Memimpin dengan Kearifan Sufi

Judul Buku : Leading From The Heart
Penulis : Moid Siddiqui
Penerbit : Serambi
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : 280 halaman
ISBN : 978-602-290-011-5

Orang-orang bijak India kuno menyebut zaman kini sebagai Kali Yuga (zaman setan atau zaman edan). Pada zaman ini, kita bisa melihat kemerosotan di masyarakat tentang banyak hal. Cepatnya penyimpangan-nilai berpacu dengan kokok ayam. Sesuatu yang tidak terjadi selama beribu-ribu tahun lalu akhirnya menjadi hal biasa terjadi di era sekarang ini.

Salah satu kemerosotan yang paling menonjol adalah tentang kepemimpinan. Pemimpin yang seyogianya menjadi ‘juru selamat’ tak jarang malah menjadi biang kerok. Sambil duduk di peti simpanan harta yang diperoleh melalui cara yang tidak baik, banyak pemimpin korup berkhotbah supaya rakyatnya menjauhi korupsi. Mereka yang tidak sederhana menceramahi orang-orang agar sederhana.
Selain itu, beberapa pemimpin berusaha mencari jalan keluar lewat jalur perundang-undangan. Mereka bukannya tidak memahami bahwa masalah besar seperti itu tidak dapat dipecahkan dengan keputusan legislatif. Upaya itu tidak berguna sampai kita menyentuh akar permasalahannya. Maka dari itulah, diperlukan kecerdasan hati dalam sebuah kepemimpinan. Jika pemimpin ingin memahami rakyat, satu-satunya akar untuk meraih mereka adalah melalui hati. Jika menghendaki rakyat berbudi luhur, para pemimpin harus mengisi hati mereka dengan cinta dan kebijaksanaan (hal 11-12).

Selain kecerdasan hati, kearifan sufi juga diperlukan dalam sebuah kepemimpinan yang terpuji. Seorang sufi sejati adalah yang bersembunyi dan memilih tidak dikenal. Kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan duniawi tidak ada artinya. Ia mengerti bahwa keagungan tidak terletak pada kedudukan tinggi; keagungan diperuntukkan bagi orang yang menolak kedudukan. Kekayaan seorang sufi terletak dalam hatinya. Raganya miskin, tetapi jiwanya kaya (hal 20).
Jika para dokter memiliki sentuhan yang menyembuhkan, itu adalah hal biasa. Namun jika orang biasa memiliki sentuhan penyembuh, itu baru hal yang luar biasa. Seorang pemimpin yang tidak memiliki sentuhan yang menyembuhkan bukanlah pemimpin berhati sufi. Orang-orang yang mengelola ‘dengan hati’ mampu memulihkan hati yang terluka dan menenangkan jiwa yang gelisah (hal 99). Dengan hati, seseorang dapat melihat dengan tepat; intisari dari yang terlihat oleh mata (hal 105).

Seorang pemimpin yang tidak mengenali jiwanya adalah pemimpin yang hatinya kosong secara spiritual. Ketika para pemimpin tumbuh tanpa hati, tidak menyadari keberadaan jiwa, mereka mendapatkan pertumbuhan yang menyimpang dengan pendekatan yang tidak seimbang. Jika seorang pemimpin tidak mampu memahami jati dirinya sendiri, bagaimana ia mampu memahami orang-orang yang dipimpinnya?

Harus diakui, banyak negara tidak memiliki teladan kepemimpinan yang hebat. Negara dan rakyat India beruntung memiliki panutan seorang pemimpin besar, Mahatma Gandhi, yang sangat sekuler dalam gagasan dan perbuatannya. Di antara banyak ciri sikap kepemimpinannya antara lain terletak dalam pendekatan sekulernya. Ia adalah sosok pembelajar banyak agama yang cemerlang.

Selain mendalami Hindu, Buddha, dan Jainisme, Mahatma Gandhi juga mempelajari Islam dan Kristen. Pemahaman yang menyeluruh terhadap pencarian spiritual manusia ini menggiring Gandhi untuk memungut dan menyampaikan teori toleransi dan saling menghormati berasaskan kebenaran dan anti-kekerasan. Orang miskin dan tertindas, bagi Gandhi, merupakan perwakilan hidup Tuhan di dunia (hal 33-34).
Kejujuran menjadi modal kepemimpinan. Untuk jujur butuh keteguhan dan keberanian. Kepemimpinan bukan ‘mengoleskan mentega ke roti panggang raja’ dan ‘mengatakan sesuatu yang menyenangkan telinga raja’. Pencitraan, menurut para sufi, bukanlah kepemimpinan. Penonjolan diri secara berlebihan malah akan merusak citra yang sebenarnya.
Seorang pemimpin sejati tidak pernah mengakui dirinya sebagai pemimpin hebat yang (dengan bangga berkoar di depan publik) telah berhasil menuntaskan sederet persoalan rakyat. Kepemimpinan sejati terletak dalam kearifan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Arogansi dan egoisme tidak memiliki tempat dalam kepemimpinan.

Buku Leading From The Heart ini dimaksudkan untuk membantu melembutkan hati dan mengisi jiwa para pemimpin dengan kecerdasan hati serta kearifan sufi, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai lama yang nyaris terlupakan.
***
*Sam Edy Yuswanto, alumus STAINU, Fak. Tarbiyah, Kebumen.

dibaca oleh: 912 pengunjung