Semenanjung yang Membangunkan Eropa

Eropa berutang budi kepada Andalusia. Akan seperti apa Eropa jika ditaklukkan kaum muslim pada 711?

DUA puluh satu tahun setelah Tariq ibn Ziyad mengarungi Selat Gibraltar dan menaklukkan Semenanjung Iberia (711 Masehi)—Spanyol kini—Abd al-Rahman al-Ghafiqi meneruskan derap langkah pendahulunya itu. la menuju Pyrenees, Francis sekarang, tapi geraknya dihentikan Charles Martel, yang memimpin kaum Frank, lewat pertempuran sengit di Poitiers.

Apa yang terjadi bila langkah Al-Ghariqi tak terbendung? Edward Gibbon, sejarawan abad ke-18, menulis, "Mungkin tafsir Al-Quran akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford." Kemungkinan itu tidak terwujud. Langkah Al-Ghafiqi terhenti dan sejarawan Barat menyanjung Martel sebagai penyelamat kekristenan serta penentu takdir Barat. Diikuti kemartiran Roland de Roncevaux hampir setengah abad kemudian, inilah momen awal pembentukan identitas yang disebut seorang imam Spanyol abad ke-8 sebagai "Europenses".

Tak dapat disangkal, sebagian besar sejarah memang ditulis para pemenang, dan dalam pertempuran Poitiers, pemenang itu kaum "Europenses". Tapi, di mata David Lewis, dengan "menang" di Poitiers, Eropa kehilangan 300 tahun kesempatan untuk lebih awal mencapai tingkat ekonomi, ilmiah, dan budaya yang dicapainya pada abad ke-13. Pertempuran Poitiers malah menjadi momen penting bagi penciptaan Eropa yang terbelakang, terbalkanisasi, dan terpecah-pecah. Juga Eropa yang menarik garis pemisah tajam dengan Islam.

Semenanjung Iberia, yang pesonanya membuat kaum muslim menyebutnya Al-Andalus, di mata Lewis, menawarkan kemungkinan bagi Eropa untuk ikut menikmati kemajuan peradaban lebih dini. Di bawah kepemimpinan Abd al-Rahman I—menjadi gubernur 24 tahun setelah Poitiers—Al-Andalus tumbuh menjadi negeri tempat seni, pertanian, sains, dan arsitektur bersemai sangat baik. la berhasil membangun negeri dengan spirit convivencia yang mendamaikan hidup orang Kristen, Islam, dan Yahudi, bahkan hingga empat abad kemudian.

Kaum muslim telah membawakan salah satu revolusi terbesar dalam kekuasaan, agama, budaya, dan kemakmuran ke Eropa Zaman Kegelapan. Andalusia pintunya. Begitu yakin Lewis menulis, "Pada malam kedatangan Islam di Benua Eropa lewat pendaratan Tariq ibn Ziyad di Iberia, per¬adaban Eropa hanya—dan, memang, tak lebih dari—sebuah kemungkinan."

Institusi yang diperlukan untuk pembentukan budaya, stabilitas politik, dan vitalitas ekonomi belum tercipta atau telah terdegradasi sehingga tak dapat dihidupkan kembali. Bangsa Prancis dan kepausan, tonggak pendiri Eropa masa depan, menurut Lewis, adalah entitas in utero ketika fajar muslim merebak di Semenanjung Iberia.

Ketika muslim Andalusia membangun kota yang indah, kaum Frank masih tinggal di hutan yang lebat. Tatkala kaum muslim sudah bertukar mata uang perak dan berdagang sutra, kaum Frank masih bertumpu pada barter. Di saat muslim mengunjungi salon, membaca puisi, dan memperbincangkan gagasan, Pippin si Pendek—anak Charles Martel—masih menerima duta kerajaan lain di tempat yang dipenuhi "kulit beruang, timbunan senjata, dengkur anjing, potongan tulang, dan teko anggur".

Andalusia mengembangkan pengetahuan yang jadi dasar bagi Eropa untuk bangun dari kegelapan. "Ini proses osmosis peniruan pada awalnya," tulis Lewis, "dan kemudian seperti sabuk berjalan." Pada abad ke-12, Ibn Rusyd menulis komentarnya atas Aristoteles, menjalankan tugas rekonsiliasi nalar dengan keyakinan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Thomas Aquinas, yang karyanya menjadi basis filsafat Barat sejak abad ke-13, sangat berutang budi kepada pembacaan Ibn Rusyd. Dengan menulis The Greatness of Al-Andalus, Lewis menarik garis paralelitas historis. "Bagi sejarawan, berpikir tentang masa kini berarti berpikir tentang masa lalu di masa kini," ujarnya. Inilah buah renungan seorang sarjana Barat perihal sepotong sejarah yang barangkali tampak terlalu silam untuk dibicarakan sekaitan dengan kekhawatiran postmodern kita saat ini. Meskipun begitu, seperti kata Lewis, keterhubungan sebagian besar dunia muslim dengan Eropa dan Amerika Serikat saat ini dapat disejajarkan dengan keterhubungan dunia Kristen yang terbelakang pada masa silam dengan sebuah Islam yang sangat canggih pada zaman itu.

The Greatness menawarkan pengisahan yang kaya, dengan cerita pergulatan kuasa yang memukau. Pembaca seyogianya berhati-hati agar tak tersesat dalam belantara detail dan kehilangan jejak narasi besar yang dituturkan Lewis.

DIANBASUKI. PENULIS BLOGDI TEMPO.CO

dibaca oleh: 2735 pengunjung