Pesan Bersama Agama-agama Manusia

APA yang hendak dicapai ketika kita membicarakan agama-agama manusia? Pembahasan tentang agama-agama memang sering sensitif,
dan berkecenderungan mengarah kepada pembandingan. Namun, tidak begitu dengan Huston Smith. Lewat buku ini, Smith mengajak kita meyimak dan mengamati agama-agama manusia dengan jernih dan melihat hubungan atau pesan-pesan besama yang disuarakan agama-agama tersebut, demi kehidupan dan keberagaman yang lebih baik di dunia.

Agama-agama yang dibahas di buku ini adalah agama-agama besar yang telah berumur ribuan tahun dan memiliki pengikut yang tak sedikit di berbagai belahan dunia. Di antaranya adalah Hindu, Budha, Konfusianisme, Taoisme, Islam, Yahudi, Kristen, dan sedikit keterangan tentang agama-agama zaman purba.

Penulis mengulas setiap agama dengan padat dan indah. Padat dalam arti ulasan tentang nama-nama, tanggal, sampai pada pengaruh sosial dari masing-masing agama disuguhkan dengan lugas. Selain itu, yang juga menjadikan buku ini menarik adalah tampilan halaman demi halaman yang indah karena ulasan banyak berangkat dari gambar-gambar atau relief. Pembaca di ajak menelusuri dan menikmati gambar-gambar patung dewa, relief, lukisan, masjid, sampai foto-foto umat beragama yang sedang beribadah.

Dominasi gambar dan ilustrasi yang mengisi lembar demi lembar buku ini menggambarkan, huston Smith menghadirkan ulasan unsur-unsur penting dalam sejarah dan inti-inti ajaran agama-agama besar di dunia dalam bentuk ilustrasi atau seni.
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Smith berpendapat, hampir sepanjang sejarahnya, umat manusia menemukan teks-teks suci mereka dalam rupa lukisan, patung, pahatan, tarian, nyanyian, dan hal-hal lain yang bernilai seni.

Setelah membahas agama-agama satu persatu, buku ini mangajak pembaca melihat bagaimana kemudian kita harus memahami agama-agama tersebut terkait satu sama lain. Hal paling penting- yang kemudian menjadi tema utama bahasan buku ini -adalah tentang tradisi kebijaksanaan masing-masing agama. fokus inilah yang kemudian membuat Smith tak menyebut buku ini sebagai buku tentang sejarah agama. Fakta historis hanya ditampilkan sejauh diperlukan untuk menjelaskan dan memberi kerangka waktu dan ruang bagi berbagai gagasan yang menjadi inti pembahasan buku ini; tradisi kebijaksanaan agama-agama (hlm 12).

Tentang tradisi kebijaksanaan tersebut, diranah etika misalnya, kita sama-sama tak boleh membunuh, mencuri, berbohong, dan berzina. ini merupakan panduan minimal, dan dunia akan jauh lebih baik jika panduan-panduan itu dihormari secara universal. Beranjak dari landasan etis ini, dalam rangka menuju kualitas manusia yang dicita-citakan bersama, Smith menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya ada tiga kebajikan manusia: kerendahan hati, kebaikan hati, dan ketepatan (veracity)(hlm 426).

Mendengar dan cinta Smith tak sekedar menyimpulkan, namun ia juga memberikan sikap terkait dengan kehidupan modern saat ini yang cenderung semakin menjauh atau tak meyakini pandangan dan tradisi kebijaksanaan keagamaan. Hal ini berhubungan dengan bagaimana kita bersikap ditengah kehidupan yang pluralistis saat ini. Smith menawarkan satu sikap penting; kita bisa menyimak atau mendengarkan. Mendengarkan, disini dalam arti kesediaan menyimak atau mendengarkan keyakinan orang lain termasuk, kaum sekularis. Meski terkesan sederhana, kesediaam untuk mendengarkan orang lain yang berbeda ini begitu penting dalam konteks kehidupan plural.
Orang-orang yang mendengarkan, menurut Smith, berarti sedang berupaya mencapai perdamaian, perdamaian yang tak dibangun berdasarkan hagemoni, politik atau agama, namun berdasarkan saling mengakui dan peduli. Pemahaman ini akan menghasilkan rasa hormat, dan rasa hormat akan menciptakan jalan bagi kemampuan lebih tinggi bernama cinta. "Jika kita mengikuti secara benar tradisi-tradisi kebijaksanaan kita, kita harus menaruh perhatian pada orang lain sedalam dan sepenuh kita berharap mereka akan menaruh perhatian kepada kita" (hlm 430).
Di sini terlihat, Smith berigtu mengedepankan rasa hormat terhadap nilai dan kebijaksanaan agama-agama. Dalam menyuguhkan ulasan dan maupun memberikan kesimpulan, ia menempatkan diri secara proporsional sebagai "orang luar" yang memandang dan mendekati setiap nilai dan sejarah masing-masing agama dengan penuh simpati- dalam rangka menampilkan sinar-sinar kedamaian dan keindahan dari kebijaksanaan yang dibawa masing-masing agama.

Pada akhirnya, apa yang telah disuguhkan Smith dalam buku ini merupakan karya berharga yang memberikan sumbangan menarik dan unik perihal pemahaman agama-agama di dunia.
Dari sana,diharpaakan pembaca akan bisa melihat keindahan yang dibawa setiap agama dan mendapatkan isnpirasi untuk meneguhkan tali persaudaraan antarumat beragama.

Resensi Oleh: AL Mahfud
Dimuat di Samarinda Pos Edisi 30 April 2016

dibaca oleh: 908 pengunjung