Bahagia Itu Sederhana

BAHAGIA itu sederhana. Bahagia tidak perlu dicari kemana-mana. Sebab, bahagia itu ada di dalam diri setiap manusia. Artinya, bahagia tidaknya kita, tergantung diri kita sendiri. Jika kita ingin menjalani kehidupan ini dengan bahagia, maka berusahalah menghindari pikiran-pikiran buruk ataupun kecemasan dan berbagai kekhawatiran yang dapat memengaruhi suasana hati kita.

Misalnya, hindari berpikir : “Diriku Malang”. Jika kita menabur benih pikiran hati dengan mengatakan hal tersebut. Maka yang akan muncul didunia kasatmata adalah ‘kemalangan’. Hal ini terjadi karena hati kita yang merupakan asal-muasal segala sesuatu, menjadi benih pemikiran hati yang berbunyi, “diriku malang”. Oleh karena itu, jika ingin bahagia, ucapkanlah : “Saat ini aku bahagia”. Meski saat itu kondisi kita sedang tak bahagia, tapi kebahagiaan itu akan muncul (hal 9).

Jika pohon besar tak dapat tumbuh di tempat gelap, manusia pun sama. Hati harus selalu bersinar seperti matahari. Jika kita sedang beraktifitas dengan perasaan muram, maka kita tak dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Sebaiknya jika kita melakukan sesuatu dengan hati ceria. Maka akan muncul pikiran yang baik. Mesikipun kita sedang mengalami ujian berupa penyakit, tetapi jika perasaan kita dikondisikan tetap riang dan tidak murung, maka penyakit kita akan lekas sembuh.

Berbicara seenaknya menyusahkan orang lain, bermuka murung, berhati muram, itu adalah hak pasien, tetapi sikap seperti itu tak akan pernah menyembuhkan penyakit. Sebaliknya, jika hati dikondisikan senang dan ceria, di dalam darah kita akan timbul berbagai komposisi menyehatkan sehingga kita cepat menjadi sehat kembali (hal 39-40).

Agar kita selalu senang dan menyenangkan, kita tak boleh melihat kelemahan orang lain. Kebiasaan paling buruk manusia adalah selalu melihat kelemahan orang. Mencari -cari kesalahan orang. Inilah kebiasaan terburuk yang menyebabkan ketidakbahagiaan dalam kehidupan (hal 89-90). Buku motivasi ini menarik dan dapat dijadikan panduan sederhana dalam meraih kebahagiaan dalam hidup ini.

Sam Edy Yuswanto , penulis lepas mukim di kebumen.
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat

dibaca oleh: 1136 pengunjung