. Mengapa harus hidup berulang-ulang? Dapatkah jiwa manusia menitis ke binatang?

Sebuah pemahaman yang kontroversi, tetapi menarik untuk direnungkan. Apapun perbedaan pemahaman ini, buku setebal 310 halaman ini menjadi khasanah pengetahuan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

palopo abdurahman Banjarmasin Post

dibaca oleh: 12382 pengunjung