Korupsi

Judul : Korupsi
Judul asli : L’Homme Rompu
Penulis : Tahar Ben Jelloun
Penerjemah : Okke K.S Zaimar
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, November 2010
Tebal : 233 halaman
ISBN : 978-979-024-073-5

Andaikan Gayus HP Tambunan sudah membaca novel ”Korupsi” ini, mungkin ia akan berpikir ulang sebelum korupsi. Sebab, kehidupan orang yang berproses menjadi seorang koruptor selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan-ketakutan serta membuat kebenaran dan pembenaran nyaris tak berjarak.

Firman Venayaksa Murad adalah tokoh utama yang ada di dalam novel ini. Ia pegawai negeri yang memiliki koneksi luas dan memiliki kesempatan untuk mengambil untung dari tugas yang diembannya. Bisa jadi, pada mulanya Gayus seperti Murad. Ia kuat, tak mau kompromi, dan sangat sadar bahwa korupsi akan membuat kehancuran.

Namun sebagai pegawai negeri sipil dengan gaji yang rendah, ia tertekan karena impitan kemiskinan dan ingin menyenangkan keluarga. Di sisi lain, lingkungannya mendukung. Akhirnya, ia tergiur, karena kesempatan emas berada di depan matanya.

Novel Korupsi karya Tahar Ben Jelloun dan diterjemahkan oleh Okke KS Zaimar ini sangat tepat dipublikasikan di Indonesia. Sebab saat ini masyarakat sungguh merasakan, korupsi sudah menjadi penyakit peradaban yang sulit diberantas. Kendati ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan institusi terkait yang mencoba untuk mengatasi korupsi, ternyata korupsi masih mewabah.

”Bencana sosial” ini tentu tidak bisa hanya dikontrol oleh institusi formal semacam itu. Harus ada cara lain yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya adalah dengan meluncurkan novel semacam ini.

Kewajiban moral

Pada tahun 1954, Pramoedya Ananta Toer pernah menulis novel yang berjudul Korupsi dan diterbitkan ulang pada tahun 2002. Menurut pengakuan Tahar Ben Jelloun, ia menulis buku ini untuk memenuhi kewajiban moral kepada Pramoedya Ananta Toer.

Buku yang ditulisnya ini sangat terinspirasi dari novel Pram, sehingga ia memberikan setengah dari royalti ini untuk Pram. Jadi jika melihat motivasi pembuatan novel ini, tampaknya novel yang ditulis oleh Jelloun tidak bisa dilepaskan dari karya-karya Pram yang dikaguminya.

Novel ini menceritakan seorang tokoh bernama Murad yang awalnya sangat memegang prinsip hidupnya untuk tidak korupsi. Ia bekerja di institusi Kementerian Pekerjaan Umum, Casablanca, Maroko. Kendati tahu bahwa lingkungan di sekelilingnya sangat rentan dengan urusan korupsi, ia tetap kukuh akan pendiriannya bahwa melakukan tindakan korupsi sangat tercela.

Namun dengan gaji sebagai pegawai negeri yang sangat kecil, Hilma, istrinya, sering mencelanya sebagai kepala keluarga yang tak bisa memakmurkan keluarganya. Hilma membandingkan suaminya dengan asisten Murad bernama Haji Hamid, yang tinggal di vila, punya dua mobil, menyekolahkan anak-anaknya di kedutaan Perancis. Bahkan menghadiahi istrinya jalan-jalan ke Roma. Dari situlah Murad kian goyah dan mulai masuk pada perangkap korupsi ketika ada kesempatan.

Sebetulnya Murad sangat mengerti, apa yang dilakukannya adalah kesalahan besar. Dia dikuntit rasa bersalah yang teramat dalam, hingga dia terkena penyakit psikosomatis, bercak putih yang kian menyebar karena persoalan psikologis. Dia takut korupsi yang dilakukannya diketahui oleh orang lain sehingga dia diadili lalu dibui.

Ternyata ketakutan itu pun benar-benar terjadi. Ketika Murad menukarkan uang dollar untuk kedua kalinya, dia diinterogasi oleh tiga orang yang menurut mereka uang tersebut didapatkan dari uang haram.

Sejak itu perasaan penuh ketakutan menghantui Murad. Namun yang terjadi ternyata tidak demikian. Murad diskors oleh atasannya karena mengambil mesin tik yang sudah usang, bukan karena uang sogokan itu. Lalu atas dasar pembenaran, dia kembali lagi bekerja di kantornya dengan gaya yang jauh berbeda dan lebih percaya diri.

Dari segi keterbacaan, novel ini sangat lugas sehingga mudah untuk dipahami pembaca. Meski demikian, ada persoalan yang cukup mengganggu. Novel ini dimulai dengan memakai sudut pandang orang ketiga. Perubahan tiba-tiba terjadi ketika masuk pada cerita lainnya, yaitu halaman 24, dengan menggunakan sudut pandang ”aku”.

Konsekuensi dari perubahan sudut pandang ini membuat novel ini jauh lebih memiliki nilai emosi dan pembaca bisa merasakan secara psikologis mengenai orang yang begitu tertekan dan berusaha bertahan atas lingkungan di sekelilingnya. Pada waktu tertentu, pengarang juga bermain-main dengan sudut pandang orang kedua. Ia berdialog dengan dirinya sendiri.

Selain sudut pandang, pembaca diteror dengan urusan psikologis. Pada awalnya Murad dipandang oleh tokoh lain sebagai sosok yang baik dan teguh pada pendirian. Hal ini tersurat pada dialog Murad dengan dirinya sendiri, dialog dengan istrinya, juga dengan Nadia (selingkuhan Murad) yang mengaku mencintainya dikarenakan sifat jujurnya.

Murad sangat mencintai kedua anaknya. Karena berbagai hal, terutama keluarga istrinya, dia mulai tidak suka dengan Hilma, istrinya yang sering ”memaksa” dia untuk melakukan hal-hal koruptif yang menurut istrinya sebagai sesuatu yang wajar di era kini.

Evolusi koruptor

Ujian yang dialami Muradlah yang membuat novel ini memiliki kekhasan. Pembaca lagi-lagi diteror untuk mengikuti perkembangan perubahan-perubahan sosok Murad. Sosok yang awalnya ideal mulai berubah menjadi sosok yang pragmatis.

Ketika terjadi ”sogokan” untuk pertama kalinya, Murad mencari celah untuk memastikan bahwa apa yang dia lakukan tidak sampai merugikan siapa pun. Murad membandingkan dengan orang lain, bahkan dengan ”koruptor” di negara maju dengan modus-modus korupsi yang canggih.

Pembenaran yang dilakukan oleh Murad sepertinya menjadi gejala keseharian bagi orang-orang yang mulai masuk pada wilayah korupsi secara evolutif. Awalnya dia mencari celah-celah pembenaran, selanjutnya menjadi ketagihan. Murad tak lagi malu-malu untuk bertanya kepada Haji Hamid mengenai uang sogokan. Murad sudah masuk perangkap korupsi.

Perubahan tokoh Murad kian menjadi ketika dia bisa menikmati hasil korupsinya itu. Misalnya, dia bisa menikmati liburan, pergi ke tempat yang diinginkannya. Mimpi yang tidak pernah terealisasi karena kemiskinan mulai bisa terwujud.

Sebetulnya, kenikmatan yang dirasakan oleh Murad masih dibayang-bayangi oleh ketakutan-ketakutan. Dia khawatir jika apa yang dilakukannya diketahui orang lain. Pengingkaran dan pembenaran terus-menerus muncul di batinnya sehingga dia memiliki penyakit psikosomatis, sebuah penyakit yang terlihat secara fisik tetapi hanya bisa diobati secara psikologis.

Pengarang cukup cerdas memperlihatkan perubahan-perubahan psikis tokoh Murad. Menjelang berakhirnya cerita ini, Murad sudah benar-benar total dan mulai tenang akan ”pekerjaan” barunya sebagai seorang koruptor. Penyakit psikosomatisnya berangsur hilang.

Pengarang ingin memberikan gambaran bahwa menjadi seorang koruptor butuh ketenangan yang luar biasa! Kebenaran dan pembenaran menjadi samar-samar.

(Firman Venayaksa Dosen Sastra di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten)

dibaca oleh: 2295 pengunjung