Azazil, Perjalanan Batin Mencari Tuhan

Meskipun di kovernya tertulis "The Arabic Da Vinci Code," jangan membayangkan adegan kejar-kejaran yang menegangkan ala Profesor Langdon. Sebaliknya, buku ini berisi solilokui atau perenungan dan pengakuan seorang rahib yang hidup di abad kelima Masehi, yang tidak henti-henti mempertanyakan keimanannya sendiri. Mungkin persamaan yang dimaksud adalah keberanian penulis, Prof. Dr. Youssef Ziedan, untuk mempertanyakan beberapa hal yang selama ini menjadi keniscayaan dalam agama Kristen. 

Penulis mengambil sudut pandang dramatis dengan memposisikan diri sebagai penerjemah yang menemukan tiga puluh lembar manuskrip rahasia berisi pengakuan seorang rahib bernama Hypa. Dalam pengakuannya, Hypa mengatakan bahwa manuskrip berisi perjalanan hidupnya tersebut ditulis atas desakan Azazil, sang Raja Iblis. Azazil memaksanya mengungkapkan seluruh rahasia yang selama ini terpendam, agar Hypa memperoleh kedamaian jiwa sebelum meninggalkan dunia.

"Apakah aku akan meneruskan perjalanan ke Yerusalem agar bisa bersentuhan langsung dengan asal muasal agama ini di sana? Atau ke timur jauh hingga mencapai asal muasal alam semesta? Atau lebih baik menyelam di kedalaman batinku sendiri hingga bisa sampai kepada Tuhan?"

Hypa sebenarnya tidak meniatkan diri untuk menjadi rahib, namun keadaan membawa dia memasuki biara pertamanya di Ekhmim, setelah ayahnya dibantai oleh kaum Kristen yang menuduh dia menyembah berhala. Ironisnya, ibunya sendiri yang mengadukan sang ayah dan kemudian menikahi pimpinan kelompok yang membantai suaminya.

Kegelisahan yang selalu membebani jiwanya membawa Hypa berkelana dari satu kota ke kota lain, dari satu biara ke biara lain untuk mencari Tuhan, sambil memperdalam ilmu sebagai tabib, yang merupakan minat terbesarnya.

Terlepas dari kecintaannya kepada kasih Kristus dan ajarannya, Hypa berkali-kali harus menyaksikan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan para pengikut Kristen terhadap orang-orang yang dianggap berseberangan dengan keyakinan mereka. Apalagi pada zaman itu, pertentangan antara ilmu pengetahuan dan gereja begitu mengemuka. Pembantaian Hypatia (perempuan ahli filsafat dan matematika yang sangat dia kagumi) yang terjadi di depan matanya makin mengguncang jiwa si rahib dan sejak itu dia berganti nama menjadi Hypa (nama aslinya tidak pernah dia sebutkan). Pembantaian keji itu direstui oleh Uskup Kyrellos, uskup Alexandria yang berpandangan puritan dan mengharamkan ilmu falak, matametika, hukum, dsb, karena menurut dia semua sudah dijelaskan dalam Alkitab.

Pergolakan batin Hypa diperparah oleh kenyataan bahwa dia hanyalah manusia biasa yang tak sanggup berpaling dari kenikmatan duniawi. Sementara dia menyiksa diri dengan berpuasa dan hidup sederhana seperti layaknya seorang rahib, nafsu membuat dia terjatuh dua kali dalam percintaan dengan dua wanita, Oktavia dan Martha. Saat Martha meminta dia untuk menikahinya, Hypa mengutip Injil Matius yang menyebutkan bahwa menikahi janda adalah zina. Padahal sebelumnya mereka sudah berhubungan badan!

Kemunafikan yang terus berulang itu membuat Hypa selalu didera rasa bersalah dan akhirnya menuliskan pengakuan dosa atas desakan Azazil. Tapi benarkah Azazil yang menggodanya? Atau Azazil hanya sosok yang dicari-cari untuk membenarkan kejahatan yang dilakukan manusia? Mengapa pula selalu ada pertentangan di antara gereja, dan mengapa semua orang yang sekarang dianggap bid'ah dalam agama Kristen tadinya adalah tokoh yang dihormati dan dimuliakan?

Bagi saya pribadi, tidak mudah menggeluti novel dengan kalimat-kalimat panjang yang puitis ini. Namun kisah memikat yang disajikan penulis membuat saya betah membacanya, meskipun harus pelan-pelan agar dapat memaknai pesan di dalamnya. Dalam hal ini saya sangat terbantu oleh penerjemahan yang sangat apik dari M. Aunul Abied Shah, seorang kandidat master dalam bidang Teologi dan Filsfat Islam Universitas Al-Azhar. Novel seperti ini memang sudah selayaknya digarap oleh orang yang kompeten di bidangnya agar tidak terjadi kekeliruan makna. Apalagi Gereja Ortodoks Koptik Mesir telah memvonis novel ini sebagai "buku paling berbahaya bagi keimanan Kristen."

Tapi saya yakin, mempelajari sejarah tidak pernah berbahaya. Meskipun harus 'melalui' tangan Azazil. 

Detail Buku
Judul : Azazil, Godaan Raja Iblis
Penulis : Youssef Ziedan
Penerjemah : M. Aunul Abied Shah
Penyunting : M. Irfan
Penerbit : Serambi
Tebal : 574 halaman
Cetakan : I, Januari 2010

dibaca oleh: 2475 pengunjung