Jumpalitan meraih mimpi ...

ngarang : Margaretha Astaman


Penyunting : Jie effendie 
Penyelaras aksara : Ida wajdi 
Halaman : 231
Penerbit : Penerbit Atria 


“ Mata kita melihat warna yang dipancarkan oleh tiap materi, sedangkan cahaya matahari yang memberi semua warna, justru terlihat putih. Seperti hidup, sifat yang kita lihat dari seseorang, belum tentu adalah warna yang sebenarnya. Kadang justru berlawanan total “ 

Kalimat di atas adalah salah satu quote yang saya sukai, dan menyadarkan saya akan perilaku dan perlakuan saya terhadap orang-orang disekitar saya. 

Membaca buku ini, bagi saya adalah sebuah hiburan dan memberikan motivasi, karena buku ini berceritakan tentang bagaimana kerasnya perjuangan seorang Marella untuk mewujudkan mimpi terbesarnya, yaitu berlayar dengan kapal pesiar, yang harus menunggu sampai 15 tahun, untuk menjadi kenyataan, walau dengan cara yang unik.

 
Cikal bakal mimpi ini mulai terwujud ketika dia mengirimkan foto romantis bersama mantan pacarnya, kepada panitia penyelenggara lomba wisata mewah di atas kapal pesiar. 
Hambatan demi hambatan dimulai sejak diumumkannya Marella sebagai pemenang lomba, dimana hadiah harus diambil oleh pasangan didalam foto tersebut. 


Kekocakan dan kekonyolanpun dimulai, saat Marella mencari Jonas, sang mantan pacar, diawali dengan cara mencari di fesbuk, yellow pages sampai ngitarin komplek perumahan yang disinyalir tempat sang mantan tinggal. Ajaibnya, setiap rintangan yang dihadapi Marella, dapat dia lalui dan membuahkan hasil, walau harus sampai berdarah darah dan babak belur, tapi satu yang wajib dicontoh dari seorang Marella, her spirit, her energy, her optimism.

 
Sampai pada saat Marella harus dipulangkan ke Indonesia secara paksa beserta Jonas dari wisata kapal pesiarnya, dan dihadapkan pada keadaan yang semakin rumit ketika tiba di Jakarta karena menghadapi berita yang kurang menyenangkan yang disebarkan oleh Kiera Larasati sang Model yang juga adalah mantan pacar Jonas yang telanjur sakit hati dengan sikap dan perlakuan Marella. Tapi Marella menghadapinya dengan gaya sportif, terbukti saat dia harus membuat pernyataan permintaan maaf yang harus dimuat di tiga media cetak, walau adakalanya menghadapi permasalahan yang lain masih menganut hukum kuno, mata bayar mata, gigi bayar gigi, mimpi bayar mimpi, dan acara balas dendampun berlangsung. Itulah Marella yang sangat manusiawi. 

Adapun ending dari cerita ini, seperti kebanyakan cerita romantis, pastinya happy ending, walau saya sempat nggak yakin karena menuju beberapa bab terakhir, gelagat cerita yang happy ending, kurang terlihat. But, trala…. saya puas dan bisa tersenyum bahagia, membaca adegan romantis nan kocak dan menghibur. 

Secara keseluruhan, buku ini menjadi must have book untuk saya, karena dari cerita terasa ringan, menyenangkan, menghibur dan mudah dicerna karena bahasa yang ditampilkannyapun menggunakan bahasa yang saya gunakan sehari-hari tanpa mengurangi keasikan dari buku itu. Beberapa kata plesetan dan parodi pun bertebaran, menambah isi cerita ini semakin me”masa kini”. 

Buku ini mengajarkan kita bagaimana agar selalu optimis dalam meraih mimpi-mimpi yang kita punya, karena akan banyak sekali jalan untuk mewujudkannya walau itu dengan cara teraneh sekalipun. Disamping itu buku ini juga mengajarkan kita agar tidak secara serampangan menilai seseorang, hanya dilihat dari apa yang bisa kita lihat dari dia. 

Namun saya sedikit merasa terganggu dengan hadirnya ilustrasi didalam buku, walau jumlahnya tidak terlalu banyak. Bagi saya membaca sebuah novel berbeda dengan membaca komik, walau mungkin maksud dari ilustrasi tersebut hanya sebagai pemanis dan memudahkan kita untuk menggambarkan apa yang ingin ditampilkan oleh cerita. 


Tapi bagi saya, itu sama dengan membatasi imajinasi saya untuk membayangkan dan menuangkan cerita itu kedalam ilustrasi menurut versi saya, karena saya sudah disuguhkan duluan dengan ilustrasi dari buku itu. 

Rasanya tidak sabar buat saya untuk membaca karya Margie yang fresh selanjutnya ^_^ 

dibaca oleh: 1182 pengunjung