Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati Condividi

-Luckty Giyan Sukarno-


Vicki Myron merupakan pustakawan yang bekerja di Perpustakaan Umum Spencer, Lowa. Lulus dari Asosiasi Perpustakaan Amerika di Sioux City, Lowa pada musim gugur 1988 sebagai angkatan pertama.

Suatu hari dia menemukan seekor kucing di kotak pengembalian buku. Badannya kurus kering, sehingga terlihat tulang-tulang iganya. Kucing berwarna jingga itu akhirnya di urus dan di pelihara. Dari sinilah cerita kucing yang mengubah sebuah kota kecil.

Dewey Readmore Books itulah nama panjangnya. Dewey membaca lebih banyak buku. Sepotong nama untuk para pustakawan yang hidup dengan mengikuti system decimal Dewey. Sepotong untuk anak-anak. Sepotong lagi untuk semua orang.

Dewey terasa istimewa bukan karena dia pernah melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan karena dia sendiri memang istimewa.

Setiap pengunjung setia perpustakaan, setiap orang, merasa memiliki hubungan istimewa dengan Dewey. Dia membuat semua orang istimewa.

Senyum mereka yang mengembang saat mereka tiba di perpustakaan, kegembiraan ketika mereka mencari dan memanggil-manggil namanya, serta keceriaan pada saat menemukan kucing itu.

Selama sembilan belas tahun hidupnya, Dewey mampu mempengaruhi perpustakaan bahkan sebuah kota. Bayangkan, pengunjung perpustakaan yang awalnya hanya 63.000 per tahun menjadi lebih dari 100.000.

Dewey juga masuk ke acara-acara, radio, televise, surat kabar, bahkan dibuat film dokumenternya hingga ke Jepang. Diataranya adalah; A T ale of Two Kittens, The National Library Cat Society, Puss in Books dan lain-lain.

Quotes yang berbau dunia perpustakaan:
Perpustakaan itu bukan gudang. Melainkan tempat penting untuk berkumpulnya masyarakat. Kami mempunyai sumber-sumber untuk lowongan pekerjaan, ruang rapat, computer.
Bukankah menyenangkan sekali jika kita punya perpustakaan yang dapat kita banggakan?

Mungkin perpustakaan memang dapat membuat perubahan.
Perpustakaan bagai oase. Mereka menikmati waktu di sana: mereka diterima dan mendapat suntikan semangat lagi.

Seperti kebanyakan orang, kukira pekerjaan sebagai pustakawan itu hanya memberi cap tanggal pengembalian buku pada bagian belakang buku.
Aku menjadi orang yang bercita-cita setinggi langit dan mulai melihat perubahan yang dilakukan oleh perpustakaan yang baik terhadap masyarakat.
Dalam dunia perpustakaan, yang diajarkan melingkupi demografi, fisiografi, psikologi, penyusunan anggaran dan analisis bisnis, serta metodologi pemprosesan informasi. Mempelajari hubungan masyarakat. Menganalisis kemasyarakatan, yang isinya memprediksi keinginan pengunjung.

Seorang pustakawan yang baik selalu menggali lebih dalam. Apa nilai-nilai yang dianut masyarakatmu? Dari mana semua itu berasal? Bagaimana dan mengapa nilai-nilai itu berubah? Seorang pustakawan yang baik mengembangkan filter di dalam benaknya untuk menangkap dan memproses informasi.

Perpustakaan yang hebat itu melayani. Perpustakaan itu membaur dengan kehidupan masyarakat, dalam arti tidak tergantikan. Perpustakaan yang hebat itu tidak terlihat oleh siapa pun karena selalu ada dan selalu dibutuhkan.
Dahulu, tugas pustakawan yang menangani administrasi meliputi mengarsip dan menjawab pertanyaan-pertanyaan referensi. Sekarang, pustakawan harus menguasai computer dan memasukkan data.

Orang-orang yang langka itu adalah para pustakawan, penjual mobil, pelayan yang memberikan pelayanan sempurna karena mengikuti prinsipnya, orang-orang yang bekerja melebihi yang dituntut oleh pekerjaannya karena mereka mencintai pekerjaannya.

Ada juga kata-kata bijak:
Kadang-kadang sebuah keputusan dapat mengubah hidupmu dan keputusan itu belum tentu hasil keputusanmu sendiri.
Setiap manusia memiliki barometer penderitaan dengann ukuran satu sampai sepuluh. Tidak seorang pun akan berubah, sebelum penderitaan mereka mencapai angka sepuluh. Sembilan belum cukup. Pada peringkat kesembilan, kau masih takut. Hanya peringkat kesepuluh yang akan membuatmu tergerak. Namun, kapan kau berada di sana, hanya kau yang tahu. Tak seorang pun dapat membuat keputusan untukmu.

Saat seorang remaja mencapai umur lima belas tahun, kau menjadi orang paling bodoh di dunia. Tapi setelah dia berumur dua puluh dua, kau menjadi pandai lagi.

Cintamu terhadap sesuatu baru terasa setelah sesuatu itu terlepas dari tanganmu.

Ketika kau tidak lagi berminat mengejar ambisi dan sudah puas dengan kondisimu, dunia yang akan mengejarmu.
Ibuku membesarkanku agar aku memiliki ketegaran. Dia tahu, tidak ada janji-janji dalam kehidupan. Saat kehidupan berjalan lancar, tidak berarti faktor-faktor tersebut berjalan dengan mudah.
Jika kau mulai menua, hal-hal yang dulu dianggap mudah, kini mendadak tidak dianggap sederhana lagi.

Begitulah hidup. Sering kita lolos dari bilah traktor. Kita memar, terluka. Kadang bilah-bilah itu meninggalkan luka dalam. Orang-orang yang beruntung dapat lolos dengan sedikit lecet, sedikit berdarah, meskipun bukan itu yang paling penting. Yang paling penting, kita memiliki seseorang yang akan merengkuh kita, memeluk erat-erat dan menghibur bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Buat mahasiswa ilmu perpustakaan, kita dapat mengambil hikmah dari kisah Dewey ini. Kucing saja bisa mengubah perpustakaan, bahkan kota. Bagaimana kita sebagai manusia?? Jangan mau kalah dengan kucing C:


http://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-dewey-kucing-perpustakaan-kota-kecil-yang-bikin-dunia-jatuh-hati/211686197692MKS

dibaca oleh: 2005 pengunjung