Membangun Dialog Islam dan Kristen

Judul Buku: Agar Umat tak terlindas zaman
Oleh : Muhammadun As.

Agar Umat tak Terlindas Zaman; Dialog Antarperadaban Islam-Kristen, Murad W Hofmann, Serambi Jakarta, I, Januari 2006, 324 halaman
TESIS Samuel P Huntington dalam The Clash of Civilization menempatkan peradaban Barat (Kristen) dan Timur (Islam) berhadap-hadapan secara konfrontatif. Tesis 'angker' ini telah memicu berbagai pergolakan dunia. Kasus pelecehan karikatur Nabi Muhammad dalam majalah Denmark, misalnya, tidak lain adalah mata rantai konfrontasi yang tidak kunjung usai.


Fenomena teroris sering kali dialamatkan Barat kepada Islam. Hal itu menjadi bukti yang semakin mengukuhkan tesis Huntington bahwa Barat--didominasi Kristen--dan Timur--didominasi Islam--selalu menghadirkan pertunjukan sejarah kelam yang panjang.


Jauh sebelum Huntington mengeluarkan tesisnya, Perang Salib (1099-1291) antara kekuatan Eropa (Kristen) melawan umat Islam di bawah imperium Bani Abbasiyah memperlihatkan Barat dan Timur menjadi musuh bebuyutan sejarah yang panjang. Sebuah sejarah yang selalu menjadikan kaum kristiani dan muslim yang tidak berdaya sebagai korban hasrat dan syahwat kepentingan tak kunjung usai.


Kebengisan dan keganasan syahwat kepentingan elite agamawan kedua belah pihak telah menghadirkan pertunjukan peradaban dunia secara suram dan naif. Kondisi itu selalu menghadirkan kegelisahan para pemuka agama dan pemikir yang concern akan terciptanya perdamaian dunia.


Buku Agar Umat tak Terlindas Zaman; Dialog Antarperadaban Islam-Kristen karya pemikir Barat Murad W Hofmann ingin memberikan concern terhadap upaya membangun jalan dialog antara peradaban Barat dan Timur.


Bagi penulis, jika kedua belah pihak mampu mewujudkan semangat dialog peradaban secara kreatif maka memungkinkan terjadinya babak baru sejarah peradaban dunia, antara Kristen, Islam, serta agama lainnya seperti Buddha, Hindu, Konghucu, dan lain sebagainya.


Akan tercipta kekuatan besar yang menyatukan masyarakat dunia sebagai sebuah kesatuan yang mengedepankan dialog dan kerja sama. Namun kalau masyarakat dunia gagal mewujudkan impian itu maka tinggal menunggu bencana besar.


Kaum Kristen, Islam, dan berbagai agama lain akan saling memusuhi, mencerca, menghardik, dan membantai. Sangat mungkin akan terjadi Perang Salib jilid dua yang akan mengakhiri superioritas kedua lintas peradaban. Yang muncul adalah mereka yang memanfaatkan kepentingan di tengah kecamuk perang.


Penulis berpendapat perlu grand design atau kerangka besar untuk mewujudkan dialog tersebut. Yakni, bagaimana dialog itu dapat lahir dari dua sisi sekaligus; kaum agamawan dan kaum negarawan.


Kaum agamawan akan bertindak sebagai juru khotbah yang meluruskan kembali pemikiran sesat umat yang masih memandang satu sama lain sebagai the others. Meluruskan ajaran agama agar umat tidak lagi menggunakan dalil-dalil agama sebagai alat legitimasi atas berbagai tindak kekerasan dan kesewenangan.


Sedangkan negarawan sebagai aktor politik bertugas menjembatani pertemuan kedua agamawan dan negarawan lainnya untuk duduk bersama merumuskan kebijakan format peradaban di masa depan.


Para negarawan Barat dan Timur harus mampu mengikis syahwat politiknya, bahkan harus dikubur dahulu, agar agenda pertemuan kedua kutub peradaban tercipta.


Kemampuan kedua poros itu, menurut penulis sangat ditunggu umat manusia di planet bumi ini. Di tangan keduanya dipertaruhkan pencerahan dunia. Karena kalau mampu tercipta dialog maka semua korban peradaban dunia akan mampu bersatu membangun dialog secara sinergis. Kalau sampai gagal, berarti manusia tinggal menunggu saja kegelapan tatanan dunia.


Meski demikian, bagi penulis, tugas berat tersebut harus tetap diemban oleh seluruh umat manusia, khususnya umat Kristen dan Islam. Terlebih bagi Indonesia, gagasan dialog yang diusung dalam buku sangat strategis untuk diterapkan di tengah krisis ketidakpercayaan terhadap sesama. Kemampuan kita bangsa Indonesia untuk memulai dialog akan menjadi cermin bagi bangsa-bangsa lain dalam mewujudkan terciptanya jalan dialog antarperadaban tersebut.

Muhammadun AS, penggiat Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta
.

dibaca oleh: 1775 pengunjung