Keluarga yang Terjerat Suara dan Amarah

Saya benar-benar jatuh hati pada The Sound and the Fury setelah membaca satu paragraf panjang tanpa tanda baca di dalamnya. Seberapa panjang? Dua setengah halaman. Bagi saya yang sehari-hari memperjuangkan kaidah bahasa yang baik, benar, disempurnakan pula, novel ini lebih merupakan bacaan untuk ditaklukkan bukan dinikmati.

Secara garis besar, novel ini mengisahkan kehidupan keluarga Compson yang tinggal di Mississippi, Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Karena leluhurnya ikut merintis dan mengembangkan daerah itu, keluarga ini mendapat kedudukan terhormat. Dalam novel ini, salah satu simbol kejayaan itu dilambangkan dengan kepemilikan tanah yang luas. Namun, seiring berjalannya waktu, wibawa keluarga ini luntur.

Serangkaian tragedi terjalin seperti kalung yang menjerat leher keluarga itu. Pertama, kematian Damuddy atau nenek yang merupakan generasi terakhir yang benar-benar mengalami dan mengetahui kejayaan keluarga Compson. Kedua, hilangnya keperawanan Caddy, anak perempuan satu-satunya di keluarga itu, yang kemudian melahirkan anak perempuan yang tidak diketahui siapa bapaknya. Ketiga, bunuh dirinya Quentin, anak emas yang paling diharapkan dapat melestarikan kehormatan keluarga sehingga keluarga itu menjual sebagian besar tanah untuk menguliahkannya. Di akhir cerita, yang tersisa dari keluarga ini hanyalah seorang ibu yang selalu mengasihani diri sendiri, seorang anak laki-laki bernama Jason yang egois dan ingin menguasai sendiri kekayaan keluarganya yang tersisa, dan seorang anak laki-laki bernama Benjy yang berumur 33 tahu, tetapi bermental anak tiga tahun, lalu dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh kakaknya.

Plot dan kaidah bahasa bukan yang utama

William Faulkner, pengarang yang memenangi Hadiah Nobel Sastra 1949, memilih tiga narator—Benjy yang mengalami keterbelakangan mental, Quentin yang perenung, dan Jason yang mementingkan diri sendiri—untuk menceritakan tiga bab awal dalam novel ini. Dia sendiri baru menjadi narator dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga di bab keempat yang mengakhiri novel ini. Agaknya, dia lebih menitikberatkan karakter ketimbang alur cerita dalam karyanya ini.

Saya berani mengatakan bahwa bab pertama The Sound and the Fury adalah cerita dengan alur paling acak-acakan dari novel-novel yang pernah saya baca. Namun, seperti penyuka arung jeram yang melihat arus liar di sungai, saya menganggap inilah bagian paling menggiurkan untuk ditaklukkan. Karena diceritakan dari sudut pandang orang yang tidak bisa membedakan dulu, sekarang, dan nanti, di sini tidak ada petunjuk untuk menandakan alur mundur, seperti “aku mengenang” atau “kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa masa lalu”.

Ambil contoh ketika baju Benjy tersangkut paku di pagar, cerita beralih ke masa lalu saat dia mengalami kejadian serupa. Namun, kenangan (lapis pertama) itu serta-merta membangkitkan kenangan lain (lapis kedua) yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Untuk memberi tahu ada peralihan dari peristiwa yang sedang terjadi ke kenangan lapis pertama, paragraf dicetak miring. Namun, tidak ada petunjuk yang menandakan peralihan dari kenangan lapis pertama ke lapis kedua. Pembaca mungkin akan tersesat sehingga perlu membaca bagian ini beberapa kali.

Bab kedua tidak kalah menantangnya dibandingkan dengan bab pertama. Di sinilah paragraf sepanjang dua setengah halaman dan tanpa baca yang bikin saya kepincut berada. Di bab ini, pembaca banyak berkutat dengan lamunan si juru cerita tentang kejayaan masa lalu dan cintanya yang tak wajar—lebih bersifat mengekang ketimbang mengasihi—terhadap adik perempuannya. Renungan dan khayalan sering muncul dalam pikiran Quentin, narator bab ini secara tiba-tiba, sehingga tidak jarang kalimat terputus dan beralih ke kalimat lain dengan pokok pikiran yang berbeda.

Jika dua bab awal berisi “suara” yang menghuni kepala Benjy dan Quentin dengan segala ketidakteraturannya, bab ketiga—tentang “amarah” Jason—memiliki alur yang lebih mudah. Ini karena si narator tidak terjebak dalam kenangan masa lalu dan khayalan masa depan. Yang ada adalah narasi bernada sinis tentang kenyataan keluarganya yang hampir bangkrut dan keponakannya yang nakal hasil hubungan gelap Caddy entah dengan siapa.

Bermain dengan waktu

Dengan menjadikan tanggal (sederetan angka yang melambangkan keteraturan) sebagai judul bab, tetapi menggunakan plot yang acak-acakan, seolah-olah William Faulkner ingin bermain-main dengan waktu. Dia sepertinya berusaha menjajaki konsep waktu sebagai sesuatu yang rapuh, tetapi tidak bisa dikalahkan.

Lewat narasi yang disampaikan oleh Benjy, pengarang memperlakukan waktu tak ubahnya selaput yang mudah ditembus sehingga kenangan bisa datang dari masa lalu menindih masa kini. Di sisi lain, Quentin justru berusaha mengalahkan waktu dan melupakan nasihat bapaknya yang saya kutipkan untuk mengakhiri tulisan ini.

Aku memberimu arloji ini bukan hanya agar kau bisa mengingat waktu, tapi agar kau bisa melupakannya sesekali sejenak dan tidak menghabiskan semua napasmu dengan berupaya menaklukkannya.

dibaca oleh: 971 pengunjung