Arianianisme, Dogma, dan Negara

Judul Buku: Kala Yesus Jadi Tuhan
Penulis: Richard E. Rubenstein
Penerjemah: F.X. Dono Sunardi
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan: Maret, 2006
Tebal: 526 hlm.


Buku Kala Yesus Jadi Tuhan mengundang kita memasuki jagad Kekhaisaran Romawi pada masa ambang keruntuhannya. Gaung gelora pax Romana masih terdengar, tapi perlahan sayup tertelan oleh jerit ketakutan akan perpecahan. Dan perpecahan itu mulai dari Gereja, suatu persekutuan spiritual yang telah menggantikan paganisme dan oleh Konstantinus diharapkan menyatukan Romawi.

Waktu itu seorang imam bernama Arius terang-terangan mengkritik pandangan teologis uskupnya, Alexander. Sang uskup pun mengudang konsili para uskup Mesir. Padangan Arius dikutuk dan ia diekskomunikasi. Tetapi Arius tak menyerah. Ia mencari dukungan dari kawan-kawannya di Palestina, Syria, dan Asia Kecil. Kontroversi lokal pun menyebar ke seluruh kawasan Mediterania.
Arius sebenarnya hanya meneruskan perdebatan teolog Kristen sejak abad kedua. Pertanyaan pokoknya, bagaimana hubungan antara Yesus Kristus sebagai Putera dan Allah sebagai Bapa. Origenes, teolog terkemuka waktu itu, mengakui keallahan Yesus tetapi mengatakan bahwa ia lebih rendah dari Allah (Bapa). Namun, Arius melangkah lebih jauh. Ia berpendapat bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah, tetapi bukan Allah sendiri. Ia diciptakan dari ketiadaan dan tidak kekal. Ia diangkat menjadi Putera Allah karena kebesaran moralnya dan ketaatannya pada Allah. Ujung-ujungnya, bagi Arius Yesus Kristus adalah manusia.

Gagasan Arius membuat gerah uskupnya. Kalau Yesus Kristus bukan Allah, bagaimana tindakan penyembahan terhadapnya dibenarkan? Bukankah dengan begitu orang Kristen tidak lain daripada penyembah berhala? Kalau Yesus Kristus bukan Allah, bagaimana ia bisa menyelamatkan? Alexander dan pihak anti-Arian mengimani bahwa, “Allah telah menjadi manusia Yesus karena inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia. Untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian, Allah bersedia melakukan hal-hal yang tak terbayangkan: Ia turun menjelma ke dalam tubuh kemanusiaan.” (hlm. 65)
Melihat bahaya perpecahan ini, Konstantinus mengundang konsili para uskup di kota Nisea (tahun 325). Ia tidak ingin campur tangan soal ajaran, tetapi hanya ingin perselisihan selesai dan Gereja kembali harmonis. Namun bukanlah tanpa tekanan dari kaisar kalau akhirnya lebih dari 250 uskup, termasuk mereka yang melindungi Arius, menandatangani kesepakatan konsili: mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah benar dari Allah benar, diperanakkan dan bukan diciptakan. Konsili pun memutuskan mengutuk dan membuang para penganut Arianisme.

Konstantinus menjadi pengemban amanat konsili: mengasingkan Arius dan pengikutnya, pihak yang dinilai menyimpang dari ajaran resmi. Terhadap hal ini Rubenstein memberikan komentar menarik: “mulai Konsili Nisea inilah dua kelompok yang bertikai paham bahwa pihak yang menang dalam perdebatan keagamaan dapat mempergunakan kekuasaan Romawi untuk melumpuhkan musuh-musuhnya.” (hlm 210)

Sejak itu pula terjadi perubahan cara memandang pihak lawan. Awalnya lawan dilihat sebagai sesama orang Kristen, hanya saja berbeda pandangan. Setelah konsili itu, secara bertahap lawan dicap sebagai orang berdosa yang keras kepala, lalu kelompok anti-Kristen, bahkan kemudian sekutu setan sehingga harus dihancurkan. Alexander dan penggantinya, Athanasius,  pernah membandingkan kelompok Arian dengan kelompok orang yang menyalibkan Yesus dan membagi-bagikan jubahnya di antara mereka.

Persoalan menjadi pelik karena Konstantinus terombang-ambing dalam berpihak. Atas dasar keputusan Konsili Nisea yang anti-Arian, Konstantinus mengasingkan Arius. Tapi tiga tahun kemudian Arius diterimanya kembali. Bahkan ia merancang konsili Konstantinopel (336) yang secara resmi akan mencabut hukuman ekskomunikasi dan menerima kembali Arius ke pangkuan Gereja. Rencana ini gagal karena Arius keburu meninggal pada malam menjelang hari upacara penerimaan itu. Katanya, ia terkapar ketika sedang buang air besar.

Perubahan keberpihakan Konstantinus dari anti-Arian menjadi Arian berimbas juga pada Athanasius, penentang Arius yang paling galak. Atas tuduhan melakukan pembunuhan dan penganiayaan terhadap seorang uskup Arian, Konstantinus melaksanakan amanat Konsili Tirus yang memecat Athanasius. Ia mengirim pejabat dan pasukan Romawi ke Alexandria untuk mengusir Athanasius. Uskup Gregorius yang Arian datang sebagai pengganti. Namun, ia mesti dikawal ketat oleh tentara Romawi sebab pendukung Athanasisus membuat keonaran. Sementara Athanasius sendiri lari ke gurun, lalu menyeberang ke Roma untuk minta perlindungan uskup Yulianus. Sejak itu Gereja Barat pun mulai terlibat aktif dalam kontroversi Arian.

Persoalan menjadi semakin rumit dan panas sejak Konstantinus meninggal pada tahun 337. Sebab, Romawi diperintah oleh anak-anak Konstantinus yang saling bersaing satu sama lain. Konstantius di Timur memainkan kartu Arian; Konstans di Barat memainkan kartu anti-Arian. Sementara, orang-orang Gereja tahu memanfaatkan kekuasaan negara untuk menekan musuh-musuhnya.
Kedua pihak juga tak segan-segan mengerahkan massa untuk menekan pihak musuh. Memang, pada waktu itu teologi bukan hal yang asing bagi para awam. Sementara itu, kekristenan tampil sebagai agama batin yang menekankan komitmen pribadi. Ketika Yesus Kristus, Pribadi yang mereka junjung tinggi, menjadi pokok kontroversi, mau tidak mau semua orang dengan sepenuh hati melibatkan diri dan mati-matian membela pandangan kelompoknya. 
Satu keanehan dicatat Rubenstein dalam kontroversi Arian ini: Konflik intern dalam Gereja semakin sengit dan berujung pada kekerasan justru ketika Gereja hampir berhasil mengokohkan dirinya di bumi Romawi. Mengapa pula Gereja mengundang negara campur tangan sedemikian dalam? Jawab Rubenstein, “Ketika suatu gerakan keagamaan ada di ambang jalan untuk menaklukkan masyarakat, dukungan negara perlu untuk menjadikan keyakinannya sebagai nilai universal … Campur tangan negara semakin dirasa perlu ketika orang merasa bahwa visi keagamaan mereka begitu terancam keberadaannya.” (hlm. 348)

Pada masa akhir kekhaisaran Romawi skenario penguniversalan disertai ketakutan akan hilangnya agama Kristen (sejati) karena merebaknya bidah. Cita-cita dan ketakutan itu muncul bersamaan dan saling menguatkan. Karena itu, demi keberadaan mereka dan kebenaran yang diyakini, masing-masing kelompok butuh bantuan negara untuk menghapus lawan yang telah berubah menjadi musuh dan acaman.

Hal aneh lain: konflik ini mereda ketika, Yulianus, kaisar Romawi yang baru, berupaya menghidupkan lagi paganisme dan mulai mencabut keistimewaan yang diperoleh orang Kristen. Pada saat itulah Athanasius yang sebelumnya mengecap kelompok Arian sebagai iblis dan anti-Kristus, mengudang mereka untuk duduk bersama dan membicarakan soal itu sebagai saudara. Rubenstein menyimpulkan, rupaya kemampuan kekristenan untuk menyelesaikan konflik internal berbanding terbalik dengan kedekatannya dengan kekuasaan negara.
Lewat buku ini tentu saja kita bisa mengikuti sengitnya pedebatan teologis kelompok Arian dan Nisean. Tapi Richard E. Rubenstein bukanlah teolog Kristen atau pun sejarawan Gereja. Ia adalah ahli konflik sosial yang memicu terjadinya kekerasan. Dalam buku ini, dengan mencermati kasus kontrovesi Arianisme, ia  bermaksud “mengeksplorasi sumber-sumber konflik keagamaan dan berbagai metode yang digunakan orang untuk menyelesaikannya.” (hlm. 42).


Buku yang ditulis dengan tuturan lancar, disertai deskripsi detail dan suspens bak novel ini perlu dibaca oleh orang Kristen yang ingin melihat iman mereka dari sebuah pandangan yang berjarak. Tapi ia juga menantang siapa saja untuk memikirkan lagi hubungan agama dan negara, juga hubungan antara dogma, fanatisme, massa, dan kekerasan. Buku ini relevan untuk masa kita sekarang, masa ketika banyak orang tanpa keraguan sedikit pun yakin bahwa agama akan menjadi solusi untuk segala persoalan dalam masyarakat, tetapi pada saat yang sama keyakinan itu disertai ketakutan terhadap aneka hal yang tampak mengacam agama sendiri sehingga ia merasa perlu menghancurkan mereka, dengan bantuan negara. 



A. Sumarwan
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma
[email protected]

dibaca oleh: 1783 pengunjung