Tentang Berperkara Dengan Senja

Sebuah review dari antologi cerpen “Perkara Mengirim Senja” yang didedikasikan untuk Seno Gumira Ajidarma.



Tentu saya bukan satu-satunya orang yang merasa asing dengan nama Seno Gumira Ajidarma. Dan jujur, alasan saya membeli buku ini adalah karena saya tertarik dengan judulnya. Yah, saya jatuh hati kepada senja!

Di buku ini, terdapat 15 cerpen dari 14 penulis muda berbakat, yang akan membawa kita untuk lebih mengetahui sosok seorang sastrawan yang karya-karyanya banyak menginspirasi pembaca khususnya orang muda, Seno Gumira Ajidarma.

Jangan aneh jika kalian akan menemukan begitu banyak kata senja dan cinta dalam buku ini, serta nama sepasang anak manusia, Alina dan Sukab. Karena memang hal-hal itulah yang sering muncul dalam cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma.

Sekarang, saya akan mencoba untuk me-review ke 15 cerpen yang ada di dalam buku ini.

Cerpen pertama dibuku ini berjudul Gadis Kembang karya Valiant Budi Yogi (@vabyo). Tulisan ini lekat dengan ciri penulisnya. Bagian akhir, adalah inti dari setiap tulisannya. “Bisik-bisik membuas luas. Ada yang terperdaya, sebagian terlena, sisanya hanya bisa menerka. Selamat merekayasa cinta…”

Kemudian diikuti oleh sebuah cerpen karya Jia Effendie (@JiaEffendie) yang sekaligus menjadi judul dari kumpulan antologi ini, Perkara Mengirim Senja. Cerpen ini mampu membuat kalian merasa bagaimana memperjuangkan cinta yang tak sampai. “Aku yang paling tahu bagaimana mencintainya, tetapi dia tak pernah tahu untuk memilihku.”

Selanjutnya sebuah cerpen karya M. Aan Mansyur (@hurufkecil) yang judulnya terdiri dari 122 karakter huruf. Cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan berumah tangga. Istri yang begitu menuruti apa kata suami, dan suami yang begitu menjaga sang istri sampai-sampai memakaikan celana dalam besi untuk istrinya. Entah siapa yang mencoba untuk selingkuh terlebih dahulu. “Ada lebih banyak kata-kata dalam diam.”

Kuman karya Lala Bohang (@lalabohang), mengatakan: “Bahwa cinta memiliki kemampuan menggandakan diri untuk dua orang berbeda dalam kadar yang sama, baru saja terkuak.”

Karya berikutnya dari Putra Perdana (@putrafara) yang berjudul Ulang. Sebuah cerpen deskriptif dengan kalimat pembuka, “Akan kuceritakan kisah misteri terpendek di dunia. Manusia terakhir… mendapat ketukan pintunya.”

Dan Akulah Pendukungmu karya Sundea, mengajakmu untuk membaca judul cerpennya sambil dinyanyikan. Karna itu adalah bagian dari lagu Garuda Pancasila. Dari cerpen ini kalian bisa merasakan tentang mengagumi dalam diam. “Waktu adalah pesaing yang tidak kenal ampun.. Ia tidak mau bertoleransi sedikit pun.”

Empat Manusia karya Faizal Reza (@monstreza). Sebuah cerpen dengan satu judul yang terdiri dari empat bagian, yang akan membuat kalian menemukan begitu banyak quote manis disini. Salah satunya, “Kalau kita masih harus sama-sama menunggu, kenapa aku harus menunggumu sendirian sementara kau menungguku bersama orang lain?” Dan cerpen ini terinspirasi dari Empat Adegan Ranjang.

Berikutnya adalah Sapu Tangan Merah, karya Utami Diah  (@tummythumb). Dari cerpen ini saya menyimpulkan bahwa; Jika kau cinta, katakan! Jangan tunggu kau mendapati penyesalan, baru kau menghargai apa itu pertemuan.

Diikuti Senja dalam Pertemuan Hujan karya Mudin Em (@omemdisini) yang memaksa saya membaca cerpen ini sampai dua kali agar saya benar-benar mengerti siapa “ia” dan “dia” yang dimaksudkan dalam cerpen ini. Cerpen ini bercerita tentang perselingkuhan. Dan saya berdecak kagum akan tulisan ini. “Bukankah tiada yang pernah tahu kapan dan di mana cinta akan datang? Siapa pula yang bisa menebak siapa yang hendak singgah?”

Ada juga karya dari seorang Maradilla Syachridar, yang berjudul Kirana Ketinggalan Kereta. Cerpen ini bercerita tentang sepasang kekasih yang belum move on. Memutuskan untuk berpisah, tapi masih saling mencinta. Masih saling berhubungan. Dan masih saling memiliki harapan untuk membangun masa depan berdua. Perempuan yang rumit dan lelaki yang mencintai perempuan itu dengan segala kerumitannya. “Dan yang paling menyebalkan, sebenarnya aku lelah dengan diriku sendiri.”

Berikutnya, cerpen yang paling saya sukai dari buku ini. Gadis Tidak Bernama, karya Theoresia Rumthe (@perempuansore). Persetan dengan ada tidaknya itu Dinas Peneliti Senja. Yang saya tahu, saya begitu menggilai gaya bahasa dari penulis perempuan yang begitu menginspirasi saya ini. Satu quote yang saya amini adalah, “Sebagai perempuan, saya manipulatif. Saya mendambakan petualangan dalam hidup!”

Omong Kosong karya Arnelis (@arnellism), bercerita tentang seorang penjaga sekolah yang akhirnya berkata, “Tenang, saya bukan guru omong kosong.”

Rindu tak terbalas dari seorang perempuan yang terangkum dalam cerpen berjudul Surat ke-93 karya Feby Indriani, membuat kalian mampu menyelami sendu dari rindu yang tak terbalas. “Apa lawan dari cinta? Bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian.”

Bahasa Sunyi karya Rita Achdris mampu membuat kalian yang membaca cerpen ini tersenyum kecil karena merasa tergelitik diakhir ceritanya. “kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia.”

Cerpen terakhir di buku ini adalah Satu Dua Sepatu, Kecoak.. karya Sundea, yang terinspirasi dari Lelaki yang Terindah. Cerpen ini mengandung pesan bahwa pernikahan tidaklah selalu soal kebahagiaan.

Nah, gimana? Penasaran? Buat kalian yang belum memiliki Buku Perkara Mengirim Senja, silahkan preorder ke: http://poscinta.com/pms/

Dan lihat trailer buku ini di: http://www.youtube.com/watch?v=sHtkvDCIjfk


dibaca oleh: 1405 pengunjung