Sandyakala Andalusia

Buku: The Greatness of Al-Andalusia
Penulis : David Levering Lewis
Penerjemah: Yuliani Liputo .
Penerbit: Serambi, Jakarta .
Terbit: I, September 2012 . Tebal: 665 halaman

Di Kordoba, 1198, Ibnu Rusyd, ulama-cum-dokter yang di Barat dikenal sebagai Averous dan dianggap tokoh filsuf Rasionalisme, mengembuskan nafas penghabisan dalam kondisi mengenaskan. Jabatannya sebagai hakim negara dicopot. Banyak karyanya dibakar. Ajaran filsafatnya menjadi barang haram. Ramalannya mulai menuju kebenaran bahwa masa depan negaranya takkan ramah untuk orang-orang yang tercerahkan seperti dirinya.

Di tempat yang sama dan waktu hampir bersamaan, dokter, juru tulis, dan filsuf Yahudi Musa Ibn Maymun atau Maimonides harus angkat kaki dari kampung halamannya. Ia yang semula dimuliakan menjadi orang terbuang. Kordoba, yang dikuasai kerajaan-kerajaan Islam kecil dan saling berperang, mulai menutup pintu bagi kaum Yahudi. Bahkan ketika berkuasa, kalangan Muwahidun membantai ribuan orang Yahudi. Maimonides dan keluarganya pindah ke Mesir. Di sana ia mendapatkan tempat terhormat dengan menjadi dokter sekaligus penasihat pribadi Salahuddin al-Ayubi, kelak dikenal sebagai penakluk Yerusalem, hingga meninggal dunia pada 1204.
Seiring kematian dua filsuf besar itu, Kordoba, salah satu kota maju di Andalusia, tempat yang pernah menelurkan peradaban tinggi yang dikenal dengan Peradaban Andalusia, perlahan masuk liang lahat sejarah. Padahal, dua abad sebelumnya, tepatnya pada abad ke-9, Kordoba merupakan prototipe modernitas. Dari jendela istananya yang megah, Hisyam dan putra sekaligus penggantinya, al-Hakam I, menyaksikan kemajuan dan kemakmuran masyarakatnya.

Puncak Keemasan

Dan yang mengagumkan dari sejarah Andalusia, tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dan penuh toleransi—atau dalam bahasa Spanyol disebut Convivencia.

Kebijakan ini lahir dari tangan Abdurahman I, seorang pemimpin karismatik yang fasih bicara ihwal agama dan budaya di mimbar-mimbar masjid serta kerap menganggit puisi dan membacakannya di depan publik. Selain menerbitkan harmoni sosial, kebijakan ini memberi kesempatan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk menjadi pejabat negara. Penerusnya, Abdurahman III, menjaga kebijakan ini dengan mengangkat Hasdai Ibn Shaprut, seorang Yahudi, sebagai penasihatnya dan Racemundo, seorang uskup Katolik Elvira, sebagai dutabesar Kordoba untuk Konstantinopel.

Pengadaptasian teknologi pembuatan kertas, yang didapatkan dari peradaban Tiongkok, mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan di Kordoba dipenuhi buku-buku berharga. Dari segi penyebaran ilmu pengetahuan Kordoba hampir menyamai Baitul Hikmah di Baghdad, think thank pemerintahan Abbasiyah di Timur Tengah. Sepanjang sejarah, Baitul Hikmah telah melahirkan segudang ilmuwan besar. Dan di bawah bimbingan para ahli matematika beragama Islam di Kordoba pada masa Khalifah al-Hakam II al-Mustansir, Gerbert dari Aurillac berhasil menerbitkan buku teks empat halamannya yang revolusioner tentang matematika baru. Buku ini mencampakkan cara berhitung Romawi yang rumit, seperti XXIV+XLIII=LXVII, dan menggantikannya dengan sembilan angka Hindu dan angka nol Arab.

Peradaban Andalusia, yang kosmopolitan, menghargai perbedaan dan mendorong ilmu pengetahuan, menjulang tinggi. Meski diselingi satu-dua pertempuran kecil dan upaya untuk terus memperluas kekuasaan, kondisi masyarakat cukup stabil. Andalusia mencapai puncak keemasan pada abad ke-10 dan 11.

Retaknya Harmoni

Namun, harmoni ini mulai retak saat gelombang radikalisme agama mulai menggumpal, sementara kekuatan Islam moderat perlahan tapi pasti kian melemah. Ketika paham-paham keagamaan yang kaku dan tertutup merembes ke Andalusia melalui Afrika Utara dan penguasa lebih mendengarkan saran ulama-ulama konservatif, hampir tak ada kata ampun atas segala sesuatu yang dianggap penyimpangan. Kristenisasi dilarang dan hukuman mati ditimpakan kepada setiap Muslim yang menjadi Kristen. Orang-orang Kristen fanatik tak rida melihat saudara-saudara seiman beralih ke Islam. Jumlah mereka kian berkurang, bahkan tak lagi menjadi mayoritas. Sebagai reaksi putus asa, sekelompok kecil Kristen Andalusia menentang rezim Muslim pada pertengahan abad ke-9. Para pendeta Kristen dan orang awam juga mulai secara terbuka menghina Islam.

Satu-dua peperangan antara Islam dan Kristen bergolak. Sementara itu kalangan Yahudi terjepit dalam peperangan ini. Sebagai minoritas mereka tak bisa berbuat banyak, kecuali menerima kenyataan menjadi sasaran kebencian Islam dan Kristen. Sejak itu baik Islam maupun Kristen mulai mencopoti batu bata bangunan toleransi yang menjadi dasar peradaban Andalusia.

Ada satu faktor lagi yang ikut meruntuhkan Andalusia: lembeknya kelas menengah. Warga Andalusia –Kristen, Muslim, dan Yahudi– yang mendapatkan kemudahan dan kemewahan ekonomi lebih suka memikirkan bisnis dan keselamatan diri ketimbang menengahi berbagai kecamuk. Ketika keadaan makin gawat kelas menengah ini berbondong-bondong pindah ke daerah lain untuk memulai lagi usaha mereka.
Tepat 32 tahun setelah kematian Musa Ibn Maymun dan 38 tahun setelah kematian Ibnu Rusyd, kekuasaan Islam di Kordoba kian berkurang dan akan berakhir dengan masuknya sang pemenang Ferdinand III dari Kastilia pada 1236. Bangunan-bangunan megah hanya tersisa beberapa, perpustakaan dan buku menjadi barang langka kembali, dan toleransi ketiga agama besarnya menjelma hanya menjadi catatan sejarah.

* MUHAMMAD HUSNIL

dibaca oleh: 2946 pengunjung