"Berperang Demi Tuhan" Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi.

Karen Armstrong merupakan salah seorang pengkaji agama terkemuka asal Inggris. Setelah mengabdi selama tujuh tahun sebagai biarawati Katolik Roma yang pada akhirnya gagal menemukan "Tuhan" dalam kesalehan sistem Papal, Armstrong meninggalkan gereja tahun 1969 dan meneruskan studi di universitas Oxford. Beberapa karyanya tercatat sebagai best seller versi New York Times. Di antaranya: The Gospel According to Woman (1987), Holy War (1991), Muhammad; A Biography of the Prophet (1992), dan A History of God (1993).  


The Battle for God (Berperang Demi Tuhan) adalah kelanjutan dari karya Armstrong sebelumnya: A History of God (Sejarah Tuhan). Kedua karya ini saling memiliki keterkaitan. Dalam Sejarah Tuhan, Armstrong mencoba mendeskripsikan usaha pencarian Tuhan oleh para pemeluk agama sawami selama lebih dari 4.000 tahun. Sedangkan Berperang Demi Tuhan memaparkan fenomena fundamentalisme dalam tiga agama monoteistik: Kristen, Yahudi, dan Islam. Penelusuran Armstrong terhadap sejarah ketiga agama besar ini sepanjang perubahan yang dimulai dari masa pencerahan Eropa (renaissance, Aufklä²µng) menunjukkan bagaimana fundamentalisme pada akhirnya muncul sebagai reaksi logis yang melawan ide-ide modernisme.


Belakangan ini, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktifitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Pembunuhan perdana menteri Yitzak Rabin, tragedi 11 September di Amerika, bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya datang dari beragam kepercayaan, mereka memiliki satu karakteristik umum: over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.


Di sinilah kemudian, dalam pengamatan penulis, muncul pertarungan berbagai identitas budaya. Pada satu sisi ada upaya untuk menjadikan tradisi jilbab sebagai penegasan identitas yang homogen, dan di sisi lain ada yang melihat berjilbab sebagai praktik sosial yang di dalamnya ada proses produksi serta reproduksi makna, yang akhirnya menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi dan struktur sosial yang membentuknya. Pada wilayah inilah sebenarnya telah terjadi pergeseran makna dalam berjilbab; antara sebagai identitas religius, tradisi, ideologi, dan juga sebagai simbol resistensi kultural. Pergeseran makna berjilbab kebentuk identitas yang plural tampaknya bukanlah sesuatu yang berdiri begitu saja. Ada kekuatan besar yang juga sangat menentukan, yakni globalisasi. Globalisasi dengan berbagai kekuatan yang ada di dalamnya, ternyata mampu menjadikan jilbab yang semula hanya identitas keberagamaan menjadi multi-identitas.


Fundamentalisme merupakan salah satu fenomena abad 20 yang paling banyak dibicarakan. Fundamentalisme selalu muncul di dalam setiap agama besar dunia. Tidak hanya Kristen dan Islam, fundamentalisme juga terdapat pada agama Hindu, Budha, Yahudi, Konfusianisme.


Belum ada definisi yang jelas mengenai istilah "fundamentalisme". Pada mulanya, istilah ini dipakai oleh kaum protestan Amerika awal tahun 1900-an untuk membedakan diri dari kaum protestan yang lebih liberal. Sajak saat itu, istilah "fundamentalisme" dipakai secara bebas untuk menyebut gerakan-gerakan purifikasi (pemurnian ajaran) yang terjadi di berbagai agama dunia. Kendati demikian, semua gerakan fundamentalisme memiliki pola-pola tertentu. Fundamentalisme merupakan mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang muncul sebagai reaksi atas krisis yang mengancam (Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, 1991)


Karakter utama buku ini adalah klasifikasi Armstrong atas dunia ke dalam dua dikotomi: mitos-logos dan konservatif-modern.


Manusia mengembangkan dua cara berpikir dan memperoleh pengetahuan. Dalam buku Devotional Language, Johannes Sloek menyebutnya dengan mitos dan logos. Mitos adalah pengetahuan yang bersifat mistis, memiliki obyek abstrak-supralogis, tidak berdasarkan fakta, dan ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa. Mitos tidak bisa ditunjukkan dengan bukti-bukti rasional. Sedangkan logos sebaliknya. Ia adalah pemikiran rasional, pragmatis, dan ilmiah. Logos terkait dengan fakta-fakta dan realitas eksternal sehingga dapat dibuktikan secara empirik.


Menurut Armstrong, dahulu agama menggunakan kedua elemen, baik mitos maupun logos untuk menciptakan struktur sosial kehidupan masyarakat yang lengkap. Mitos dan logos sama-sama penting. Tidak ada yang lebih dominan dari dua hal yang saling melengkapi ini. Logos ada dalam hukum dan kepemerintahan, sementara mitos memenuhi tiap sudut relung jiwa manusia. Kendati demikian, mitos dianggap lebih utama karena berkaitan dengan sesuatu yang abadi.


Tapi, semenjak renaissance, logos mulai mendominasi mitos. Pencapaian luarbiasa dalam bidang sains dan teknologi merubah pikiran orang-orang Eropa. Euforia kesuksesan sains menyingkirkan mitos dan menjadikannya hanya sebagai takhayul belaka. Pada akhirnya rasionalitas menjadi satu-satunya sarana mencapai kebenaran.


Dengan kematian mitos, agama menjadi tak bermakna. Dan para agamawan tenggelam dalam kehampaan spiritualitas. Ruang kosong yang ditinggalkan mitos melahirkan fundamentalisme yang notabene adalah pemberontakan "hantu" mitos terhadap agresivitas tanpa kenal batas yang dilakukan logos.


Dikotomi kedua, konservatif versus modern. Kesimpulan menarik diungkapkan oleh Issa J. Boullata. Menurutnya, kekuatan tradisi, atau "semangat konservatisme" dalam bahasa Karen Armstrong, berorientasi ke arah masa lampau dengan mengacu kepada model internal. Kejayaan bagi kaum konservatif dapat diraih jika mengambil uswatun hasanah (preseden baik) dari pengalaman terdahulu karena masa lalu memberikan jaminan kesuksesan yang telah terbukti. Di lain pihak, kekuatan modernitas yang berorientasi ke arah masa depan, menggunakan model eksternal sebagai rujukannya. Kemajuan diraih melalui upaya kreativitas dan progresivitas yang dilandaskan pada nilai-nilai rasional.


Kim Allen mencatat, kesalahan paling fatal dari dikotomi Armstrong terletak pada logika yang ia gunakan. Armstrong menyimpulkan sains sebagai murni logos, murni modern. Ia memuji orientasi ke depan sains dan penerimaannya akan ide-ide baru. Pada tahap ini, Armstrong benar. Tapi, hanya seorang peneliti yang naiflah yang mengabaikan kenyataan bahwa sains memiliki komponen konservatif yang kuat, yaitu pandangan adanya kebenaran mutlak yang abadi, tak berubah, dan telah sempurna semenjak awal penciptaan (Kim Allen, 2000). Sains bersandar kepada aturan-aturan matematis yang kaku dan tidak dapat diinterpretasikan kembali seiring perjalanan waktu.


Armstrong memaksa sains memainkan peran stereotipikal yang secara diametris bersifat oposan terhadap agama. Sebelumnya, agama dan sains merupakan dua komponen utama yang tak terpisahkan dalam kepercayaan masyarakat. Baru beberapa abad kemudian, orang-orang mulai mengklaim bahwa sains dan agama bertentangan—yang menurut sebagian orang, pernyataan seperti itu adalah salah kaprah.


Dikotomi Armstrong sendiri menempatkannya pada posisi dilematis. Armstrong menjelaskan bahwa pencerahan Eropa melatarbelakangi perpindahan paradigma dari konservatif ke modern sekaligus menghapus mitos dari sistem sosial masyarakat Barat. Dengan membagi dunia ke dalam dua dikotomi, Armstrong menghabiskan berlembar-lembar halaman bukunya hanya untuk "mengeksploitasi" sejarah agar sesuai dengan asumsinya semula. Maka tidak mengherankan jika penjabaran Armstrong terkesan "terlalu dipaksakan". Menyingkirkan sebagian besar fakta sejarah dengan tujuan untuk mendukung pendapatnya tentang dikotomi mitos-logos dan konservatif-modern.


Usaha Armstrong ini justru menunjukkan bahwa dirinya sendiri adalah seorang fundamentalis. Tidak ada seorang fundamentalis yang tidak tertarik kepada dikotomi seperti ini. Problemnya bukan pada dunia, melainkan terletak pada kategorisasi Armstrong. Agama dan sains adalah dua hal yang sangat kompleks. Meskipun dalam beberapa aspek terdapat perbedaan, keduanya sama-sama merupakan sesuatu yang terlalu sederhana jika dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.


Dalam komentarnya, An Ex-Nun in Search of God; but Biblically Non The Wisher, profesor Arthur Noble mengkritik sikap tidak fair Armstrong. Pemikiran Armstrong cenderung bias meskipun telah melepaskan statusnya sebagai seorang biarawati. Kontribusi terakhirnya dalam perdebatan keagamaan ini, Berperang Demi Tuhan, justru mendukung image tentang infalibilitas (ke-maÂ'shum-an, kondisi tidak bisa bersalah) Gereja Katolik Roma. Keberhati-hatiannya ketika menjelaskan bagaimana fundamentalisme berakar dan berkembang pesat dalam banyak agama besar dunia tidak disertai dengan usaha mengkritik infalibilitas kelompok fundamentalis Katolik Roma.


Armstrong memang mengutuk kaum fundamentalisme Kristen di Amerika yang melontarkan makian sangat tajam terhadap Gereja Katolik Roma. Secara khusus, Ia menyorot gerakan fundamentalisme "televangelis", kelompok puritan, dan calvinisme, tetapi mengapa ia justru mengabaikan sejarah kelam gerejanya sendiri dan bahkan melukiskan image tentang almamater-nya itu (Gereja Katolik Roma) dengan gambaran yang positif sepanjang buku ini.


Terlepas dari kekurangan yang terdapat didalamnya, Berperang Demi Tuhan layak untuk kita apresiasi. Tema besar fundamentalisme yang diusungnya memakai semangat dan sudut pandang baru. Secara cermat dan brilian, Karen Armstrong menunjukkan kepada kita bagaimana dan mengapa kelompok-kelompok fundamentalis muncul dalam berbagai agama dunia, serta apa sesungguhnya tujuan mereka.


Dengan begitu kita bisa mencoba bersikap lebih obyektif terhadap kaum fundamentalis. Tidak sekedar melihat mereka sebagai gerakan ortodoksi, puritan, atau revivalis an sich, melainkan memberi penilaian sebagaimana Armstrong lakukan. “Fundamentalisme ternyata merupakan gerakan yang kompleks, inovatif, dan modern.”


Jakarta, 21 Maret 2002


* Mu'adz D'Fahmi, Mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Presidium Fascho Learning Center, IMM Cabang Ciputat.

dibaca oleh: 5167 pengunjung