Mengenal Lebih Dekat Pemikiran Anies Baswedan

Sebelum menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Dia adalah salah satu tokoh yang sangat peduli terhadap masa depan republik ini. Melalui buku berjudul Merawat Tenun Kebangsaan, Anies Baswedan telah menuangkan gagasannya terkait persoalan yang sedang dihadapi republik ini. Ada tiga isu besar yang ia tuangkan dalam karya barunnya, yaitu masalah kepemimpinan, demokrasi dan terakhir pendidikan.
Terkait persoalan kepemimpinan, Anies Baswedan mengatakan bahwa negeri ini butuh pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung melunasi semua janjinya (halaman 25).

Karakter pemimpin seperti itulah yang didambakan oleh rakyat kita. Yaitu pemimpin yang tidak hanya beretorika saat kampanye saja, tetapi pemimpin yang bisa memberikan bukti nyata. Pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyatnya, bukan pemimpin yang mementingkan diri dan partainya. Apalagi di tengah bangsa ini mengalami krisis kepemimpinan. Misalnya, para pemimpin dan wakil rakyat banyak yang terlibat dalam kasus korupsi. Tentu saja kita sangat miris melihat fenomena yang menimpa pemimpin kita saat ini. Mereka tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat, justru sibuk memperkaya diri dengan cara-cara yang melanggar hukum dan agama.

Isu kedua dalam buku ini adalah masalah demokrasi. Tentu demokrasi yang dimaksud penulis adalah demokrasi yang kedaulatannya benar-benar berada di tangan rakyat. Demokrasi dapat terwujud karena adanya proses yang dinamis dalam kehidupan rakyat yang berdaulat. Namun motivasi utama yang mendorong proses itu adalah keberanian moral. Tanpa keberanian moral dalam arti menyelaraskan nilai-nilai moral termasuk di dalamnya keadilan dan kebenaran, maka proses itu akan tersumbat.

Substansi demokrasi adalah kedaulatan berada di tangan rakyat. Rakyat punya hak mutlak untuk menentukan arah perjalanan. Rakyat berhak untuk memilih pemerintahannya. Dan, dalam demokrasi, pemerintah sadar bahwa sumber kekuasaannya ada di rakyat (halaman 109).

Artinya, bahwa rakyat selaku mayoritas mempunyai suara menentukan dalam proses perumusan kebijakan pemerintah melaui saluran-saluran yang tersedia. Dalam sistem demokrasi, posisi rakyat sederajat di hadapan hukum dan pemerintahan. Rakyat memiliki kedaulatan yang sama, baik kesempatan untuk memilih maupun dipilih. Tidak ada pihak lain yang berhak mengatur dirinya selain dirinya sendiri.

Sementara isu terakhir yang diulas dalam oleh Anies Baswedan adalah masalah pendidikan. Masalah pendidikan merupakan isu yang krusial mengingat pendidikan sangatlah penting demi kemajuan bangsa dan negara. Kemajuan suatu bangsa pasti dimulai dari pendidikan. Berhubungan dengan persoalan pendidikan, Anies Baswedan lebih menekankan pada peran pendidik atau guru sebagai kunci untuk mencetak peserta didik yang berkualitas dan berkarakter.

Guru mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam pendidikan. Guru membantu anak didiknya dalam mengembangkan diri, berimprovisasi, menggali potensi diri, membangun dan membentuk pribadi mereka menjadi jati diri yang berakhlak mulia. Tanpa guru, tidak akan lahir insan-insan yang bermoral dan berilmu dalam mencapai cita-citanya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Menurut penulis, pendidikan adalah soal interaksi antarmanusia. Interaksi antara pendidik dan peserta didik, antara orangtua dan anak, antara guru dan murid, serta antara lingkungan dan pembelajar. Guru adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama kualitas pendidikan (halaman 215).

Guru adalah profesi yang sangat mulia dan menantang dengan tingkat kompleksitas masalah yang cukup berat dan tinggi. Sebab guru sangat berperan penting dalam proses pembentukan generasi bangsa yang berkualitas, baik secara intelektual mapun akhlak atau moral. Guru di sini bukan hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pendidikan akhlak melalui keteladanan di dalam dan di luar sekolah.

Buku setebal 250 halaman ini sangat menarik dan menginspirasi. Sebab, di dalamnya tidak hanya menyuguhkan persoalan bangsa semata, tetapi juga memberikan solusi. Buku karya Anies Baswedan ini semakin menarik karena disajikan dengan bahasa yang sederhana dan komunitif sehingga mudah dicerna dan dipahami oleh pembaca. Dan yang tak kalah pentingnya, semoga kehadiran buku ini bisa menjadi solusi terbaik di tengah kondisi bangsa yang sedang dilanda krisis multidimensi.

*Lulusan FE Universitas Madura
Dimuat di Koran Jakarta edisi 31 Maret 2015.

dibaca oleh: 2020 pengunjung