Ambivalensi Kepahlawanan dan Bandit

Judul: Sorgum Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I: September 2014
Tebal: 543 Halaman


PAHLAWAN bukanlah sosok-sosok kudus tanpa cacat cela, tetapi di antara mereka justru bergelimang aib, dosa, dan darah. Di balik pemujaan oleh negara maupun masyarakat terhadap “jasa” mereka, diakui atau tidak, figur demikian banyak terdapat dalam sejarah Cina atau sejarah panjang negeri manapun. Sosok pahlawan dengan kualitas seperti inilah yang dihadirkan oleh
Mo Yan dalam Sorgum Merah, sebuah novel bersetting waktu antara tahun 1920-an sampai 1930-an, yakni masa-masa “Para Pemimpin Perang” (Warlords) menguasai Cina daratan hingga awal invasi Jepang.

Ia adalah Yu Zhan’ao, seorang pemuda pembawa tandu yang jatuh cinta pada Dai Fenglian—pengantin perempuan yang ditandunya bersama tiga rekannya menuju rumah mempelai pria—setelah memegang kaki balut mungil si pengantin yang bak “bunga lotus”. Terdorong oleh gairah dan rasa simpati pada nasib malang gadis muda yang dinikahkan paksa oleh orangtuanya pada seorang lelaki pengidap penyakit lepra itu, Yu muda bukan saja nekat menculik dan “memperkosa” sang pengantin di atas hamparan jas hujan di tengah ladang sorgum, tetapi juga memutuskan menghabisi nyawa si mempelai pria, Shan Bianlang beserta ayahnya Shan Tingxiu, pemilik penyulingan arak sorgum yang kaya raya.

Namun bertahun-tahun kemudian, ia pun tampil ke depan panggung sejarah sebagai Komandan Yu, Pemimpin Gerilya Kabupaten Gaomi Timur Laut, Republik Cina yang paling gigih dan tak kenal takut dalam perang perlawanan terhadap Jepang. Bahkan sejak kalimat pembuka pada paragraf pertama, novel ini telah menghadirkan peristiwa besar yang kelak melegistimasi kepahlawanan Komandan Yu, yakni ketika ia bersama anak lelaki ”haram”-nya, Douguan dan pasukannya menghadang konvoi Jepang di Jalan Raya Jiao-Ping.

Kejadian yang mengakibatkan tewasnya seorang jenderal Jepang terkemuka itu tak hanya mengubahnya jadi “lelaki yang ditakdirkan menjadi pahlawan legendaris” bagi masyarakat Kabupaten Gaomi Timur Laut, namun juga merupakan salah satu peristiwa terpenting yang menjadi titik pusar dari narasi novel yang berputar-putar dan penuh kilas-balik ini.
Ya, halnya novel lain Mo Yan, Big Breasts and Wide Hips yang terlebih dulu diindonesiakan dan diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta (2011), Sorgum Merah juga meramu kekejaman perang di Cina dengan drama keluarga, cinta, seks, mitos, legenda lokal, dan lanskap alam begitu indah yang menjadikannya sebuah kisah mengharu-biru sekaligus penuh teror bagi kesiapan mental kita sebagai pembaca.

Tak ada tokoh yang sepenuhnya bersih dalam novel ini. Bahkan Cao Sembilan Mimpi yang dilukiskan sebagai seorang Hakim Wilayah yang jujur dan adil pun tak luput dari kesalahan menjatuhkan tangan saat ia menangkap Yu yang dikiranya si Leher Berbintik, kepala bandit terkenal yang dijuluki Phoenix Tiga Kali Mengangguk karena ciri khasnya mengeluarkan tiga tembakan dalam gerakan memutar.

Begitu pula Dai Fenglian sendiri—yang bertahun-tahun setelah kematiannya terus dikenang masyarakat Gaomi Timur Laut sebagai “pahlawan wanita yang hebat” berkat usulannya menghadang laju truk Jepang dengan garu—ternyata tidaklah selugu dan sesuci penampilannya yang cantik bersahaja. Selain telah menipu Hakim Cao saat datang menyelidiki kasus pembunuhan suami dan mertuanya serta bisa dikatakan sebagai seorang anak durhaka kendati ia memiliki alasan kuat untuk mengusir sang ayah yang tamak, bukankah sebenarnya ia sangat menikmati “perkosaan” yang dilakukan Yu terhadapnya, juga kekayaan (dan penyulingan arak) warisan keluarga Shan pasca pembunuhan tersebut?

Alhasil, ambivalensi antara sifat kepahlawanan dan bandit ini pun melahirkan narasi pengkisahan yang taksa dalam Sorgum Merah, di mana tokoh-tokohnya senantiasa hidup dalam identitas dan dunia yang liminal; terbelah dan bercampur-baur; santo sekaligus pendosa. Ambivalensi ini bahkan dicerminkan oleh wilayah Kabupaten Gaomi Timur Laut itu sendiri—yang menurut narator—merupakan “[…] tempat yang indah dan memuakkan, paling ganjil dan biasa, paling suci dan korup, paling heroik dan menjijikkan, paling cocok untuk mabuk-mabukkan dan paling dicintai di seluruh dunia.” (hal. 4).

Contoh dari ambiguitas makna pahlawan dan bandit ini antara lain juga tercetus dari mulut Komandan Yu yang berang saat berdebat dengan Leng Bopeng, pimpinan Detasemen Leng di halaman 42: “Siapa yang bandit? Siapa? Siapa pun yang berperang melawan Jepang adalah pahlawan nasional. Tahun lalu, aku membunuh tiga penjaga Jepang dan mendapatkan tiga senapan otomatis. Kau bukan bandit, tapi berapa banyak orang Jepang yang telah kau bunuh? Kau belum pernah menyentuh sehelai pun rambut orang Jepang.”

Sebelum menjadi pejuang anti-Jepang dan membentuk kelompok milisi perlawanan, Yu memang sempat menjalani “kehidupan penjarahan dan perampokan yang romantis”. Hal ini ia lakukan selepas membunuh Leher Berbintik dan gengnya yang sebelum itu menculik dan melecehkan kekasihnya. Diceritakan, pada tahun 1925-1928, reputasi Yu sebagai bandit ini bahkan telah menandai zaman keemasan bandit di Kabupaten Gaomi Timur Laut dengan 230 lebih anak buah dan mengguncang pemerintah. Namun alih-alih mengincar orang kaya, tampaknya kehidupan bandit yang ia lakoni itu lebih kepada sebuah pemenuhan hasrat petualangan dan pembalasan dendam.

Tentu saja persoalan kriminalitas di Gaomi Timur Laut ini tak terlepas kondisi sosial-ekonomi-politik yang sedang melanda Cina saat itu, yakni sebuah situasi yang serupa dengan pilihan masyarakatnya untuk memakan sorgum karena tak ada pilihan lain. Sehingga sebagaimana dikatakan narator: “Benih bandit di Kabupaten Gaomi Timur Laut ditanamkan di mana-mana: pemerintah menghasilkan bandit, kemiskinan menghasilkan bandit, perzinaan dan seks menghasilkan bandit, bandit menghasilkan bandit.” (hal. 414).

Kondisi sulit ini pulalah yang terdengar dari jeritan hati Fenglian kepada Langit (baca: Tuhan) saat terbaring sekarat di ladang sorgum dalam pelukan anaknya Douguan, setelah ia tertembak Jepang: “Apakah aku telah berbuat dosa? Apakah benar untuk membagi bantalku dengan lelaki pengidap lepra dan melahirkan monster tak berbentuk yang mengerikan lalu mencemari dunia yang indah ini? Kau tidak pernah mengatakannya kepadaku, jadi aku harus memutuskannya sendiri.” (hal. 111).
Karena itu, suatu hari tatkala Kuburan Semua Jiwa di tengah ladang sorgum terbongkar oleh petir dan ia menemukan tengkorak beberapa puluh anjing bercampur dengan tengkorak manusia di dalam kuburan massal itu, sang narator pun lantas merenung.(*)
*) Penulis tinggal di Yogyakarta

dibaca oleh: 854 pengunjung