Kisah Para Penggunjing dari Tanah Kakao

Judul: Gabriela, Cengkih dan Kayu Manis
Penulis: Jorge Amado
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Cetakan: I, Desember 2014
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Jumlah halaman: 660 Halaman
Judul Asli: Gabriela, Cravo, e Canela
ISBN: 978-602-290-023-8



Seorang penulis novel berhak menuliskan apa pun yang dia maui, sejauh dia mampu membuat para pembacanya percaya, itulah penggalan kalimat yang diucapkan Gabriel Garcia Marquez dalam wawancaranya untuk Paris Review. Totalitas yang tidak main-main dan harus ditanggung oleh setiap penulis. Itu yang mungkin menjadikan, seperti pernah khalayak dengar, bahwa di era 1960-1970 muncul fenomena literatur yang sering kita sebut El Boom—meledaknya karya-karya dari pelaku sastra semisal Mario Vargas Llosa (Peru), Isabelle Allende (Cile), Carlos Fuentes (Meksiko), Paulo Coelho (Brasil), dan masih banyak lagi penulis-penulis dari negara-negara Amerika Selatan yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing. Kenapa banyak karya-karya Amerika Latin bisa begitu diterima oleh pembacanya? Tak lain, karena karya-karya tersebut, selain memberikan alternatif tawaran estetik, tentunya mampu membuat pembacanya percaya terhadap apa yang mereka ciptakan.

Para penggunjing di Bar Vesuvius.
Totalitas itu juga yang akan kita reguk sampai tandas lewat novel Gabriela, Cengkih dan Kayu Manis ( Serambi, 2014) karya Jorge Amado. Novelis kelahiran 1912 di Itabuna—Brasil yang beberapa kali masuk dalam daftar nominasi peraih Nobel ini kian mengukuhkan apa yang pernah dibeberkan Jose Ortega, seorang kritisi sastra asal Meksiko, bahwa sastra Amerika latin tak lain adalah respons imajinatif terhadap apa yang dihempaskan dunia barat (di antaranya Spanyol dan Portugis), setelah ratusan tahun tanah dan kebudayaan mereka diperas oleh setan keji bernama kolonialisme dan imperialisme.

Dalam novel Gabriela, Cengkih dan Kayu Manis ini Amado bercerita tentang kedatangan Gabriela, seorang gadis mulato (Afro—Amerika) ke Ilheus pada tahun 1920-an, sebuah daerah perkebunan penghasil kakao di Brasil yang gamang dalam menerima gerak peradaban. Kota kecil di mana penduduknya, khususnya laki-laki asyik bergunjing menggosipkan banyak hal di bar Vesuvius milik Najib si Arab—tempat Gabriela bekerja sebagai tukang masak. Tradisi menggunjing ini bahkan sudah menjadi roh Ilheus,

“Bergunjing adalah seni tertinggi dan kenikmatan terdahsyat kota itu. Para perawan tua menaikkan seni itu ke tingkat kehalusan yang menakjubkan” (hal. 133)

Di Ilheus, pelabuhan, jalan-jalan besar dibangun; plaza, bioskop, kabaret, kafe dan bar adalah gerak dari waktu yang tak bisa ditahan lajunya. Modernitas berhasil menghunuskan pisau bermata duanya di antara orang-orang yang menggunjing. Yang akhirnya membelah penduduk Ilheus menjadi dua kubu yang saling bersitegang. Di satu sisi orang-orang yang diwakili sosok Mundinho Falcao—pengekspor kakao, memiliki visi bahwa tiap orang sudah semestinya memikirkan masa depan. Menjunjung tinggi peradaban atas nama kemajuan. Sementara di kubu lain ada para kolonel—tuan tanah perkebunan di bawah sosok Kolonel Ramiro Bastos yang ngotot yakin, kehidupan paling baik terletak di masa lalu. Ketika hukum rimba tentang kekuasaan berlaku, di mana keberanian menggunakan senapan dan menjarah tanah menentukan kelas seseorang. Kegamangan identitas dari Ilheus ini mesti dibayar dengan banyak tragedi; ada Malvina, gadis dari sekolah paroki yang harus menerima cambukan dari ayahnya sendiri karena memberikan perlawanan akibat dilarang memiliki hubungan asmara dengan seorang insinyur beristri. Ada penembakan walikota Itabuna oleh orang-orang suruhan kolonel Melk Tavares. Ada pembakaran Koran Ilheus kala suhu politik kian memanas mendekati pemilihan walikota.

Lantas di mana dan bagaimanakah posisi Gabriela?. Di sinilah kejeniusan seorang Amado. Ini mengingatkan kita sebagai pembaca, bahwa realitas fiksi dari novel 1984 milik George Orwell membutuhkan tokoh Julia. The God of Small Thing milik Arundhati Roy membutuhkan tokoh Ammu. Sementara di Novel ini kita membutuhkan Gabriela, bukan sekedar demi menyusun kisah percintaan dengan Najib si arab. Di antara kekisruhan politik, di antara gunjingan para kolonel, dokter dan pengacara, di antara kultur patriarki yang kental, di antara sayatan panjang luka sejarah, Gabriela hadir sebagai manifestasi pertanyaan kepada norma-norma dan hukum tak tertulis kolektif dari peradaban. Lewat karakternya yang naif dan terkesan primitif, kita diajak untuk bertanya; sejatinya, terbuat dari apakah kebenaran?

***

Sumber: Arif F Kurniawan—Bergiat di Komunitas Lacikata dan Kelab Buku Semarang.

Dimuat di Koran Tempo, 26 April 2015

dibaca oleh: 1415 pengunjung