Memperbincangkan Novel Korupsi

OBROLAN Pembaca Media Indonesia pada Desember 2010 membahas novel berjudul Korupsi. Buku ini karya Tahar Ben Jelloun, sastrawan Prancis kelahiran Maroko, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Meski latar belakang kisah ini di Casablanca, Maroko, namun kisah pergolakan batin seseorang mengenai korupsi, terasa dekat dengan kondisi di Indonesia saat ini. Maklum, kasus korupsi selalu menjadi headline utama surat kabar, lengkap dengan semua skandal yang kerap membuat kita geleng-geleng kepala.

Oleh karena itu, pada 18 Desember 2010, peserta OPMI berkumpul di Kantor Media Indonesia, Kedoya, Jakarta Barat, untuk mendiskusikan buku yang diterbitkan Penerbit Serambi ini. Berikut adalah catatannya.

SASTRAWAN Prancis kelahiran Maroko Tahar Ben Jelloun pernah ke Indonesia sekitar 1990-an. Sengaja ia ingin bertemu Pramoedya Ananta Toer. Niatnya tak tercapai lantaran saat itu Pram masih jadi tahanan rumah era Orde Baru.

Tahar pernah membaca karya Pram, Korupsi. Buku L’Homme rompu (diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Corruption) pun ditulis Tahar sebagai bentuk penghargaan atas karya Pram, tahun 1954.

“Kalau boleh membandingkan, menurut saya, cerita Korupsi Pram agak klise,” kata Anton Kurnia, Pemimpin Redaksi Penerbit Serambi di Kantor Media Indonesia, Sabtu (18/12/2010).

Anton sendiri mengaku menemukan buku Tahar dalam edisi bahasa Inggris di perpustakaan Yayasan Lontar. Dia tertarik menerbitkan karya Tahar dalam bahasa Indonesia. Namun, prosesnya tidak gampang. “Soalnya penerbit L’Homme rompu cuma penerbit kecil. Tapi, kami tertolong juga oleh Forum Jakarta Paris,” beber Anton.

Jadilah Korupsi diterjemahkan langsung dari naskah Prancis. “Itu juga sempat ganti penerjemah, karena penerjemah pertama buku ini banyak pekerjaan lain,” aku Anton.
Proses berliku itu–hampir tiga tahun–toh terbayar pantas dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI). Peserta OPMI memberikan apresiasi positif.

“Buku ini punya daya sedot luar biasa. Saya jadi penasaran untuk membaca buku aslinya,” kata Lita Soerjadinata, 33.

Dilema pegawai negeri

Dikisahkan Murad, seorang insinyur yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko, memiliki posisi penting. Murad-lah yang bertugas mempelajari berkas pembangunan. Tanpa persetujuannya, tak ada pembangunan.

Murad serius menjalani tanggung jawabnya. Namun, kejujuran yang menjadi prinsip hidup Murad telah mendatangkan kemiskinan bagi keluarganya.

Sementara tawaran uang suap terus berdatangan ke mejanya, Murad berusaha bertahan di lingkungan kerja yang korup serta rongrongan Hilma, sang istri yang penuntut.

“Aku bisa ngerti sih kenapa Hilma jengkel sama suaminya, pengen ini-itu. Dia kan pasti lihat saudara-saudaranya, tetangga. Sedangkan dalam pikiran dia, Murad yang sekolahnya bagus itu harusnya bisa juga memberikan materi yang lebih,” kata Sitharesmi, geregetan.

Sitha mengaku terhanyut dengan kisah Murad, serta pergolakan batin pegawai negeri itu untuk bertahan menjadi manusia yang lurus, paling tidak untuk urusan integritas.

Namun terkait kesetiaan, Murad tak lurus-lurus amat. Dia memilih berselingkuh. “Pengarangnya mampu menampilkan karakter yang kuat. Tapi manusiawi. Murad itu kan digambarkan lurus, tapi untuk urusan perselingkuhan ya dia selingkuh juga. Mungkin juga karena dia merasa ‘terjebak’ dengan pernikahannya,” timpal Rifai Sumaila.

Penulis Kurnia Effendi menguatkan pendapat Rifai. Baginya, persoalan yang dialami Murad merefleksikan pertentangan idealisme dan tuntutan sosial.

“Bisa jadi, sikap Murad ya turunan juga. Bapak Murad kan diceritakan seperti itu juga, irit karena terpaksa. Sampai-sampai saat meninggal tidak menyisakan harta apa-apa,” ujar Kurnia.

Di tengah kegalauan Murad menghadapi godaan korupsi, anak lelakinya tegas-tegas mengatakan , “Aku seperti ayah, tidak pernah korupsi. Lagi pula aku percaya, kalau semua orang seperti kita, negeri ini pasti akan menjadi lebih baik.”

Bisa ditebak, Murad makin sakit kepala, dan Tahar berhasil menularkan sakit itu pada kepala Anda saat membaca kisah ini. Dilema lelaki jujur digelontorkan Tahar begitu pas, dengan ritme pengisahan yang tak monoton.

Korupsi sebagai tema besar tidak terasa sebagai pesan yang menggurui karena Tahar menyajikannya dalam ruang-ruang pergulatan batin manusia. Novel Korupsi terasa pas dengan kondisi bangsa yang saat ini selalu diributkan dengan urusan suap-menyuap ini.

Penuturan memikat

Gaya penuturan Tahar dalam kisah ini juga menjadi kelebihan tersendiri. Lita mencermati gaya bahasa Tahar yang lugas, tak bertele-tele, namun bernas. Akibatnya, pembaca tak kelelahan.

“Saya juga suka pilihan kalimat Tahar, suka analogi-analoginya,” imbuh Kurnia, lalu membalik halaman buku. Dia lantas mengutip bagian favoritnya. “…Siapa bilang bahwa malam hari mendatangkan saran? Itu salah. Bukan saja malam tidak mendatangkan saran, tetapi malah memperparah masalah, membesar-besarkannya, menjadikannya berat. Aku seakan berada di dalam terowongan. Sulit sekali bergerak maju.”

Murad, kata Kurnia, mengingatkan kepada tokoh Holden Culfield dalam The Catcher in The Rye karangan JD Salinger.

“Saya ingat tokoh utama Salinger itu karena Murad juga digambarkan begitu menyayangi anaknya, Karima. Seperti Holden mencintai adiknya,” kata Kurnia.

Plus, Murad sebagai narator kisah juga terasa seperti Holden yang menggerundel. Anda bisa saja jengkel, memaklumi, bahkan bersimpati pada tokoh Murad. Sosok naif dan jujur yang tergagap-gagap dengan maraknya korupsi di lingkungannya.

“Bahkan ketika akhirnya seseorang tidak tahan dan memutuskan untuk korupsi pun, itu adalah hal yang sulit dilakukan. Perlu taktik, perlu usaha lebih,” kata Lita lalu tersenyum.

dibaca oleh: 3111 pengunjung