Feminisme Alquran dalam Perspektif Perempuan

Judul Buku: Quran Menurut Perempuan
Penulis: Amina Wadud

Oleh: Lukman Santoso Az

WACANA gender merupakan konstruksi sosial yang membedakan peran dan kedudukan wanita dan laki-laki, bukan berdasarkan kemampuan. Sehingga gender bersifat universal, artinya peran dan kedudukan wanita di suatu wilayah, etnis, dan bangsa bisa berbeda-beda tergantung bagaimana masyarakat yang dominan atau sistem patriarki memandang posisi sosial politik wanita tersebut.

Seiring laju gerakan feminisme, kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang baru-baru ini terjadi merupakan contoh konkret tentang tindak kekerasan terhadap perempuan yang hingga kini masih menggejala di tengah gerakan emansipasi yang konon telah tercapai.

Hadirnya buku Quran Menurut Perempuan yang ditulis Amina Wadud, seorang profesor wanita studi keislaman pada Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat (AS) ini merupakan jawaban kaum hawa terhadap masih banyaknya kekerasan pada perempuan, sekaligus protes atas masih terjadinya diskriminasi terhadap perempuan dewasa ini, dan masih terkonstruknya perempuan terhadap pemaknaan tekstual Alquran.

Wadud secara tegas menentang penggunaan teks dan kata-kata kunci Alquran untuk membatasi peran publik dan privat perempuan, terlebih untuk membenarkan kekerasan terhadap perempuan. Pembacaan Wadud memberikan landasan sah untuk menentang perlakuan tidak adil yang secara historis telah dialami perempuan dan secara hukum terus menggejala di kalangan umat Islam.

Dalam buku itu, Wadud secara rinci menguraikan tentang konsep pembelaan perempuan yang digali langsung dari Alquran sekaligus menyusun sebuah 'pembacaan' Alquran yang bermakna bagi kehidupan kaum perempuan di era modern saat ini. Ia juga mengulas bagaimana persepsi perempuan dalam menafsirkan ayat-ayat feminisme Alquran.

Wadud menentang keras anggapan kaum muslimin dalam menafsirkan ayat-ayat Surat An-nisa' bahwa perempuan lebih rendah atau tidak sederajat dengan laki-laki. Menurut Wadud, perhatian khusus terhadap jenis kelamin dalam Alquran membawa persepsi perempuan dan laki-laki hanyalah kategori spesies manusia. Keduanya dikaruniai potensi yang sama atau sederajat, dari ihwal penciptaan, keberpasangan, hingga balasan yang kelak mereka terima di akhirat. Satu-satunya nilai pembeda di antara keduanya adalah 'takwa', yang paling tepat dipahami dalam kerangka sikap dan perbuatan.

Itulah yang ditegaskan Alquran, rujukan dari segala rujukan keislaman.

Namun, seiring dengan tergantikannya peran sentral Alquran oleh tafsir-tafsir yang nyaris semuanya ditulis laki-laki, perempuan terus terkekang dalam pandangan dan kehendak masyarakat yang berpusat pada laki-laki.

Akibatnya, tingkat partisipasi dalam masyarakat dan tingkat pengakuan akan pentingnya sumber daya perempuan tak kunjung meningkat. Padahal, sekalipun ada perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki tidak ada pesan tersirat maupun tersurat dalam Alquran yang mendukung pendapat bahwa laki-laki adalah pemimpin alami. Bahkan dalam konteks negeri Arab yang patriarki sekalipun, Alquran memberi contoh pemimpin perempuan, yakni Ratu Bilqis. Alquran tidak melarang perempuan untuk berkuasa, baik atas perempuan yang lain maupun atas perempuan dan laki-laki. Namun, ada implikasi bahwa Alquran cenderung mengusahakan tugas-tugas dalam masyarakat dengan cara yang paling efisien.

Selain itu menurut Wadud, sebenarnya Alquran dapat beradaptasi dengan perempuan modern semulus Alquran dapat beradaptasi dengan kaum muslim pada 14 abad silam. Adaptasi ini dapat dibuktikan jika Alquran ditafsirkan dengan memerhatikan perempuan sehingga menunjukkan universalitas teks tersebut. Setiap penafsiran yang menerapkan garis pedoman Alquran secara sempit adalah sama saja dengan melakukan kezaliman terhadap Alquran itu sendiri.

Alquran tidak pernah memvonis sebuah prinsip sebagai tujuan, justru menjunjung berbagai prinsip, seperti keadilan, persamaan, keseimbangan, tanggung jawab moral, kesadaran spiritual, dan kemajuan umat.

Wadud juga berupaya menciptakan signifikansi yang ditarik dari Alquran berkenaan dengan perempuan modern. Ia memberikan 'pembacaan' yang melampaui beberapa pembatasan dalam penafsiran Alquran sebelumnya. Di satu sisi sebagai pembatasan yang ada dalam Alquran, di sisi lain dengan pembatasan yang merupakan refleksi dari para penafsir (mufasir) itu sendiri.

Sesungguhnya beberapa perubahan sosial penting yang tidak tertuntaskan pada akhir masa pewahyuan Alquran telah memberi petunjuk yang cukup jelas mengenai arah perubahan yang dikehendaki Alquran. Serta tujuan spesifik yang menunjukkan adaptabilitas pandangan dunia Alquran terhadap persoalan dan kepentingan perempuan dalam konteks modern. Sehingga eksistensi kesetaraan pada tataran etik keagamaan ini lebih signifikan daripada nilai-nilai berbeda yang telah dikaitkan dengan berbagai sistem sosial yang menyebabkan hilangnya kesetaraan.

Tindakan Wadud untuk mengkaji Alquran dari perspektif kaum feminis dan Alquran itu sendiri merupakan sebuah sikap yang menunjukkan bahwa hak-hak yang diberikan kepada perempuan selama ini belum sepenuhnya atau dengan kata lain masih setengah hati. Karena itu, arti penting tentang konsep Alquran ihwal perempuan harus diukur dari perspektif Alquran itu sendiri. Baik sebagai kekuatan dalam sejarah, politik, bahasa, budaya, kecendekiawanan, spiritualitas, maupun sebagai kitab suci yang memberikan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Lukman Santoso Az, pemerhati masalah sosial-politik. Alumnus PP Subulut-Taujieh.

dibaca oleh: 3203 pengunjung