Pamuk dan Istanbul

BUKU ini adalah memoar seorang peraih nobel bidang sastra tahun 2006, Orhan Pamuk, kelahiran Turki. Dalam memoarnya, Pamuk banyak berkisah tentang dirinya—seperti keluarga dan cinta pertamanya—dan tempat kelahirannya yang sekaligus menjadi judul buku ini, Istanbul. Ia mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya di Istanbul antara 1950 hingga 1970-an.


Ferit Orhan Pamuk, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Istanbul pada 7 Juni 1952. Ia terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang makmur. Ayahnya adalah direktur utama pertama IBM Turki. Ia kuliah di Universitas Teknik Istanbul jurusan Arsitektur. Namun, ia berhenti setelah tiga tahun kuliah dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis sepenuh waktu.


“Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?” Ujar sang ibu suatu ketika menyarankan Pamuk. Pamuk mengakui bahwa dirinya dan Istanbul sudah tidak bisa dipisahkan. Istanbul adalah takdirnya, karena kota tersebut telah menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Pamuk dan kota Istanbul telah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


Pamuk berbeda dengan para penulis dunia lainnya semacam Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, dan V.S. Naipul. Mereka adalah penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antarbahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaaan akar. Oleh karena itu, Inspirasi Pamuk hanyalah kota Istanbul, yang sudah dikenal dengan detail. Maka, tak heran dalam memoarnya ini pula ia banyak mengulas Istanbul. 


Salah satu yang diulas oleh Pamuk mengenai Istanbul adalah sisi kemuramannya alias huzun. Baginya, orang boleh bangga dengan kemegahan Turki yang dibangun pada masa Kesultanan Usmani (Ottoman), tapi saat ini di mana Kesultanan Usmani sudah ambruk, Istanbul tak lain hanyalah kota miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi Pamuk, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. 


Karena pandangan sinisnya atas Istanbul (umumnya Turki) baik melalui karya-karya maupun wawancaranya, Pamuk menuai kritikan. Banyak orang menanyakan mengapa ia sering mengkritik Turki dari sisi negatifnya. 


Pamuk Sebagai Penulis 


Meski tidak banyak membicarakan perjalanan kepenulisannya, dalam memoarnya tersirat embrio Pamuk akan menjadi penulis besar. Berawal dari perpustakaan ayahnya, pada usia 17 tahun ia mulai mencurahkan waktunya untuk membaca dan melahap habis buku-buku yang ada dalam perpustakaan tersebut. Pada 1970, saat berusia 18 tahun, dia mulai menulis puisi.Menurut pengakuannya, Pamuk sangat menyukai buku-buku puisi yang ramping dan kusam dari para penyair yang dikenal di Turki sebagai bagian dari gelombang pertama tahun 1940 hingga 1950 dan gelombang kedua tahun 1960 sampai 1970. Pamuk kemudian menulis puisi-puisi dengan cara yang sama dengan mereka. 


Semenjak tahun 1970, Pamuk menambah koleksi perpustakaan keluarganya. Terutama buku-buku yang berkaitan dengan bangsa Turki. Membaca buku-buku yang terkait Turki membuka pikirannya. Sejumlah pertanyaan selalu menggelayut dalam otaknya, seperti mengapa Turki begitu miskin, kumuh, suram, dan kacau balau. Menurutnya, adalah benar bahwa orang seharusnya memandang rendah dirinya karena tak memikirkan apa pun kecuali memikirkan negerinya sendiri dan gagal melihat hubungan antara negerinya dengan bagian dunia yang lain. Semenjak itu, ia mulai serius menulis novel yang bersetingkan Turki. 


Walhasil, buku ini patut dibaca oleh siapa saja (seperti penulis, sosiolog, dan antropolog), terlebih yang mau mengenal lebih jauh siapa Orhan Pamuk dan negeri Turki (baca: Istanbul).[]


M. Iqbal Dawami, 

Penikmat teh dan gogodoh 

dibaca oleh: 951 pengunjung