Akulturasi versus Asimilasi Ajaran Islam

Judul Buku      : Syekh Siti Jenar: Mengungkap Misteri dan Rahasia Kehidupan
Penulis             : Mohammad Zazuli
Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Tebal                : 220 Halaman
Cetakan I         : Februari 2011
 
Dalam catatan sejarah, kemunduran Islam dalam bidang politik ditandai oleh jatuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serangan bangsa Mongol pada 1258 M dan tersingkirnya Dinasti Al-Ahmar di Andalusia, Spanyol oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492 M. Sementara dalam bidang pemikiran, kemunduran ditandai dengan meredupnya ulama-ulama terkemuka dalam bidang hukum, teologi, filsafat, tasawuf dan sains. Stagnasi pemikiran tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup serta kemunculan kelompok-kelompok tarekat sesat yang semakin berkembang di kalangan umat Islam.
 
Dalam situasi yang demikianlah Islam masuk ke Indonesia, dan lebih khusus lagi ke pulau Jawa. Di Jawa sendiri, ketika itu sedang berada dalam kondisi di mana budaya animisme dan dinamisme telah mengurat dan mengakar kuat di kalangan masyarakat setempat. Maka dengan datangnya Islam, terjadilah pergumulan antara Islam di satu sisi dengan kepercayaan-kepercayaan sebelumnya pada sisi yang lain.
 
Dari sini, muncullah kemudian dua varian kelompok yang menerima Islam; pertama, kelompok yang menerima Islam secara utuh (kaffah) tanpa berpaling kepada kepercayaan lama; kedua, kelompok yang menerima Islam tetapi belum bisa melupakan ajaran dan kepercayaan lama.
 
Untuk menyebarkan ajaran Islam kepada kelompok yang pertama mungkin tidak menjadi persoalan yang terlalu sulit bagi para ulama saat itu, meski tidak sedikit aral yang dihadapi. Hal ini berbeda ketika menyampaikan ajaran Islam kepada kelompok yang kedua. Selain harus memiliki kecakapan dalam hal ilmu agama, wali atau ulama yang terjun kepada kelompok kedua juga harus memiliki sikap toleransi dan kepekaan sosial yang tinggi untuk mengantisipasi friksi yang mungkin muncul karena adanya perbedaan paham.
 
Salah satu nama yang turut mentransformasikan ajaran Islam kepada kelompok kedua tersebut adalah Syekh Siti jenar. Sosok legendaris, kontroversial, sekaligus misterius yang memiliki nama asli Hasan Ali Ansar ini begitu ‘gencar’ mengajarkan Islam kepada masyarakat yang masih memiliki linkage yang cukup kuat terhadap warisan ajaran Hindu-Budha dengan bekal latar belakang ajaran Islam sufistik cum mistik seperti ilmu kasampurnan, manunggaling kawulo-Gusti dan memayu hayuning bawana.
 
Jika ditelusuri lebih jauh, pemikiran Syekh Siti Jenar sebenarnya bermuara pada persoalan ajaran hakikat dan syari’at. Ajaran hakikat lebih banyak mengupas hubungan dan akhlak antara manusia dengan dirinya sendiri, sesama makhluk lain, alam semesta, serta Tuhan. Sementara ajaran syari’at cenderung menekankan pada persoalan dogma atau doktrin, ritual ibadah, simbol-simbol, aturan, serta praktik formal keagamaan.
 
Bagi Syekh Siti Jenar, syari’at hanyalah sarana yang akan mengantarkan kita untuk sampai ke tujuan dan bukan menjadi tujuan itu sendiri. Beliau menganggap bahwa ilmu hakikat jauh lebih penting untuk dipahami terlebih dahulu daripada ilmu syari’at, sebab orang yang hanya menjalankan syari’at agama namun tidak memahami ilmu hakikat seringkali mengalami problem “krisis identitas”. (hlm. 56)
 
Ajaran Islam yang diajarkan Syekh Siti Jenar memang bisa di bilang kontroversial. Di saat para Wali Songo menanamkan Islam lewat model akulturasi, Syekh Siti Jenar justru membangun Islam secara asimilasi, yang kemudian melahirkan Islam kejawen. Pandangan sufistik Islam ia ramu dengan mistik jawa sehingga melahirkan Islam yang tidak berwajah keras, tapi memancarkan kesejukan dan kedamaian. Maka tidak mengherankan jika kemudian ajaran beliau berkembang dengan cepat melebihi dakwah Wali Songo karena memang ketika itu masih banyak masyarakat Jawa yang menganut agama dan paham bercorak Hindu-Budha.
 
Resah karena melihat perkembangan ajaran Syekh Siti Jenar yang semakin diterima masyarakat luas, para Wali Songo kemudian bersepakat untuk mengeluarkan ‘fatwa’ sesat dan menyesatkan kepada ajaran Syekh Siti Jenar dan menuding pelakunya sebagai wali yang murtad dan kafir. Pada konteks ini, kita bisa melihat bahwa tradisi tafkir fi zaman takfir sebagaimana dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd telah ada sejak saat itu. Tak pelak, upaya de-Siti Jenar-isasi terus gencar dilakukan oleh Wali Songo dan pemerintah Demak karena ia dipandang telah melakukan tindakan subversif.
 
Buku setebal dua ratus dua puluh halaman ini hadir dengan dua keunggulan; pertama, ia hadir di tengah masyarakat ketika wabah takfir (pengkafiran), tasyrik (pemusyrikan), tabdi’ (pembid’ahan), dan tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap satu tokoh semakin marak terjadi. Tak jarang, munculnya beragam aliran kepercayaan baru ini membuat kalangan Islam garis keras kebakaran jenggot. Kondisi ini semakin diperumit karena kedua belah pihak sama-sama membungkus diri mereka dengan tameng dalil.
 
Kedua, tidak seperti buku sejarah kebanyakan yang identik dengan bacaan yang rumit, kompleks, abstrak dan paradoks, Mohammad Zazuli berhasil meramu buku ini dengan gaya yang tidak njlimet. Upaya tersebut ia lakukan dengan merambah kepada disiplin logika matematika, fisika, dan kedokteran untuk mempertajam pembahasan setiap babnya. Selain itu, dalam buku ini Anda akan mendapati banyak nukilan teks dari al-Qur’an dan beberapa kitab filsafat Jawa seperti Serat Dewa Ruci, Wirid Hidayat Jati, Sasangka Jati, dan sebagainya. Intinya, penulis mencoba untuk menggunakan ‘segala cara’ agar pembaca dapat memahai tema-tema yang sebenarnya sulit untuk dipahami.
 
Wacana tasawuf tentang sangkan paraning dumadi (dari mana alam semesta ini berasal dan akan pergi ke mana setelah kepunahannya), sangkan paraning manungsa (dari mana manusia berasal dan akan pergi ke mana setelah kematiannya), dan dumadining manungsa (bagaimana proses terjadinya manusia), juga tidak lepas dari kajian penulis dalam buku ini.
 
Secara padat dan memikat, dalam buku ini Anda juga akan menemukan ulasan tentang cara menemukan jati diri, meraih keseimbangan dan keselarasan, menguasai seni hidup, mengabdi dan melayani kehidupan, serta mencapai persaudaraan yang universal.
 
Walhasil, secara tidak langsung, buku ini telah menambah satu lagi deretan panjang karya-karya sebelumnya yang mencoba menguliti ‘sisi lain’ Syekh Siti Jenar beserta ajarannya. Semua pembahasan dalam buku ini diarahkan untuk menuju kepada satu tujuan bahwa memandang orang atau kelompok lain secara lebih arif dan santun semakin dibutuhkan di negeri kita saat ini. Selamat membaca!

Sumber: Abdul Kholiq
http://www.facebook.com/#!/notes/abdul-kholiq/akulturasi-versus-asimilasi-ajaran-islam-lomba-resensi-buku-serambi-2011/210953898916850

dibaca oleh: 2665 pengunjung